Pasangan Ponorogo Berangkat Haji Setelah 12 Tahun Menabung

Rudi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Pasangan Ponorogo Berangkat Haji Setelah 12 Tahun Menabung

Gambar atau konten salah?

Ponorogo, perjalanan panjang menuntun pasangan penjual kopi ini ke Tanah Suci. Dengan tekad kuat dan disiplin menabung, Wahyudi (61) dan istrinya akhirnya berangkat tahun ini.

Wahyudi, warga Jalan Menur, Kelurahan Ronowijayan, Kecamatan Siman, mengaku telah lama berniat berhaji bersama sang istri. “Ya, kami dengan istri saya betul-betul niat bulat. Nabung semampunya kita, ya agak ngoyo lah,” ujar Wahyudi, Sabtu 11 April 2026.

Ia menjelaskan, kebiasaan menabung sudah dilakukan jauh sebelum mendaftar haji. “Sebetulnya nabung terus, sekiranya cukup untuk daftar ya daftar. Terus kita nabung lagi untuk melunasi,” ungkapnya.

Setiap bulan, Wahyudi rutin menyisihkan sekitar Rp500 ribu dari hasil berjualan kopi. Dana tersebut dikumpulkan selama bertahun-tahun hingga akhirnya mencukupi untuk pelunasan biaya haji. “Kalau per bulan Rp500 ribu, alhamdulillah sampai berangkat ini cukup,” katanya.

Ia akhirnya menyebutkan bahwa kebiasaan menabung itu sudah dilakukan selama 10 hingga 12 tahun. Di tengah kebutuhan sehari‑hari, ia tetap berupaya disiplin dalam menyisihkan penghasilan. “Alhamdulillah selain kebutuhan sehari‑hari kita masih bisa nabung, walaupun Rp500 ribu,” tambahnya.

Wahyudi mengungkapkan usaha berjualan kopi telah digeluti sejak 2004. Awalnya ia berjualan secara sederhana, bahkan sempat menjajakan rujak buah sebelum akhirnya fokus pada usaha kopi. “Mulai jualan kopi 2004. Dulu meja satu di sini, terus berkembang,” ujarnya.

Selain hasil jualan kopi, tabungan haji juga berasal dari hasil panen sawah yang dikumpulkan setiap musim panen. Meski akhirnya dapat berangkat haji, Wahyudi mengaku sempat diliputi rasa khawatir, terutama terkait kondisi global saat ini. “Perasaan was‑was juga ada. Ya kita hanya berdoa saja. Apalagi usia juga sudah cukup tua, khawatir fisik,” katanya.

Namun demikian, ia tetap bersyukur karena mendapat panggilan berangkat haji tahun ini. “Alhamdulillah dari Kementerian Haji kita dapat panggilan. Kloter 19, nomor kami di tengah‑tengah,” jelasnya.

Sementara itu, sang istri, Siti Setianawati (58), mengaku tidak menyangka perjuangan menabung dari hasil berjualan kopi dapat mengantarkannya ke Tanah Suci. “Alhamdulillah, rasanya senang, tapi juga ada was‑was dengan keadaan sekarang,” ujarnya.

Ia menuturkan, kebiasaan menabung dilakukan dari sisa kebutuhan sehari‑hari, termasuk dari uang belanja dan pembayaran rutin. “Kita menabung sedikit demi sedikit, sisa belanja, sisa bayar listrik, kita sisihkan,” katanya.

Menurut Siti, pada awalnya mereka hanya menyisihkan uang dalam jumlah kecil, mulai dari Rp5.000 hingga Rp10.000. Namun, berkat konsistensi, uang tersebut akhirnya terkumpul untuk mendaftar haji. “Dari yang Rp5.000, Rp10.000, alhamdulillah bisa terkumpul untuk daftar haji,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kunci utama keberhasilan mereka adalah hidup hemat dan konsisten dalam menabung. “Harus bisa mengirit supaya bisa menabung dan terlaksana,” pungkasnya.

Wahyudi (61) menunjukkan perlengkapan haji (Foto: Charolin Pebrianti).

Perjalanan ini menegaskan bahwa tekad, disiplin, dan kebiasaan menabung secara konsisten dapat membawa seseorang, bahkan dengan penghasilan sederhana, menuju ibadah haji. Kisah pasangan ini menjadi contoh nyata bahwa perjalanan spiritual dapat dimulai dari langkah kecil setiap bulan.

HajiTabunganKopiPenjual KopiPonorogoKloter 19Kementerian HajiDisiplin Menabung

Komentar

Memuat komentar...