MPLS Sepi Murid, Sekolah Negeri Hanya Dapat 1 Siswa

Nurul H. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
MPLS Sepi Murid, Sekolah Negeri Hanya Dapat 1 Siswa

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun 2026 kembali diwarnai dengan pemandangan yang sama. Banyak ruang kelas di berbagai sekolah tampak kosong. Berdasarkan pantauan, kondisi ini terjadi hampir merata di seluruh Indonesia. Bahkan, ada satu kasus ekstrem di sebuah SMP Negeri di Bengkulu Tengah. Di sana, hanya satu orang siswa yang mengikuti MPLS. Namanya Muhammad Yuda. Ia adalah satu-satunya peserta MPLS di SMP Negeri 26 Kabupaten Bengkulu Tengah untuk tahun ajaran 2026/2027.

Kepala Sekolah SMPN 26 Kabupaten Bengkulu, Sosnaidi, mengakui bahwa pihaknya sudah berusaha keras. "Kami telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat," ujarnya. Berbagai cara sudah dicoba. Para guru dan tim penerimaan siswa baru turun langsung. Mereka melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dasar di sekitar. Mereka juga menawarkan program seragam gratis. Bahkan, mereka mendatangi rumah calon siswa satu per satu. Namun semua langkah itu belum membuahkan hasil. Jumlah pendaftar di SMPN 26 tetap rendah.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Bengkulu. Di Pulau Jawa pun sama. Di Kota Semarang, SDN Purwoyoso 01 hanya menerima tiga siswa baru. Meski begitu, sekolah tetap menggelar MPLS. Pertanyaannya, kenapa kekurangan murid di sekolah negeri terus berulang? Apakah sekolah negeri sudah bukan pilihan utama orang tua?

Berpindah ke Denpasar, kasus lain muncul. Twibbon MPLS dari SMK PGRI 5 Denpasar menjadi viral. Unggahan seorang calon siswi baru dinilai tidak etis. Foto itu ramai diperbincangkan di media sosial. Pihak sekolah langsung bereaksi. Mereka menegaskan tidak pernah mengarahkan siswa untuk berpose tidak pantas. Sekolah juga sudah meminta foto tersebut diganti.

Dampak dari viralnya kasus ini cukup berat. Siswi yang bersangkutan mengalami perundungan di media sosial. Sekolah pun memberikan pendampingan psikologis. Tidak hanya itu, Disdikpora Bali memberikan teguran kepada SMK PGRI 5 Denpasar. Mereka diminta lebih selektif dalam mengawasi konten publikasi siswa. Lantas, bagaimana kondisi siswi tersebut sekarang? Langkah apa yang akan diambil sekolah agar kejadian serupa tidak terulang?

Menjelang petang, ada topik lain yang akan dibahas. Lifestyle inflation. Ini adalah situasi di mana konsumsi seseorang meningkat seiring naiknya pendapatan. Kondisi ini banyak terjadi di kota-kota besar. Berbagai gaya hidup bisa terakomodasi selama orang tersebut mampu membayarnya. Contohnya, pindah ke apartemen yang lebih mahal. Lebih sering makan di restoran. Rutin mengikuti kelas olahraga premium. Atau mengganti gadget dan kendaraan lebih cepat dari kebutuhan. Akibatnya, ruang untuk menabung dan berinvestasi tidak bertambah. Bahkan bisa tetap stagnan.

Banyak orang berpikir kondisi keuangan akan membaik otomatis ketika gaji naik. Kenyataannya, tidak sedikit yang justru merasa uang tetap habis setiap akhir bulan. Meski pendapatan terus meningkat. Fenomena ini semakin relevan di era media sosial. Standar gaya hidup lebih mudah dibandingkan dengan orang lain. Lalu, apa jalan keluar agar tidak terjebak dalam lifestyle inflation?

Fenomena sepi murid di sekolah negeri dan kasus twibbon yang viral menunjukkan dua sisi berbeda dari dunia pendidikan saat ini. Di satu sisi, sekolah negeri di daerah kesulitan menarik siswa meski sudah berupaya maksimal. Di sisi lain, sekolah di kota besar harus berhadapan dengan masalah etika dan pengawasan konten siswa di media sosial. Keduanya sama-sama membutuhkan perhatian lebih dari semua pihak.

MPLSsepi muridsekolah negeritwibbon viralBengkulu Tengahperundunganlifestyle inflation

Komentar

Memuat komentar...