Embun Beku Kembali Selimuti Puncak Merbabu, Suhu Capai Minus 1 Derajat

Maya K. · 3 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Embun Beku Kembali Selimuti Puncak Merbabu, Suhu Capai Minus 1 Derajat

Gambar atau konten salah?

Fenomena embun beku kembali menyelimuti puncak Gunung Merbabu pada Rabu pagi, 15 Juli 2026. Meski suhu udara mulai sedikit naik dibanding hari sebelumnya, lapisan es tipis masih terlihat menutupi rumput dan permukaan lain di kawasan puncak gunung yang terletak di Jawa Tengah ini.

"Masih ada embun beku tadi pagi, tapi suhu udara sudah tidak sedingin kemarin," ujar Dian Saraswati, Humas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb).

Petugas BTNGMb yang memantau di area Pos Sabana 1 mencatat suhu udara di kawasan Puncak Merbabu masih berada di bawah 10 derajat Celcius. Catatan yang lebih ekstrem terjadi pada 10 Juli 2026 lalu. Pukul 05.30 WIB di pos yang sama, suhu udara tercatat mencapai minus 1 derajat Celcius.

Embun beku ini membuat rerumputan tampak memutih. Lapisan es tersebut mulai muncul di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung Merbabu sendiri memiliki puncak setinggi 3.145 mdpl. Semakin tinggi elevasi, semakin ekstrem penurunan suhu yang terasa.

"Embun beku mulai di ketinggian 2.000 mdpl ke atas," imbuh Dian.

Menghadapi kondisi suhu ekstrem atau yang biasa disebut fenomena mbediding, BTNGMb mengeluarkan peringatan bagi para pendaki. Ancaman utama adalah hipotermia. Sebagai langkah mitigasi, pihak taman nasional mewajibkan setiap pendaki menerapkan langkah keselamatan tertentu.

Dian merinci beberapa langkah yang harus diperhatikan. Pertama, soal manajemen pakaian dan perlengkapan. Pendaki diminta menggunakan sistem pakaian berlapis atau layering system. Tujuannya mengunci panas tubuh.

"Wajib membawa jaket hangat jenis thermal atau down jacket, balaclava sebagai penutup kepala dan wajah, sarung tangan, kaus kaki hangat, serta sleeping bag standar pendakian dan matras sebagai isolator alas tidur. Selalu siapkan pakaian ganti kering di dalam dry bag," jelasnya.

Kedua, sebelum berangkat, pendaki harus mengecek prakiraan cuaca resmi secara berkala. Pastikan juga waktu istirahat atau tidur tercukupi agar kondisi fisik tetap prima.

Ketiga, menyangkut manajemen nutrisi. Dalam suhu dingin, tubuh membakar lebih banyak kalori untuk menghasilkan panas. Dian menekankan jangan melewatkan sarapan sebelum mendaki. Bawalah logistik makanan berkalori tinggi. Minum air secara teratur agar tidak dehidrasi. Konsumsi minuman hangat saat beristirahat juga sangat dianjurkan.

BTNGMb juga memberikan tips khusus saat berkemah. Saat bermalam di camp ground, pastikan tenda terpasang kokoh dan terlindung dari terpaan angin langsung. Hindari tidur dengan pakaian basah atau lembap akibat keringat sisa pendakian siang hari.

"Pendaki juga sangat dilarang tidur dalam kondisi perut kosong karena tubuh membutuhkan energi aktif untuk menstabilkan suhu internal sepanjang malam," tambah Dian.

Sebagai bentuk komitmen terhadap keselamatan pengunjung, BTNGMb kini telah menyediakan Shelter Emergency yang terletak di Pos 3 Jalur Pendakian Suwanting. Shelter ini berfungsi sebagai pos penanganan awal dan ruang pertolongan pertama bagi pendaki yang mengalami kondisi darurat sebelum proses evakuasi dilakukan. Fasilitas darurat ini didukung sistem listrik tenaga surya, penerangan, CCTV, jaringan komunikasi Wi-Fi, serta instalasi penangkal petir.

Fenomena embun beku di Gunung Merbabu sebenarnya bukan hal baru. Setiap musim kemarau, suhu di puncak gunung kerap turun drastis, terutama pada dini hari. Namun, catatan suhu minus 1 derajat Celcius pada 10 Juli lalu tergolong ekstrem. Pendaki yang nekat mendaki tanpa persiapan matang menghadapi risiko serius, mulai dari radang dingin hingga hipotermia yang bisa berakibat fatal. Shelter darurat di Pos 3 Suwanting setidaknya menjadi jaring pengaman, meski pencegahan tetap jauh lebih baik daripada penanganan darurat.

embun bekuGunung Merbabusuhu ekstremhipotermiapendakiBTNGMbkeselamatanmbediding

Komentar

Memuat komentar...