OJK: Perbankan Indonesia Kuat Hadapi Ketidakpastian Global
Gambar atau konten salah?
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan bahwa sistem perbankan Indonesia tetap kuat menghadapi ketidakpastian ekonomi global, terutama akibat ketegangan di Timur Tengah.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, hasil stress test menunjukkan bahwa permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menahan risiko yang muncul dari gejolak ekonomi global.
OJK secara rutin melakukan stress test untuk menilai ketahanan bank terhadap skenario ekstrem.
"Selain yang dilakukan oleh OJK perbankan juga secara rutin tentu melakukan stress test sendiri kemudian hasil stress test OJK maupun perbankan itu menunjukkan sejauh ini ya teman‑teman sekalian bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini itu masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia,"
Hasil tersebut menegaskan bahwa bank masih memiliki modal yang cukup untuk menahan dampak ekonomi.
Dian menegaskan bahwa OJK terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lain, termasuk Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), untuk memantau dan merumuskan kebijakan guna menjaga stabilitas sistem keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
KSSK memfokuskan upaya pada pengawasan sistem keuangan dan mitigasi risiko.
Pada 01 Februari 2026, kredit perbankan tumbuh 9,37% secara tahunan menjadi Rp 8.559 triliun, sedikit lebih lambat dibandingkan 9,96% pada bulan sebelumnya.
Pertumbuhan kredit menurun sedikit, namun tetap mencerminkan stabilitas pasar pinjaman.
Dana Pihak Ketiga (DPK) pada bulan yang sama naik 13,18% menjadi Rp 10.102 triliun, melambat dari 13,48% pada 01 Januari 2026.
Perubahan kecil pada DPK menunjukkan dinamika dana publik yang masih kuat.
Kualitas kredit tetap terjaga, dengan rasio NPL bruto perbankan di bawah 3%, yakni 2,17%. Likuiditas industri perbankan juga memadai, tercermin dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 121,29% dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) 27,4%.
Rasio AL/NCD di atas 100% menandakan ketersediaan likuiditas yang cukup, sementara AL/DPK menandakan ketergantungan pada dana pihak ketiga.
Data ini menunjukkan bahwa meski tekanan global tetap ada, struktur keuangan perbankan Indonesia masih kokoh, mampu menahan risiko makroekonomi dan menjaga kualitas kredit serta likuiditas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Kimia Farma Balikkan Kerugian, Capai Laba Rp123,63 Miliar
Prabowo Ganti Pimpinan BGN, Tegaskan Tanpa Toleransi Korupsi
Asuransi Astra Tumbuh Meski Tekanan Nilai Tukar & Suku Bunga
Menteri Keuangan: Rupiah Terkena Rumor, Bank Indonesia Fokus
Berita Terbaru
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Italia 1-0 Luksemburg, Baldini Raih Kemenangan Muda
Belanda Kalah 0-1 dari Aljazair, Persiapan Piala Dunia 2026
Zodiak Cancer 4 Juni 2026: Hari Ramai Air dan Keberuntungan
Zodiak Virgo 4 Juni 2026: Hari Bintang, Peluang Romantis & Karier
Zodiak Aries 4 Juni 2026: Energi Baru dan Peluang Cinta
Zodiak Libra 4 Juni 2026: Keseimbangan Hari, Cinta, Karier & Kesehatan
Zodiak Scorpio 4 Juni 2026: Panduan Hari Terbaik Hari
Zodiak Leo 4 Juni 2026: Energi Matahari Menuntun Hari Anda
Zodiak Gemini: 4 Juni 2026, Hari Dinamika Kencan dan Karier
