Patung Bayi Gianyar: Simbol Keberuntungan Tradisional Bali

Yuli S. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 95 dibaca
Bisik.id
Patung Bayi Gianyar: Simbol Keberuntungan Tradisional Bali

Gambar atau konten salah?

Gianyar, pulau Bali, dikenal sebagai pusat kerajinan tangan. Seni patung dan ukiran menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari‑hari masyarakatnya. Salah satu patung yang paling dikenal adalah Patung Garuda Wisnu Kencana, namun di kawasan Gianyar ada patung lain yang juga menarik perhatian.

Patung Bayi terletak di pertigaan Jalan Raya Sakah, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati. Patung ini memiliki sejarah panjang dan dianggap sakral oleh penduduk setempat.

Sejarah Patung Bayi dimulai saat Bupati Gianyar, Tjokorda Raka Dherana, memimpin pada 1983-1993. Pemerintah daerah merencanakan pembangunan patung bertema pahlawan dan cerita pewayangan di beberapa persimpangan jalan. Ide ini berubah ketika Ida Bagus Aji Mangku Ambara, tokoh Desa Mas, mengusulkan konsep berbeda. Ia memilih lokasi pertigaan Jalan Raya Sakah karena dianggap strategis dan sakral, berdekatan dengan Pura Hyang Tiba.

Inspirasi bentuk patung datang dari pengalaman spiritual Ida Bagus Putra pada bulan purnama sasih 1985 di Pantai Saba. Ia mengaku melihat sosok Brahma Lelare. Konsep ini kemudian diajukan dan disetujui oleh Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Oka. Setelah berbagai pertimbangan, pembangunan Patung Bayi dimulai pada 1990 oleh seniman lokal I Ketut Sugata, yang juga terlibat dalam pengerjaan Monumen Bajra Sandhi di Denpasar.

Patung Bayi, atau Patung Brahma Lelare, dipercaya sebagai perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk bayi. Patung ini melambangkan harapan, keberuntungan, dan awal kehidupan manusia. Selain itu, patung ini juga menjadi simbol penyatuan Siwa dan Buddha. Masyarakat setempat meyakini bahwa mereka dapat memperoleh keturunan setelah melakukan permohonan di patung tersebut.

Walaupun memiliki kedudukan penting dan sakral, Patung Brahma Lelare sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. Hal ini tidak terlepas dari bentuk dan ekspresi wajahnya yang sangat realistis, sehingga tampak seolah‑olah hidup dan mengawasi. Meskipun begitu, patung ini tetap menjadi bagian penting dalam ritual adat masyarakat Gianyar. Keberadaannya dianggap harus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Patung Bayi tidak hanya menjadi objek seni, melainkan juga tempat berdoa dan bersembahyang bagi warga. Setiap kali ada peristiwa penting, masyarakat biasanya mengunjungi patung ini untuk memohon keberuntungan. Patung ini menjadi simbol kebersamaan, tradisi, dan kepercayaan yang kuat di kalangan masyarakat Gianyar.

Secara keseluruhan, Patung Bayi di Jalan Raya Sakah adalah contoh nyata bagaimana seni dan kepercayaan saling terkait dalam budaya Bali. Patung ini mengingatkan kita bahwa nilai seni tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada makna dan fungsi yang diberikan oleh masyarakat.

Patung BayiGianyarSeni PatungPura Hyang TibaBrahma LelareIda Sang Hyang Widhi WasaKepercayaan Bali

Komentar

Memuat komentar...