Penggunaan Gawai Berlebihan Menghambat Kosakata Anak

Nurul H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Penggunaan Gawai Berlebihan Menghambat Kosakata Anak

Gambar atau konten salah?

Di zaman digital, kebiasaan anak yang sering menatap layar semakin menjadi perhatian. Susie Dent, seorang pakar bahasa asal Inggris, menilai bahwa terlalu lama berada di depan gawai dapat menghambat perkembangan kosakata mereka.

Di tengah maraknya penggunaan gawai, banyak anak dikabarkan mengalami ketertinggalan dalam penguasaan bahasa. Menurut laporan yang diambil dari sumber yang disebutkan, kondisi ini bahkan berdampak pada keterlambatan berbicara atau speech delay. “Banyak sekali anak yang kini tertinggal. Kesenjangan kosakata semakin besar dan ada persepsi nyata bahwa perkembangan kosakata terganggu dan itu berdampak pada pembelajaran,” ujar Dent, seperti dikutip dari The Guardian.

Temuan serupa juga tercermin dalam laporan Oxford University Press pada tahun 2023. Laporan tersebut menyebutkan bahwa dua dari lima siswa mengalami ketertinggalan dalam pengembangan kosakata. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya waktu membaca akibat dominasi aktivitas digital dalam keseharian anak.

Situasi ini mendorong pemerintah Inggris untuk bersiap mengeluarkan panduan bagi orang tua, khususnya dalam mengatur penggunaan gawai pada anak di bawah usia lima tahun.

Meski demikian, Dent tidak serta-merta menolak kehadiran teknologi. Ia menilai gawai tetap bisa memberikan manfaat, selama digunakan secara bijak dan terarah. “Saya tidak mengatakan menolak HP sepenuhnya. Teknologi punya peran besar dalam memperkaya kosakata anak jika digunakan dengan cara yang benar. Tapi saya pikir membaca benar-benar sedang terdampak,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan tidak hanya terletak pada anak, tetapi juga kebiasaan orang tua. Anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, termasuk saat orang tua lebih sering menatap layar ketimbang berinteraksi. “Kita semua pernah melihat orang tua di kafe sibuk menatap ponsel sementara anaknya hanya duduk diam. Itu menyedihkan karena percakapan adalah segalanya,” tambahnya.

Padahal, percakapan sehari-hari memiliki peran penting dalam membangun kemampuan bahasa anak. Aktivitas sederhana seperti berbicara, bermain kata, hingga memanfaatkan gim edukatif dapat membantu memperkaya kosakata, tentu dengan pendampingan orang tua.

Kesenjangan kosakata semakin lebar antara anak yang gemar membaca dan yang tidak. Anak yang rutin membaca cenderung memiliki kosakata lebih luas dan kemampuan memahami bahasa yang lebih baik. Selain membaca, Dent menilai pembelajaran bahasa asing juga memiliki manfaat besar bagi perkembangan bahasa anak.

“Jika ada satu hal yang bisa saya ubah, itu adalah benar-benar mempromosikan pembelajaran bahasa asing di sekolah, karena itu sangat penting. Keuntungan yang bisa diberikannya tidak terukur,”

Ia bahkan berpendapat bahwa pembelajaran bahasa asing seharusnya menjadi bagian wajib dalam kurikulum sekolah, mengingat dampaknya yang luas bagi perkembangan kognitif dan kemampuan komunikasi anak. Di tengah arus digital yang kian deras, Dent mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan. Teknologi memang tak terelakkan, namun interaksi langsung, kebiasaan membaca, dan pembelajaran bahasa tetap menjadi fondasi utama dalam tumbuh kembang anak.

Perkembangan bahasa anak di era digital menuntut perhatian serius dari orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan. Menjaga waktu layar yang sehat, meningkatkan aktivitas berbicara, dan mempromosikan membaca serta bahasa asing dapat menjadi strategi sederhana namun efektif untuk mendukung pertumbuhan kosakata dan kemampuan berbahasa anak.

kekurangan kosakata anakpenggunaan gawaispeech delaypembelajaran bahasa asingkebiasaan membacainteraksi orang tuateknologi digital

Komentar

Memuat komentar...