Paskah: Makna Berbeda bagi Umat Yahudi dan Kristen

Surya B. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 100 dibaca
Bisik.id
Paskah: Makna Berbeda bagi Umat Yahudi dan Kristen

Gambar atau konten salah?

Hari Paskah adalah hari suci yang diperingati oleh umat Yahudi dan umat Kristen. Meskipun nama sama, latar belakangnya berbeda. Pada dasarnya, Paskah berkaitan dengan peristiwa besar yang menjadi dasar keyakinan masing‑masing agama. Umat Yahudi mengingat pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, sedangkan umat Kristen memperingati kebangkitan Yesus Kristus yang diyakini sebagai inti keimanan.

Menurut artikel “Makna Paskah Yahudi dalam Hubungannya dengan Paskah Kristen Menurut Kitab Keluaran 12-12” karya Claudio Modeong, kata Paskah berasal dari bahasa Ibrani “pesah” yang dalam bahasa Yunani dikenal sebagai “pascha”. Kata “pesah” berakar dari kata kerja “psh” yang dalam Perjanjian Lama bermakna “melewati”, “melindungi dan menyelamatkan”, serta “berjalan pincang” atau “berjingkat‑jingkat”.

Dalam kepercayaan umat Yahudi, Paskah adalah hari raya untuk memperingati pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir oleh Tuhan. Sementara itu, menurut Siti Fauziyah dalam buku “Sejarah Agama dan Kepercayaan di Dunia”, Paskah bagi umat Kristen adalah sebuah hari untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus dalam kehidupan yang baru. Dengan begitu, meski memiliki istilah yang sama, makna Hari Paskah dalam dua kepercayaan ini memiliki latar yang berbeda.

Berikut ini sejarah singkat Hari Paskah dari pandangan Yahudi dan Kristen yang dirangkum dari buku “Kalender Agama Abrahamik” tulisan Fathor Rausi. Pertama, Paskah dalam Tradisi Yahudi bermula dari bahasa Ibrani yang bermakna lewat atau menyeberang. Pengertian ini mengisyaratkan keluarnya Bani Israil dari Mesir atau lewatnya malaikat di depan pintu orang‑orang Mesir.

Menurut sejarah kepercayaan umat Yahudi, Nabi Musa adalah orang pertama yang merayakan Hari Paskah. Ia dilakukan pada bulan purnama pertama setelah musim semi. Perayaan itu dimulai ketika Musa bertekad membawa Bani Israil kabur dari Mesir. Ia memerintahkan setiap keluarga menyembelih sapi atau kambing yang bagus berusia tidak lebih dari satu tahun pada sore hari. Bagian dari hasil sembelihan digunakan untuk berbagai hal. Darah sapi atau kambing dioleskan pada pintu sebagai tanda pengenal Bani Israil. Sementara dagingnya dimakan dengan roti setengah matang hingga habis.

Musa mengabarkan kepada Bani Israil bahwa malaikat akan turun ke bumi dan membunuh semua anak pertama yang lahir di antara orang‑orang Mesir, kecuali pintu yang sudah diolesi dengan darah. Kemudian pada malam harinya, Musa mengajak seluruh umat Bani Israil untuk pergi meninggalkan Mesir dan berhasil kabur dari kejaran Firaun. Setelah peristiwa itu, umat Yahudi memperingati Hari Paskah setiap tahunnya sebagai bentuk syukur terhadap keselamatan yang mereka dapatkan. Hari Paskah diperingati setiap tanggal 14 Nisan (bulan dalam kalender Yahudi) di waktu sore.

Berbeda dengan tradisi Yahudi, Paskah dalam Tradisi Kristen bertujuan untuk mengikuti Yesus Kristus (Isa al‑Masih) yang sebenarnya juga merupakan keturunan Bani Israil. Dalam sejarahnya, umat Kristen meyakini bahwa Yesus divonis dengan hukuman salib oleh Pontius Pilate pada hari Jumat. Yesus kemudian bangkit lagi dan naik ke langit pada hari Minggu. Hari itu kemudian dikenal sebagai Kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus Kristus diperingati oleh umat Kristen sebagai Hari Paskah. Menurut umat Kristen, peristiwa ini dianggap sebagai inti dari keselamatan umat manusia, di mana melalui kematian dan kebangkitan‑Nya, Yesus memberikan jaminan hidup kekal dan pembebasan dari dosa.

Hari Paskah dirayakan pada hari Minggu setelah bulan purnama pertama yang terjadi setelah tanggal 21 Maret. Hari Paskah menjadi titik ukur dari beberapa perayaan hari penting lainnya dalam tradisi Kristen, seperti Kamis Suci, wafat Yesus Kristus, kenaikan Yesus Kristus, dan Jamuan Suci.

Perbedaan antara Paskah Yahudi dan Kristen dapat dirangkum dari artikel “Perayaan Paskah dalam Tradisi Yahudi dan Katolik (Sebuah Studi Komparasi)” karya Muhammad Adlu. Paskah Yahudi memperingati pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir sebagai bentuk pertolongan Tuhan, sekaligus menjadi momen refleksi atas kebebasan dan awal kehidupan baru. Sementara itu, Paskah Kristen merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari kematian, yang dimaknai sebagai kemenangan atas dosa dan dasar utama keselamatan dalam iman Kristen.

Selain itu, waktu perayaan dan makna teologis keduanya juga berbeda. Paskah Yahudi mengikuti kalender Ibrani pada bulan Nisan dan berlangsung sekitar delapan hari, sedangkan Paskah Kristen ditentukan berdasarkan kalender Masehi, yaitu hari Minggu setelah bulan purnama pertama setelah 21 Maret. Secara teologis, Paskah Yahudi berfokus pada pembebasan fisik dan sejarah umat Israel, sedangkan Paskah Kristen menekankan pembebasan dari dosa dan harapan akan kehidupan yang kekal.

Dengan memahami sejarah dan asal usul Hari Paskah, kita dapat menghargai kedalaman makna yang terkandung dalam perayaan ini. Paskah bagi umat Yahudi adalah peringatan akan kebebasan yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel. Paskah bagi umat Kristen adalah peringatan akan kebangkitan Yesus Kristus, yang membawa harapan akan kehidupan yang baru bagi semua orang.

Kesimpulannya, Hari Paskah memiliki dua makna yang berbeda namun saling melengkapi. Di satu sisi, ia menegaskan sejarah pembebasan fisik bangsa Israel. Di sisi lain, ia menegaskan kemenangan spiritual atas dosa melalui kebangkitan Yesus Kristus. Keduanya menunjukkan bagaimana satu peristiwa dapat diartikan secara berbeda dalam konteks kepercayaan yang berbeda.

Hari PaskahYahudiKristenPembebasan IsraelKebangkitan YesusNisanMusaKalender Ibrani

Komentar

Memuat komentar...