Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Harga Baru Cuma Setengah dari Harga Pasar

Yanto K. · 3 min baca · 5 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Harga Baru Cuma Setengah dari Harga Pasar

Gambar atau konten salah?

Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax resmi naik menjadi Rp 16.250 per liter per 10 Juni 2025. Kenaikan ini cukup signifikan, yaitu sebesar Rp 3.950 dari harga sebelumnya yang dipatok di angka Rp 12.300 per liter. Meski begitu, Pertamina menyatakan bahwa harga baru ini masih belum mencapai titik ideal yang mencerminkan biaya produksi dan nilai pasar sebenarnya.

Roberth M. V. Dumatubun, yang menjabat sebagai Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, memberikan penjelasan mengenai kebijakan ini. Menurutnya, kenaikan harga yang diterapkan saat ini baru sekitar setengah dari harga keekonomian yang seharusnya berlaku. "Saat ini penyesuaian kenaikan harga Pertamax masih di level sekitar 50% dari harga keekonomian," ujar Roberth saat dihubungi. Ia menambahkan bahwa produk dengan nilai oktan lebih tinggi dan kualitas yang lebih baik, seperti Pertamax, secara logis memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan Pertalite jika dilihat dari sisi keekonomian.

Pertamax sendiri termasuk dalam golongan BBM Non-Subsidi atau Jenis Bahan Bakar Minyak Umum (JBU). Artinya, harga jualnya seharusnya mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia yang bergerak dinamis. Namun, dalam beberapa periode sebelumnya, pemerintah turun tangan untuk mengintervensi harga agar tidak melonjak terlalu tinggi. "Pemerintah berkoordinasi dengan Pertamina agar tidak dilakukan penyesuaian harga per 1 April 2026. Harga Pertamax ditahan untuk tidak naik," ungkap Roberth, menjelaskan bahwa ada tekanan dari situasi global yang membuat harga seharusnya sudah naik lebih awal.

Keputusan untuk menaikkan harga akhirnya diambil pada 10 Juni 2025. Langkah ini disebut sebagai jalan tengah. Di satu sisi, negara harus menjaga agar beban fiskal tidak terlalu berat, dan di sisi lain, daya beli masyarakat juga harus tetap diperhatikan. Pertamina tidak sendirian dalam langkah ini. Seluruh Badan Usaha (BU) swasta yang menyediakan BBM di Indonesia juga melakukan penyesuaian harga yang serupa pada waktu yang hampir bersamaan.

Roberth menekankan bahwa harga yang ditetapkan sekarang bukanlah harga pasar penuh. "Harga yang disesuaikan juga tidak sepenuhnya mengikuti harga keekonomian berbasis harga pasar atau internasional. Poin penting saat ini adalah bahwa harga Pertamax saat ini ada peran pemerintah di dalamnya, dan juga Pertamina," pungkasnya. Artinya, ada subsidi silang atau kebijakan khusus yang membuat harga ini masih lebih rendah dari harga internasional.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut perbandingan harga BBM di beberapa negara tetangga:

  • Malaysia: Tidak menjual BBM dengan RON 92. Bensin RON 95 bersubsidi dijual dengan harga 1,99 ringgit (setara Rp 8.796 per liter). Sementara untuk RON 95 nonsubsidi, harganya mencapai 3,72 ringgit (sekitar Rp 16.444).
  • Thailand: BBM RON 91 dijual seharga 42,74 baht (setara Rp 23.327 per liter).
  • Filipina: Bensin tanpa timbal RON 91 dijual seharga 90,36 peso (Rp 26.430). Untuk RON 95, harganya 96,87 peso (Rp 28.335), dan RON 97 mencapai 105,35 peso (Rp 30.815).
  • Vietnam: Bensin RON 92 yang setara dengan Pertamax dijual dengan harga sekitar Rp 14 ribuan, lebih murah dari harga Pertamax saat ini.

Sigit Setiawan, yang menjabat sebagai VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, menegaskan bahwa perusahaan sudah berusaha keras menahan harga. "Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu kalau di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300," kata Sigit. Ia menambahkan bahwa harga internasional untuk produk serupa (RON 91 dan 92) sudah berada di kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000. Kenaikan ini, menurutnya, adalah pesan kepada konsumen bahwa kondisi pasar memang memaksa harga untuk naik, dan hal ini perlu dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan BBM di dalam negeri tetap terjaga.

Pada akhirnya, kenaikan harga Pertamax ini merupakan penyesuaian yang sudah lama ditunda. Meskipun terasa berat bagi konsumen, angka Rp 16.250 per liter masih lebih rendah dari harga pasar internasional yang sempat menyentuh angka Rp 20.000-an. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan keseimbangan antara keuangan negara, kelangsungan usaha badan penyedia BBM, dan kemampuan masyarakat untuk membeli bahan bakar.

Pertamaxkenaikan hargaBBMharga keekonomiansubsidiPertamina10 Juni 2025

Komentar

Memuat komentar...