Pemakaman Klungkung Jadi Tempat Ziarah Rapi dan Indah

Wati N. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 80 dibaca
Bisik.id
Pemakaman Klungkung Jadi Tempat Ziarah Rapi dan Indah

Gambar atau konten salah?

Di Klungkung, Bali, suasana ziarah Hari Raya Idul Adha 1447 H di Pemakaman Kampung Islam Lebah menampilkan pemandangan yang berbeda dari pemakaman biasa. Ratusan peziarah datang membawa kantong bunga tabur, namun kompleks makam itu tampak rapi dan estetis, seolah‑olah pemakaman elite di kota besar.

Rumput golf hijau segar menutupi area seluas 10 are atau 1.000 meter persegi. Makam disusun berblok‑blok, sehingga setiap sudut bersih dan teratur. Di sela‑sela pusara, pohon jepun dan bonsai berjajar di ujung setiap blok. Latar alam Klungkung menambah keindahan: di sisi timur terlihat jajaran perbukitan dan Gunung Agung, sementara di barat terbentang biru Selat Nusa.

Mustofa Shodiq, seorang peziarah asal Kampung Lebah berusia 40 tahun, mengaku bersyukur dengan perubahan wajah makam tersebut. Saat menaburkan bunga di atas pusara keluarganya, ia berkata:

"Ziarah kubur ini merupakan sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk mengingatkan kita pada kematian. Dulu makam ini tidak seperti ini, terkesan berantakan. Sekarang setelah ditata rapi, peziarah jadi sangat nyaman,"

Mustofa menambahkan bahwa meski makam terawat rapi, warga tidak dipungut biaya perawatan rutin. Pengelola hanya menyediakan kotak amal bagi peziarah yang ingin memberikan sumbangan sukarela. Karena luas area terbatas, beberapa keluarga menggabungkan makam suami‑istri dalam satu pusara. Ia menjelaskan:

"Jadi di sini ada yang suami‑istri jadi satu makam. Karena memang lahannya tidak besar,"

Keberhasilan penataan membuat warga lebih rajin berziarah. Sebelumnya, makam hanya ramai saat Idul Fitri atau Idul Adha. Kini, hampir setiap hari ada peziarah yang datang. Mustofa menutup kata:

"Sekarang hampir setiap hari ada saja yang datang berziarah, apalagi kalau hari Jumat, suasananya selalu ramai,"

Perubahan drastis ini tidak terjadi secara instan. Rusdan, seorang relawan penjaga sekaligus pemegang kunci pemakaman berusia 52 tahun, memulai gerakan sejak 2023. Ia mengingatkan bahwa sebelum itu, area pemakaman sempat terlihat semrawut seperti pemakaman kampung pada umumnya. Ia berkata:

"Awalnya pada 2023 lalu, saya mencoba mengajak sekitar 10 orang warga untuk bergerak sebagai relawan. Kami ingin makam ini lebih rapi dan nyaman untuk peziarah,"

Dengan modal awal minim, penataan dimulai secara bertahap. Rusdan menjelaskan bahwa tahap pertama hanya mengandalkan dana Rp 3,5 juta untuk membeli rumput golf seharga Rp 50 ribu per meter persegi. Saat itu, anggaran cukup hanya untuk mempercantik Blok A. Perubahan pada Blok A menarik perhatian warga lain. Mereka yang memiliki makam keluarga di blok berbeda mulai ikut menyumbang sukarela agar area makam kerabatnya juga dirapikan.

Gotong‑royong warga membuat seluruh area makam kini tertutup rumput golf. Jika dihitung berdasarkan harga rumput Rp 50 ribu per meter persegi, total biaya pengadaan rumput untuk lahan seluas 1.000 meter persegi diperkirakan mencapai Rp 50 juta.

Wajah baru Pemakaman Kampung Islam Lebah kini menjadi tempat bagi peziarah tidak hanya untuk memanjatkan doa, tetapi juga berfoto bersama keluarga dengan latar area makam dan panorama alam Klungkung. Rusdan mengatakan gerbang makam dibuka setiap hari. Ia juga menyiapkan petugas khusus untuk menyapu dan merawat rumput agar area pemakaman tetap bersih. Dengan perawatan rutin, peziarah selalu menemukan pusara keluarganya dalam kondisi bersih, tidak hanya saat hari besar keagamaan.

Transformasi ini menunjukkan bagaimana komunitas dapat bekerja sama untuk menciptakan ruang yang nyaman dan bermakna. Dengan biaya yang terjangkau dan partisipasi sukarela, pemakaman yang dulunya semrawut kini menjadi contoh tata ruang yang teratur dan indah, sekaligus tempat berziarah yang lebih menyenangkan bagi warga.

Pemakaman Kampung Islam LebahZiarah Idul AdhaRumput golfGotong royongRelawan komunitasPerawatan rutinKawasan Klungkung

Komentar

Memuat komentar...