Nyeri leher bukan tanda kolesterol tinggi, dr. Ario jelas

Hendra M. · 3 min baca · 29 hari lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Nyeri leher bukan tanda kolesterol tinggi, dr. Ario jelas

Gambar atau konten salah?

Kolesterol, zat yang menyerupai lilin, hadir di dalam darah dan dibutuhkan tubuh untuk membangun sel-sel sehat. Meski begitu, kadar kolesterol yang tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Sering kali orang mengaitkan nyeri leher belakang atau rasa cenat cenut dengan kolesterol tinggi. Namun, apakah gejala tersebut memang berhubungan dengan kadar kolesterol?

Spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, SpJp(K), menegaskan bahwa nyeri leher tidak pernah menjadi tanda kolesterol tinggi. Ia mengatakan, "Mitos itu, muncul sakit di otot leher bukan karena kolesterol," ketika dihubungi beberapa waktu lalu.

Dr. Ario menekankan bahwa nyeri leher biasanya disebabkan oleh postur tubuh yang salah. “Sakit di otot leher bukan karena kolesterol,” ujarnya.

Sejalan dengan pendapat dr. Ario, spesialis gizi klinik, dr. Diana F Suganda, menambahkan bahwa kolesterol tinggi tidak menampilkan gejala khas. Ia menyatakan, "Jadi nggak ada tuh yang orang bilang 'oh sakit nih di leher berarti kolesterol tinggi', belum tentu," menegaskan pentingnya pemeriksaan.

Dr. Muhammad Imanuddin, spesialis penyakit dalam, menjelaskan bahwa tidak ada gejala khusus yang secara umum terkait dengan kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat yang tinggi. Ia menekankan bahwa pasien biasanya mengalami keluhan seperti:

  • Bengkak pada kaki, tangan, badan serta seluruh tubuh
  • Nyeri pada kaki, tangan, pundak, leher dan lainnya

Untuk memastikan apakah kolesterol tinggi atau tidak, dr. Imanuddin menyarankan pemeriksaan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL, dan kolesterol HDL di fasilitas kesehatan atau rumah sakit terdekat.

Obesitas menjadi faktor risiko kolesterol tinggi. Dr. Ray Ratu, SpPD, menjelaskan bahwa fisik seseorang dapat mencerminkan risiko kolesterol tinggi, namun tidak boleh dijadikan satu-satunya patokan. Salah satu tanda fisik yang mungkin menunjukkan risiko kolesterol tinggi adalah obesitas atau kegemukan.

Obesitas, yang didefinisikan sebagai penumpukan lemak berlebih atau peningkatan berat badan yang tidak proporsional, termasuk dalam sindrom metabolik. Sindrom ini merupakan kumpulan kondisi medis yang saling berkaitan, seperti hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes mellitus, dan hiperurisemia.

Dr. Ray menegaskan, "Tidak semua orang gemuk pasti memiliki kolesterol tinggi. Hanya saja peluangnya memang lebih besar dibandingkan dengan orang dengan berat badan ideal," menambahkan bahwa orang gemuk memiliki kemungkinan lebih tinggi membawa penyakit metabolik lain.

Selain obesitas, beberapa faktor risiko kolesterol tinggi yang sering disebutkan meliputi:

  • Kebiasaan makan: Konsumsi lemak jenuh atau lemak trans berlebih dapat meningkatkan kolesterol. Lemak jenuh biasanya ditemukan dalam potongan daging berlemak, sementara lemak trans sering muncul dalam camilan.
  • Kurang olahraga: Aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan kolesterol baik dalam tubuh.
  • Minum banyak alkohol: Konsumsi alkohol dalam jumlah banyak dapat menaikkan kadar kolesterol total.
  • Usia: Orang berusia di atas 40 tahun lebih rentan, karena kemampuan hati dalam menghilangkan kolesterol jahat berkurang seiring bertambahnya usia. Namun, kolesterol tinggi juga dapat terjadi pada anak-anak.

Dengan memahami bahwa nyeri leher bukanlah indikator kolesterol tinggi, penting bagi masyarakat untuk tidak menilai kesehatan hanya dari gejala fisik yang tidak spesifik. Pemeriksaan rutin kolesterol tetap menjadi cara paling akurat untuk mengetahui kondisi tubuh.

Kesimpulannya, kolesterol tinggi tidak menampilkan gejala khusus, dan nyeri leher biasanya disebabkan oleh postur tubuh. Obesitas meningkatkan risiko kolesterol tinggi, namun tidak menjamin kondisi tersebut. Faktor risiko lain seperti pola makan, aktivitas fisik, konsumsi alkohol, dan usia juga berperan penting. Pemeriksaan darah tetap menjadi langkah terbaik untuk memantau kadar kolesterol dan mencegah komplikasi jantung.

kolesterolnyeri leherobesitasfaktor risikopemeriksaan darahLDLHDLtrigliserida

Komentar

Memuat komentar...