Peneliti Indonesia Kembangkan Vaksin Dengue mRNA

Ratna D. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Peneliti Indonesia Kembangkan Vaksin Dengue mRNA

Gambar atau konten salah?

Indonesia dan China bergandengan tangan untuk mengembangkan vaksin demam berdarah dengue. Teknologi yang dipakai adalah mRNA, teknologi yang sama yang sebelumnya digunakan untuk melawan virus COVID-19.

Vaksin ini menggunakan materi genetik yang disebut genpreM-E dari virus dengue strain asli Indonesia. Penelitian ini adalah kerja sama antara Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University dari Tiongkok, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, "Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia." Pernyataan ini disampaikan dalam laman Kementerian Kesehatan pada Selasa, 14 Juli 2026.

Percepatan pengembangan vaksin ini lahir dari pengalaman pahit saat pandemi COVID-19. Waktu itu, Indonesia tidak punya akses ke kebutuhan medis darurat seperti vaksin, alat terapeutik, dan alat diagnostik. Antara tahun 2020 hingga 2022, pemerintah akhirnya memutuskan untuk membangun fasilitas riset sendiri.

Menkes Budi menjelaskan bahwa Indonesia sekarang memiliki empat perusahaan vaksin: Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio. Dari total 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, baru 11 antigen yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Dari 11 antigen itu, 5 di antaranya diproduksi secara mandiri dari awal hingga akhir. Sementara 6 antigen lainnya masih sebatas proses perakitan atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih diimpor dari China dan India.

"Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir," tegas Budi.

Mengapa dengue yang diprioritaskan? Alasannya sederhana: angka kasusnya sangat tinggi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat ada sekitar 151 ribu kasus dengue setiap tahun, dengan 650 kematian. "Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Ibu-ibu tentu tidak ingin anaknya disuntik terlalu banyak jenis vaksin, jadi kita pilih yang benar-benar prioritas," jelas Menkes Budi.

Penelitian ini dipimpin oleh Pusat Penelitian Penyakit Menular dan Imunologi (IDIRC), yang berada di bawah Institut Pendidikan dan Penelitian Kedokteran Indonesia (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Sejak tahun 2023, tim ini dipimpin oleh Profesor Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D.

Profesor Beti menjelaskan bahwa prototipe vaksin ini adalah hasil penelitian multidisiplin. Ilmu yang digabungkan meliputi virologi, imunologi, bioinformatika, dan teknologi mRNA. Vaksin ini menggunakan strain virus dengue yang berasal dari Indonesia. Tim peneliti juga menerapkan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi potensi mutasi virus di masa depan. Salah satu keunggulan kandidat vaksin ini adalah modifikasi pada loop fusi untuk mencegah peningkatan ketergantungan antibodi, yang dikenal dengan istilah ADE.

"Kami berharap inovasi ini dapat memberikan solusi terhadap tingginya beban penyakit demam berdarah di Indonesia dan secara global," kata Prof Beti dalam laman FKUI pada Selasa, 14 Juli 2026.

Vaksin dengue berbasis mRNA ini masih dalam tahap pengembangan. Jika berhasil, Indonesia akan memiliki vaksin buatan sendiri dengan teknologi yang setara dengan negara maju. Ini bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal kemandirian. Indonesia tidak ingin lagi bergantung pada negara lain saat krisis kesehatan melanda. Dari pengalaman COVID-19, pelajaran yang paling berharga adalah pentingnya memiliki kemampuan riset dan produksi sendiri.

vaksin denguemRNAIndonesiaChinaUniversitas Indonesiakemandirianpenelitian

Komentar

Memuat komentar...