Menteri Tolak '3M', Luncurkan Bulan Pemberdayaan Perempuan
Gambar atau konten salah?
Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, mengangkat isu budaya lama yang masih mengakar di masyarakat tentang perempuan. Menurutnya, pandangan ini sudah tidak relevan dengan zaman sekarang.
Ia mengingatkan tentang istilah “3M” yang dulu sering dikaitkan dengan perempuan. “Mohon maaf masyarakat Jawa pada zaman dulu menyebut perempuan itu konco wingking yang tugasnya itu hanya tiga, 3M, masak, macak, manak, kira-kira itu,” ujarnya.
Menurut Mu'ti, 3M—masak, macak (dandan), dan manak (melahirkan)—menjadi penghambat pemberdayaan perempuan. Budaya ini masih tersebar di berbagai lapisan masyarakat, sehingga perempuan tidak diberi ruang untuk berkembang di bidang lain.
Ujarannya disampaikan dalam acara peluncuran Bulan Pemberdayaan Perempuan yang disiarkan lewat YouTube Kemendikdasmen pada Rabu, 01 April 2026. Acara ini menandai langkah awal kampanye yang akan berlangsung selama bulan April 2026.
Mu'ti juga menyoroti hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang setara. Ia tidak menutup kemungkinan masih ada stigma yang menempatkan anak laki-laki lebih prioritas. “Di mana ketika ada misalnya keluarga yang secara ekonomi tidak cukup membiayai seluruh anaknya, kemudian ada anak laki-laki dan anak perempuan. Maka pilihan biaya pendidikan itu sering kali diberikan kepada anak laki-laki dan anak perempuan sering kali tidak diberikan kesempatan dengan alasan tidak ada biaya,” ungkap Mu'ti.
Stigma tidak hanya muncul dari masalah biaya. Beberapa orang masih menganggap perempuan tidak lebih pintar dari laki-laki. “Atau sebagian lain dengan alasan karena perempuan tidak usah pinter-pinter. Nanti juga pinter-pinter pun ujung-ujungnya juga ada ‘3 Ur’ (dapur, kasur, sumur). Nah ini yang harus kita selesaikan bersama-sama,” katanya.
Mu'ti menegaskan keyakinannya bahwa kecerdasan perempuan dapat melampaui laki-laki, khususnya dalam menyerap ilmu dan pendidikan. Untuk menangkis stereotip tersebut, Kemendikdasmen mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui pendidikan.
Penataan Bulan Pemberdayaan Perempuan ini diselaraskan dengan peringatan Hari Kartini pada 21 April 2026. Selama bulan tersebut, kementerian akan menggelar serangkaian aktivitas yang bertujuan membebaskan perempuan dari batasan tradisional.
“Kami berkomitmen untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada para perempuan untuk memperoleh pendidikan dan memperoleh kesempatan mengembangkan potensi yang mereka miliki,” ujarnya.
Inisiatif ini dilaksanakan secara bersama antara Kemendikdasmen, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (KemenkoPMK), dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPA).
Dengan langkah ini, pemerintah berharap dapat mengurangi ketimpangan gender dalam pendidikan dan membuka peluang bagi perempuan untuk berkontribusi secara lebih luas dalam masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Nilai Inggris Tinggi, Anak Sulit Bicara? Natieva Kids Solusi
Agung Sulistyo: Dari Satpam Jadi Doktor UMY, Inspirasi
Media Sosial Jadi Kunci Belajar Bahasa Inggris di Sekolah
Dr Andryanto Kusmara Dapat Chevalier Palmes Académiques
Polban Buka Jalur SMBM 2026/27: Pilih Hingga 4 Program
Perubahan Media Sosial: Dari Jaringan ke Alat Politik
Berita Terbaru
Doa 1 Muharram 1448 H: Panduan Membaca Setelah Maghrib
PPG 2026: 40.902 Guru Lolos Seleksi Administrasi Di Surabaya
Australia Kalahkan Thailand, Raih Gelar Juara AFF U-19 2026
Kumpulan Doa Ketenangan Hati untuk Semua Usia Harian
Australia Juara AFF U-19 2026, Kalahkan Thailand 2-0
Tahun Baru Islam 1448 H: Harapan dan Doa Keluarga Bersama
Ronaldo Tegaskan Keyakinan Timnas Portugal 2026 Satu Piala
Sabar-Gutama & Reza Pahlevi Isfahani Raih Final Open 2026
Jadwal Puasa Muharram 2026: 1, 9, 10, 11 Muharram & Lainnya
122 Program Studi Ditutup 2026, Mahasiswa Bingung Penuh
