Mudik Meningkat, ASDP Jaga Arus dengan Digitalisasi

Andi B. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 102 dibaca
Bisik.id
Mudik Meningkat, ASDP Jaga Arus dengan Digitalisasi

Gambar atau konten salah?

Kementerian Perhubungan mencatat lonjakan pergerakan pemudik dengan intensitas lebih tinggi. Meski demikian, kementerian menegaskan bahwa kondisi tersebut masih dapat dikelola secara optimal berkat kesiapan sistem dan kerjasama lintas sektor.

Menurut Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, moda penyeberangan saja sudah melayani 5,52 juta penumpang, naik 15,32 % dibandingkan tahun sebelumnya.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menegaskan kesiapan layanan transportasi yang tidak hanya andal, tetapi juga adaptif dan terkelola optimal, khususnya di 15 lintasan pantauan nasional. Lintasan‑lintasan tersebut dianggap vital karena mobilitas tinggi, di antaranya:

  • MerakBakauheni
  • Ciwandan – Wika Beton
  • Bojonegara – Muara Pilu
  • KetapangGilimanuk
  • Padangbai – Lembar
  • Jangkar – Lembar
  • Kayangan – Pototano
  • Kariangau – Penajam
  • Bajoe – Kolaka
  • Hunimua – Waipirit
  • Bira – Pamatata
  • Bolok – Rote
  • Bitung – Ternate
  • Ajibata – Ambarita
  • Telaga Punggur – Tanjung Uban
  • Tanjung Api‑Api – Tanjung Kalian
  • Nias – Sibo

Secara kumulatif, pada periode H‑8 hingga H+8 pukul 06.00 WIB, total penumpang di 15 lintasan pantauan nasional mencapai 4.722.213 orang, naik 6,6 % dibandingkan tahun lalu yang mencatat 4.430.006 orang. Sementara total kendaraan tercatat 1.215.273 unit, meningkat 8 % dibandingkan 1.125.178 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menyampaikan bahwa layanan penyeberangan tetap mampu beroperasi secara optimal. “Capaian kelancaran layanan serta distribusi trafik yang semakin merata, bahkan pada puncak arus, merupakan hasil dari kesiapan operasional yang telah dirancang secara komprehensif jauh sebelum periode Angkutan Lebaran dimulai. Optimalisasi armada yang didukung penguatan digitalisasi layanan menjadi kunci utama dalam menjaga kinerja penyeberangan tetap andal,” ujar Heru dalam keterangan tertulis, Selasa (31 Maret 2026).

Dalam pelaksanaannya, lintasan Jawa‑Sumatera‑Bali tetap menjadi simpul vital pergerakan nasional. Berbagai langkah antisipatif dilakukan secara terukur, seperti pengaturan pola operasi kapal berbasis kebutuhan harian, penerapan skema Tiba‑Bongkar‑Berangkat saat terjadi kepadatan, delaying system melalui titik buffer zone, pemanfaatan digitalisasi Ferizy, hingga kebijakan stimulus berupa diskon tarif dan single tarif guna mendorong distribusi perjalanan yang lebih merata dan inklusif.

Keberhasilan ini juga diperkuat oleh koordinasi intensif lintas sektor. Heru menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh seluruh pihak dalam menjaga kelancaran layanan. “Kami mengapresiasi kolaborasi erat Danantara Indonesia, BP BUMN, Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Kemenko PMK, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan, Kepolisian RI, TNI, BUMN transportasi, asosiasi penyeberangan, serta seluruh masyarakat pengguna jasa ferry. Kepatuhan masyarakat dalam merencanakan perjalanan sejak dini dan melakukan pembelian tiket melalui Ferizy sangat berkontribusi dalam menjaga kelancaran arus mudik dan balik,” tambahnya.

Heru menjelaskan bahwa dinamika operasional juga terjadi pasca berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sumbu tiga ke atas. Pembatasan tersebut berlaku di lintasan Bakauheni‑Merak pada 23‑29 Maret 2026 serta Ketapang‑Gilimanuk pada 13‑29 Maret 2026. “Pasca dibukanya kembali pembatasan tersebut, terjadi lonjakan signifikan kendaraan logistik yang masuk ke pelabuhan, khususnya di lintasan Merak‑Bakauheni dan Ketapang‑Gilimanuk dengan kondisi antrian 3‑10 kilometer. Kondisi ini berdampak pada peningkatan antrean kendaraan, namun tetap dalam kendali melalui penguatan manajemen operasional di lapangan,” jelas Heru.

Untuk merespons kondisi tersebut, ASDP mengoptimalkan pola Tiba‑Bongkar‑Berangkat (TBB), menambah trip dan armada kapal, serta melakukan pengendalian ritme kendaraan melalui buffer zone. Langkah ini dilakukan untuk memastikan arus kendaraan logistik tetap terlayani dengan baik tanpa mengganggu kelancaran arus penumpang.

Realisasi jumlah penumpang di arus balik juga menunjukkan hasil positif. Secara akumulatif, realisasi penumpang yang telah kembali ke Pulau Jawa dari Sumatera pada periode 22 Maret 2026 hingga 30 Maret 2026 pukul 06.00 WIB (H s.d H+8) mencapai 814.821 orang atau 99 % dibandingkan total penumpang yang berangkat dari Jawa ke Sumatera pada arus mudik (H‑8 s.d H) sebanyak 822.950 orang. Sementara itu, total kendaraan yang telah kembali dari Sumatera ke Pulau Jawa pada periode yang sama tercatat sebanyak 218.822 unit atau mencapai 100 % dibandingkan jumlah kendaraan yang berangkat saat arus mudik sebanyak 219.183 unit.

Dengan dukungan kesiapan operasional yang matang serta koordinasi lintas sektor yang solid, ASDP akan terus memperkuat komitmennya untuk melakukan evaluasi berkelanjutan dan menghadirkan layanan penyeberangan yang semakin andal dan berorientasi pada kebutuhan pengguna jasa di seluruh Indonesia. “Sebagai penghubung vital dalam sistem transportasi nasional, kami berkomitmen untuk terus menjaga kelancaran, keselamatan, dan kenyamanan layanan, sekaligus menghadirkan pengalaman penyeberangan yang prima bagi seluruh masyarakat,” tutup Heru.

Pergerakan pemudik yang meningkat menuntut kesiapan sistem transportasi, namun kolaborasi lintas sektor, digitalisasi layanan, dan manajemen operasional yang terencana membantu menjaga arus penumpang dan kendaraan tetap terjaga. Lintasan vital seperti Merak‑Bakauheni dan Ketapang‑Gilimanuk tetap menjadi fokus utama, sementara strategi TBB dan buffer zone membantu mengatasi lonjakan kendaraan logistik setelah pembatasan dihapus.

Kementerian PerhubunganASDP Indonesia FerryPemudikTiba‑Bongkar‑BerangkatDigitalisasi FerizyLintasan Merak‑BakauheniKoordinasi lintas sektor

Komentar

Memuat komentar...