Mualaf Center Indonesia Cabut Sertifikat Mualaf Richard Lee

Fajar H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 59 dibaca
Bisik.id
Mualaf Center Indonesia Cabut Sertifikat Mualaf Richard Lee

Gambar atau konten salah?

4 Mei 2026 – Sertifikat mualaf milik Richard Lee telah dicabut oleh Mualaf Center Indonesia. Pendakwah Hanny Kristianto menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut dalam wawancara daring. Ia menegaskan bahwa satu alasan utama adalah untuk mencegah sertifikat tersebut tidak terpakai. “Alasan yang pertama saya cabutsertifikatnya adalah, saya tidak mau sertifikat yang dikeluarkan itu tidak digunakan. Faktanya sampai hari ini KTP‑nya masih Katolik,” ujarnya.

Menurut Hanny, sertifikat mualaf memiliki fungsi administratif penting. Sertifikat tersebut diperlukan untuk perubahan data kependudukan, pengurusan jenazah, dan dokumen resmi lainnya. Jika tidak digunakan, hal ini berpotensi menimbulkan masalah di masa depan. “Karena, seseorang mualaf ketika meninggal itu banyak yang dimakamkan bukan dengan cara‑cara Islam. Kenapa ada sertifikat, segera diubah. Jangan merepotkan orang yang masih hidup ketika sudah meninggal,” jelasnya.

Selain itu, Hanny menyinggung potensi penggunaan sertifikat dalam perkara hukum antara Richard Lee dan Doktif. Ia tidak ingin dokumen tersebut menjadi alat dalam konflik hukum antar pihak. “Yang kedua, saya tidak mau sertifikat mualaf ini dijadikan barang bukti atau bahan di pengadilan untuk saling menyerang dengan sesama muslim. Karena ada disebutkan, ‘Ya ini akan kita pakai untuk konstruksi hukum’,” kata Hanny. Ia menegaskan bahwa jika hal tersebut terjadi, dirinya sebagai pihak yang mengeluarkan sertifikat bisa ikut terseret dalam proses hukum.

Ia menekankan kembali fungsi administratif sertifikat mualaf: menikah, mengganti kolom agama di KTP, serta pengurusan surat kematian. “Sertifikat ini kan cuma gunanya administratif. Menikah, mengganti kolom KTP, mengurus surat kematian,” tambahnya.

Lebih lanjut, Hanny menyoroti beberapa pernyataan dan aktivitas Richard Lee yang menjadi pertimbangan tambahan. Ia mengutip video di mana Richard mengaku, “Setelah 3 tahun saya masuk Islam, ini pertama kali saya ke gereja lagi, dan saya percaya Tuhan Yesus.” Menurut Hanny, kalimat tersebut tidak mengakui la ilaha illallah. “Richard ini kan ngaku di video bahwa, ‘Setelah 3 tahun saya masuk Islam, ini pertama kali saya ke gereja lagi, dan saya percaya Tuhan Yesus.’ Itu kalimat menurut saya sudah tidak mengakui la ilaha illallah,” ucapnya.

Meski begitu, Hanny menegaskan pencabutan sertifikat tidak serta‑merta mencabut status keislaman seseorang. “Akhirnya seolah‑olah saya mencabut sertifikat mualaf, terus tidak mengakui dia muslim, padahal nggak. Karena saya mengeluarkan sertifikat,” pungkasnya.

Di sisi lain, Richard Lee masih menahan diri di penjara atas laporan Doktif. Ia mengunggah pesan di akun Instagramnya, mengapresiasi keputusan pengurus Mualaf Center Indonesia. “Kami menghargai setiap proses dan keputusan yang ada. Bagi kami, keyakinan adalah perjalanan pribadi antara manusia dan Tuhan, bukan sekadar label atau dokumen,” tulisnya. Ia juga menyatakan akan tetap fokus menjalani kehidupannya. “Dr. Richard tetap fokus menjalani hidup dengan nilai yang baik, berbuat yang terbaik untuk orang lain, dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih untuk semua yang tetap mendukung dengan bijak. By Admin,” jelasnya.

Keputusan pencabutan sertifikat ini menyoroti peran lembaga keagamaan dalam mengelola dokumen keagamaan dan dampaknya pada kehidupan sehari‑hari. Sementara Richard Lee menegaskan bahwa keyakinannya tetap pribadi, Hanny Kristianto menegaskan pentingnya penggunaan sertifikat mualaf secara administratif dan tidak untuk tujuan perseteruan hukum.

sertifikat mualafRichard LeeHanny KristiantoMualaf Center IndonesiaKTPdokumen administratifkonflik hukumpenjara

Komentar

Memuat komentar...