Dusun Pentil: Sejarah Nama, Pasar, dan Tradisi Nazar

Dewi M. · 3 min baca · 4 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Dusun Pentil: Sejarah Nama, Pasar, dan Tradisi Nazar

Gambar atau konten salah?

Dusun Pentil terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Nama ini sering menimbulkan senyum bagi penduduk yang baru mendengarnya. Beberapa orang menganggapnya lucu, sementara yang lain menggunakannya sebagai bahan guyonan karena asosiasinya dengan kata “puting”. Namun di balik nama unik tersebut, tersimpan sejarah perjuangan warga zaman dahulu.

Dusun Pentil adalah salah satu dari enam dukuhan di Desa Gunungsari. Bersama Dukuh Gobog, Nganguk, Mulo, Pendem, dan Ngumpleng, nama ini telah melekat sejak zaman leluhur dan masih dipertahankan sampai kini.

Perangkat Desa Gunungsari, Sumijan, menjelaskan bahwa asal‑asalan nama Pentil tidak berkaitan dengan makna yang sering diasosiasikan masyarakat sekarang. Menurut cerita para orang tua, nama itu lahir dari kondisi masyarakat pada masa lampau.

Dulu diceritakan kalau orang sini berdagang atau usaha itu sulit berkembang. Kalau sudah mulai besar selalu ada kendala, kata Sumijan. Ia menjelaskan bahwa para leluhur mengibaratkan situasi tersebut seperti buah yang baru tumbuh. Dalam bahasa Jawa, buah kecil disebut pentil. Ketika usaha warga mulai berkembang, kondisi seolah kembali ke titik awal dan tidak pernah benar-benar membesar. “Diibaratkan seperti tanaman yang mau berbuah. Sudah pentil, tetapi tidak bisa berkembang besar, lalu seperti pentil lagi. Begitu terus. Dari situ kemudian disebut Pentil,” ujarnya.

Nama tersebut bertahan hingga sekarang, meski sering menjadi bahan candaan. Sumijan mengaku sejak kecil sudah terbiasa mendengar guyonan dari teman-teman luar desa. Ia mengingat ejekan populer di kalangan anak sekolah: “Nganguk-Pentil Sewu (mengintip pentil, seribu)”. Sebutan itu merujuk pada dua dukuh yang berada di Desa Gunungsari.

“Kalau saya tidak apa‑apa. Warga juga sudah terbiasa. Itu cuma bercanda saja,” kata Sumijan sambil tersenyum. Meski kerap menjadi bahan lelucon, warga tidak pernah berpikir untuk mengubah nama dusun tersebut. Bagi mereka, nama Pentil merupakan warisan leluhur yang harus dijaga. “Sudah dari nenek moyang dulu. Tidak ada usulan ganti nama,” tambahnya.

Di balik nama yang unik itu, terdapat tradisi yang masih dipercaya sebagian masyarakat. Di Dusun Pentil terdapat pasar tradisional yang telah ada sejak lama dan dikenal warga sekitar sebagai Pasar Pentil. Pasar itu bukan sekadar tempat jual beli. Bagi sebagian warga, Pasar Pentil memiliki nilai simbolis yang berkaitan dengan ritual nazar atau kenduri.

Menurut Sumijan, seseorang yang memiliki hajat tertentu terkadang bernazar dan menggelar kenduri apabila keinginannya terkabul. Salah satu syarat yang dipercaya turun‑turun adalah menggunakan jajanan pasar yang dibeli dari Pasar Pentil. “Ada yang kendurinya di lokasi pasar, ada juga yang di rumah. Tetapi berkat atau ambengnya menggunakan jajan pasar dari Pasar Pentil,” jelasnya.

Tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama dan tidak hanya dilakukan warga Gunungsari, tetapi juga masyarakat dari desa‑d desa sekitar. Cerita serupa disampaikan warga Desa Babadan, Kecamatan Kaliori, Masudi. Ia mengaku keluarganya pernah menjalankan nazar yang berkaitan dengan Pasar Pentil. “Ibu saya pernah bernazar, kalau punya menantu akan mengadakan kenduri dengan jajan pasar dari Pasar Pentil. Memang kepercayaan warga sekitar seperti itu,” tutur Masudi.

Desa Gunungsari berada di wilayah Kecamatan Kaliori. Di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sukorejo dan Tlogotunggal, Kecamatan Sumber. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Kuangsan, Pengkol, dan Babatan, Kecamatan Kaliori. Sementara di utara berbatasan dengan Desa Waru dan Sendangagung, Kecamatan Rembang, sedangkan di timur berbatasan dengan Desa Sendangagung, Kecamatan Rembang dan Karangsari, Kecamatan Sulang.

Nama Pentil tetap menjadi identitas yang kuat bagi warga Gunungsari. Meskipun sering menjadi bahan tawa, ia mengingatkan bahwa di balik cerita sederhana ini terdapat nilai sejarah dan tradisi yang masih dihargai. Pasar Pentil dan ritual nazar menjadi contoh bagaimana budaya lokal tetap hidup dalam aktivitas sehari‑hari, menambah warna kehidupan masyarakat di wilayah Kaliori.

Dusun PentilDesa GunungsariPasar PentilNazarKenduriTradisiSejarah

Komentar

Memuat komentar...