Misbakhun: Presiden Tidak Harfiah, Fokus Menenangkan Rupiah

Nita W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
Misbakhun: Presiden Tidak Harfiah, Fokus Menenangkan Rupiah

Gambar atau konten salah?

Mukhamad Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR, menanggapi pernyataan Prabowo Subianto tentang akyat desa yang tidak memakai dolar Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan bahwa kata-kata Presiden tidak dimaksudkan secara harfiah, melainkan sebagai upaya menenangkan masyarakat di tengah gejolak nilai tukar rupiah.

Menurut Misbakhun, konteks pernyataan tersebut muncul ketika rupiah terus tertekan terhadap dolar AS, menurun hingga sekitar Rp 17.600 per US$ 1. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan publik, sehingga Presiden perlu mengirimkan pesan yang menenangkan.

“Apa yang disampaikan oleh Pak Presiden itu adalah upaya untuk menenangkan masyarakat Jangan dibaca terlalu eksplisit. Upaya Bapak Presiden adalah menenangkan masyarakat bahwa dolar yang begitu tinggi, masyarakat diminta tenang,” kata Misbakhun saat ditemui di Kompleks DPR RI, Jakarta, pada Senin (18 Mei 2026).

Setelah rapat dengan BI Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, Misbakhun menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih aman. Ia juga menyatakan bahwa nilai tukar rupiah diperkirakan mulai menguat pada bulan Juli.

“Jangan membandingkan nilai tukar yang ada saat ini dengan nilai tukar pada saat kita menjelang krisis tahun 98. Karena komposisi struktur ekonomi kita saat ini itu berbeda sekali dengan komposisi dan struktur ekonomi Indonesia menjelang tahun 98,” pinta Misbakhun.

Ia menekankan bahwa struktur ekonomi saat ini berbeda jauh dari tahun 1998, sehingga perbandingan tidak relevan. Misbakhun menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan masa krisis moneter pada tahun 1998.

Dalam penjelasannya, Misbakhun menyebutkan bahwa Prabowo tidak sedang membenturkan masyarakat kaya dan miskin atau menutup fakta bahwa pelemahan rupiah berdampak pada harga barang. Namun, ia ingin mencegah kepanikan publik dan munculnya rumor yang dapat mengganggu stabilitas sosial dan politik.

“Kalau kemudian ada pengamat membandingkan dengan 'Oh BBM kita diimpor pakai dolar'. Ya semua orang tahu. Tapi pesan itu adalah pesan seorang pemimpin kepada rakyatnya dalam rangka menenangkan kemudian diadu dengan argumentasi teknis, ya tidak nyambung. Orang tujuannya menenangkan, untuk menjaga stabilitas ketenangan psikologis masyarakat,” bebernya.

Misbakhun menegaskan bahwa Prabowo paham bahwa melemahnya rupiah akan mempengaruhi harga bahan bakar minyak hingga pangan. Ia menilai bahwa pesan Presiden bertujuan menenangkan, bukan menutup realitas ekonomi.

“Jangan sampai di warung kopi ngomongin dolar, di warung indomie ngomongin dolar, terus di mana-mana ngomongin dolar. Terus apakah mereka benar bahwa beli indomie, beli kopi pakai dolar? Tidak kan? Ada dampaknya kepada mereka? Ya. Tapi ingat bahwa tujuan Presiden itu menenangkan masyarakat,” tutup Misbakhun.

Dalam konteks ini, pernyataan Presiden dan tanggapan Misbakhun menyoroti upaya pemerintah untuk menjaga kepercayaan publik. Keterangan tersebut menegaskan bahwa meski rupiah melemah, kebijakan ekonomi tetap stabil dan tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan.

MisbakhunRupiahDolar ASPrabowoBank IndonesiaKrisis 1998Stabilitas ekonomi

Komentar

Memuat komentar...