Pameran Arsip Filateli Masa Pendudukan Jepang di Semarang
Gambar atau konten salah?
Semarang – Pameran arsip filateli yang menampilkan masa pendudukan Jepang di Indonesia digelar di Rumah PoHan, Kota Lama, Kecamatan Semarang Utara, pada 31 Mei 2026 hingga 7 Juni 2026. Tempat pameran ini berlokasi di gedung Oudetrap, yang terletak tidak jauh dari Rumah PoHan.
Acara pembukaan dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti. Mereka bersama-sama menandatangani dokumen pembukaan di ruang berlantai dua yang dipenuhi koleksi arsip. Selama kunjungan, mereka memeriksa berbagai barang, mulai dari surat kabar hingga perangko, yang disusun secara rapi di dinding dan rak.
Pameran ini menampilkan beragam arsip periode kolonial Jepang, termasuk surat kabar, majalah, perangko, mata uang, kartu pos, dan dokumen resmi. Koleksi ini diatur sedemikian rupa sehingga pengunjung dapat melihat kronologi peristiwa dan kebijakan yang diberlakukan selama masa pendudukan.
Pengurus Daerah Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Jawa Tengah bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kota Semarang, Pengurus Pusat PFI, dan PoHan Kultura Lestari untuk menyelenggarakan pameran ini. Tema yang diangkat adalah "Dalam Cengkraman Saudara Tua: Jejak Pendudukan Jepang di Indonesia dalam Arsip Filateli (1941-1945)".
Fadli Zon menyatakan bahwa arsip-arsip yang dipamerkan “memotret masa kolonialisme Jepang di Indonesia.” Ia menjelaskan bahwa Negeri Matahari Terbit menjajah Indonesia menggunakan kekuatan militer. “Jadi, dari benda-benda filateli inilah kita bisa melihat salah satu episode perjalanan bangsa kita, terutama pada masa Jepang. Bagaimana transisi terjadi dan juga bagaimana pemerintahan Jepang itu melakukan satu pendudukan atau penjajahannya dengan sangat sistematis, dengan keras, karena memang dipimpin langsung oleh militer,” ungkap Fadli di Rumah PoHan pada 31 Mei 2026.
Fadli juga menekankan bahwa pengunjung dapat mempelajari sejarah melalui berbagai barang, termasuk perangko, numismatik, dokumen, kartu pos, surat izin, surat-surat segala macam. Ia menambahkan bahwa koran pada masa peralihan, majalah seperti Djawa Baru, serta dokumen seperti Heiho juga dipamerkan. “Kita bisa melihat mulai dari benda-benda filateli, bahkan juga numismatik, dokumen-dokumen, perangko-perangko, mata uang, kartu pos, surat izin, surat-surat segala macam. Tentu di depan juga yang menarik adalah koran pada masa peralihan, ada majalah seperti Djawa Baru, dan juga dokumen-dokumen seperti Heiho, dan segala macam,” sebutnya.
Barang-barang tersebut merupakan koleksi pendiri Rumah PoHan, Ong Po Han. Fadli menjelaskan bahwa Po Han telah mengumpulkan benda-benda tersebut sejak 1980-an. “Koleksi dari Pak Po Han yang sudah lama dan tekun mengumpulkan dari tahun 80-an sampai sekarang, khusus untuk periode masa Jepang ini,” sebutnya.
Po Han mengaku tidak menghitung jumlah koleksi pribadinya yang dipamerkan. Ia mengatakan bahwa arsip-arsip tersebut telah dikurasi sebelum dipajang. “Saya milihin kira-kira temanya apa, nanti saya kurasi dulu,” kata Po Han.
Menurut Po Han, barang-barang tersebut diperoleh melalui berbagai cara. Ia mengungkapkan bahwa beberapa barang dikirim langsung ke rumahnya, sementara yang lain didapat dari teman atau dibeli dari luar negeri. “Saya itu dulu kan belum ada internet. Jadi sering banget dapat barang-barang gitu. Orang ngantar ke rumah,” kata Po Han.
Po Han menambahkan bahwa arsip-arsip era kolonial Jepang sulit didapat. Ia menyebutkan bahwa periode Jepang memang sulit untuk buku dan arsip. “Ya karena zaman Jepang agak sulit. Periode Jepang itu memang agak sulit untuk buku, kemudian untuk arsip-arsipnya. Atau boleh dikatakan juga melengkapi pameran yang lalu, Pertempuran 5 Hari di Semarang. Itu kan pasca pendudukan Jepang, pasca penjajahan,” sebutnya. “Hampir semua arsip itu kan susah (didapat). Susah karena biasanya dibuangi,” lanjutnya.
Motivasi Po Han untuk mengoleksi arsip tidak didorong oleh alasan khusus. Ia memulai koleksi dari ketertarikannya pada perangko. “Tidak ada alasan khusus bagi Po Han untuk mengoleksi arsip, selain sekadar senang. Kebiasaannya itu bermula dari kesenangannya mengoleksi prangko. Karena saya awalnya kan prangko ya. Jadi dari prangko kan pengin yang lain gitulah,” ungkapnya.
Dengan menampilkan arsip-arsip berharga, pameran ini memberi kesempatan bagi masyarakat untuk memahami dampak pendudukan Jepang. Koleksi yang dipamerkan tidak hanya menampilkan barang bersejarah, tetapi juga mengajak pengunjung melihat bagaimana kebijakan militer memengaruhi kehidupan sehari‑hari rakyat Indonesia. Pameran ini juga melengkapi acara sebelumnya tentang Pertempuran 5 Hari di Semarang, menambah pemahaman tentang periode pasca pendudukan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait