MSCI Hapus Saham HSC: DSSA & BREN Jatuh 15% dan 9% tengah

Sinta R. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 118 dibaca
Bisik.id
MSCI Hapus Saham HSC: DSSA & BREN Jatuh 15% dan 9% tengah

Gambar atau konten salah?

MSCI Capital International, penyedia indeks saham global, mengumumkan rencana menghapus saham-saham Indonesia yang masuk kategori kepemilikan terkonsentrasi tinggi (HSC).

Dengan kebijakan ini, setidaknya dua emiten akan terancam dicoret dari indeks MSCI. Kedua saham tersebut adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).

Setelah pengumuman, kedua saham mencatat penurunan tajam pada perdagangan Selasa, 21 April 2026. DSSA turun 14,98% ke Rp 2.780 per lembar, sementara BREN turun 9,47% ke Rp 5.975 per lembar.

Perdagangan kedua saham juga menunjukkan net sell yang signifikan. Investor asing menarik dana sebesar Rp 64,07 miliar dari DSSA dan Rp 52,14 miliar dari BREN.

Hari berikutnya, Rabu, 22 April 2026, koreksi masih berlanjut. DSSA berada di Rp 2.570 per lembar, turun 7,55%, sedangkan BREN berada di Rp 5.575 per lembar, turun 6,69%.

Menurut pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal April 2026, DSSA dan BREN masuk dalam kategori HSC. BREN memiliki kepemilikan terkonsentrasi 97,31% dari total saham, baik warkat maupun tanpa warkat. DSSA memiliki kepemilikan 95,76% dari total saham.

MSCI mengumumkan bahwa kedua emiten tersebut akan dihapus dari konstituen indeksnya. Hal ini diharapkan menimbulkan tekanan jual bagi saham-saham yang masuk daftar HSC di masa mendatang.

"Kategori HSC memang menjadi cermatan dari MSCI, dan dikatakan pada pengumuman pagi ini tadi, bahwa emiten-emiten tersebut akan dikeluarkan dari konstituen. Hal tersebut berarti, diperkirakan akan ada tekanan jual bagi emiten-emiten yang masuk list HSC dalam konstituen MSCI ke depannya," ungkap Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, pada Selasa, 22 April 2026.

MSCI juga menegaskan bahwa pembekuan rebalancing Mei 2026 tetap dipertahankan dan mereka akan menilai dampak reformasi pasar modal terhadap aksesibilitas investasi di Indonesia. Selain itu, MSCI akan menggunakan data pemegang saham di atas 1% untuk menyesuaikan estimasi free float dan tidak akan memasukkan data baru hingga kajiannya selesai.

"Ini langkah yang cukup tegas untuk meningkatkan kualitas indeks. MSCI ingin memastikan saham yang masuk indeks benar-benar berkualitas, bukan hanya besar secara market cap tapi juga sehat dari sisi komposisi kepemilikan," terang Reydi Octa, pada Selasa, 22 April 2026.

Dengan keputusan ini, MSCI menegaskan komitmennya terhadap kualitas indeks dan struktur kepemilikan yang sehat, sekaligus memberi waktu bagi pasar modal Indonesia untuk menyesuaikan diri dengan regulasi baru.

MSCIHSCDSSABRENBEIinvestor asingrebalancing

Komentar

Memuat komentar...