Malam 1 Suro: Tradisi, Amalan, dan Larangan di Jawa

Wulan M. · 5 min baca · 5 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Malam 1 Suro: Tradisi, Amalan, dan Larangan di Jawa

Gambar atau konten salah?

Malam 1 Suro menjadi salah satu momen yang dianggap istimewa bagi sebagian masyarakat Jawa. Karena dianggap sebagai waktu yang sakral, banyak tradisi, amalan, dan pantangan yang masih dijalankan hingga saat ini. Malam ini bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah atau Tahun Baru Islam. Bagi sebagian orang, malam 1 Suro dimanfaatkan untuk melakukan introspeksi diri, berdoa, hingga mengikuti berbagai tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun‑turun.

Berikut ini dijabarkan amalan malam 1 Suro yang dianjurkan serta larangan yang sering dipercaya masyarakat. Simak selengkapnya.

Daftar Amalan Malam 1 Suro

  1. Membaca Doa Akhir Tahun
  2. Membaca Doa Awal Tahun
  3. Memotong Kuku
  4. Membaca Al‑Qur’an
  5. Menghidupkan Malam dengan Zikir

Membaca Doa Akhir Tahun merupakan salah satu amalan yang dianjurkan pada malam 1 Suro. Doa ini dibaca sebagai bentuk introspeksi dan permohonan ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan yang telah dilakukan selamat setahun terakhir. Doa ini biasanya dibaca setelah salat Ashar pada hari terakhir bulan Dzulhijjah hingga sebelum masuk waktu Magrib. Dalam tradisi yang berkembang, doa akhir tahun dibaca sebanyak tiga kali.

اللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Allahumma ma 'amiltu min 'amalin fî hadzihi sanati ma nahaitani 'anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ 'alayya bi fadhlika ba'da qudratika 'alâ 'uqûbatî, wa da'autanî ilat taubati min ba'di jarâ'atî 'alâ ma'shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ 'amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa'attanî 'alaihits tsawâba, fa'as'aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha' rajâ'î minka yâ karîm.

Artinya: “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang‑sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan‑Mu‑sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat‑sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai‑Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhoi di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala‑Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Membaca Doa Awal Tahun juga dianjurkan setelah memasuki 1 Muharram atau malam 1 Suro. Doa ini berisi permohonan perlindungan, keberkahan, serta petunjuk agar dapat menjalani tahun baru dengan lebih baik. Doa awal tahun biasanya dibaca setelah salat Magrib dan sering diamalkan sebanyak tiga kali.

اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Allâhumma antal abadiyyul qadîmul awwal. Wa 'alâ fadhlikal 'azhîmi wa karîmi jûdikal mu'awwal. Hâdzâ 'âmun jadîdun qad aqbal. As'alukal 'ishmata fîhi minas syaithâni wa auliyâ'ih, wal 'auna 'alâ hâdzihin nafsil ammârati bis sû'I, wal isytighâla bimâ yuqarribunî ilaika zulfâ, yâ dzal jalâli wal ikrâm.

Artinya: “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia‑Mu yang besar dan kemurahan‑Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada‑Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan‑Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada‑Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat‑Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

Memotong Kuku merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam, termasuk saat menyambut bulan Muharram. Amalan ini merupakan bagian dari menjaga kebersihan dan kerapian diri yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Anjuran memotong kuku dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW berikut:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ: الِاسْتِحْدَادُ و الْخِتَانُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ

Artinya: “Lima perkara merupakan fitrah (sesuci) yaitu, memotong bulu kemaluan, berkhitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku.”

Membaca Al‑Qur’an pada malam 1 Suro juga dapat menjadi sarana untuk menenangkan hati dan menjadikan pergantian tahun sebagai momentum memperbaiki kualitas ibadah. Membaca Al‑Qur’an dianjurkan untuk dilakukan agar dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menambah pahala.

Menghidupkan Malam dengan Zikir merupakan amalan sederhana yang dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat malam 1 Suro. Umat Islam dapat memperbanyak tasbih, tahmid, takbir, tahlil, maupun istighfar. Melalui dzikir, hati menjadi lebih tenang dan seseorang dapat lebih mengingat kebesaran Allah SWT di awal tahun Hijriah.

Dengan melakukan muhasabah, malam 1 Suro tidak hanya menjadi pergantian tahun semata, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kualitas diri, ibadah, dan hubungan dengan sesama.

Pantangan Malam 1 Suro

Malam 1 Suro tidak hanya dikenal dengan berbagai amalan, namun juga terdapat sejumlah pantangan yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Jawa. Larangan ini berasal dari tradisi dan warisan budaya secara turun‑turun bukan dari ajaran agama Islam.

  1. Tak Mengadakan Hajatan atau Pesta Besar
  2. Tak Menikah pada Bulan Suro
  3. Menghindari Perjalanan Jauh
  4. Tak Keluar Rumah pada Malam Hari
  5. Menghindari Keramaian

1. Tak Mengadakan Hajatan atau Pesta Besar – sebagian masyarakat Jawa menghindari menggelar acara besar seperti pernikahan, khitanan, atau pesta pada bulan Suro. Bulan ini dianggap sebagai waktu yang tepat untuk introspeksi diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena itu, banyak orang memilih menunda acara yang bersifat meriah hingga bulan berikutnya sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan yang dianggap sakral.

2. Tak Menikah pada Bulan Suro – selain menghindari hajatan, sebagian masyarakat juga tidak memilih bulan Suro sebagai waktu untuk melangsungkan pernikahan. Mereka meyakini bahwa menikah pada bulan tersebut dapat membawa berbagai hambatan dalam kehidupan rumah tangga. Meski demikian, kepercayaan ini merupakan bagian dari tradisi budaya dan tidak memiliki dasar khusus dalam ajaran Islam.

3. Menghindari Perjalanan Jauh – terdapat juga kepercayaan yang tidak menyarankan melakukan perjalanan jauh pada saat malam 1 Suro. Sebagian masyarakat meyakini bahwa bepergian pada malam tersebut dapat mendatangkan hal-hal yang tidak baik. Namun, jika dilihat dari sisi filosofis, pantangan ini lebih mengajarkan seseorang untuk meluangkan waktu beristirahat, merenung, dan fokus pada refleksi diri saat pergantian tahun.

4. Tak Keluar Rumah pada Malam Hari – terdapat mitos yang cukup terkenal yakni larangan keluar rumah pada malam 1 Suro. Tradisi ini lahir dari keyakinan masyarakat terdahulu yang menganggap malam 1 Suro sebagai malam yang sakral dan penuh nuansa spiritual.

5. Menghindari Keramaian – masyarakat Jawa umumnya menjaga suasana malam 1 Suro agar tetap tenang dan khusyuk. Oleh karena itu, aktivitas yang menimbulkan kebisingan atau keramaian biasanya dihindari. Hal ini sejalan dengan makna malam 1 Suro yang identik dengan perenungan diri, pengendalian emosi, serta mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa dan introspeksi.

Itulah ulasan mengenai amalan yang dianjurkan serta berbagai larangan yang masih dipercaya saat malam 1 Suro. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi pembaca.

Dengan memperhatikan amalan dan pantangan ini, masyarakat dapat menjalankan malam 1 Suro dengan penuh kesadaran, memperkuat hubungan spiritual, dan menjaga tradisi budaya yang telah diwariskan.

Malam 1 SuroamalanDoa Awal TahunDoa Akhir Tahunmemotong kukuAl‑Qur’anzikirpantangan

Komentar

Memuat komentar...