Perusahaan Indonesia Turunkan Lowongan Kerja, Fokus Stabilitas
Gambar atau konten salah?
Perusahaan di Indonesia kini menghadapi ketidakpastian ekonomi yang membuat banyak pihak memutuskan untuk menunda proses perekrutan karyawan baru. Langkah ini memaksa departemen sumber daya manusia (HRD) untuk menahan atau menurunkan pembukaan lowongan kerja baru.
Menurut Ivan Taufiza, praktisi HR dan Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), keputusan tersebut bertujuan menjaga stabilitas operasional tanpa harus melakukan pemutusan hubungan kerja secara drastis. Ia menegaskan bahwa secara umum HRD melakukan tiga jenis rekrutmen: replacement atau mengganti karyawan yang keluar, membuka lowongan karena ekspansi bisnis, atau membuka lowongan karena investasi baru. “Jadi ada tiga kelompok, pertama orang diganti, kedua yang ekspansi, ketiga yang memang belum merekrut karena masih dalam tahap pembangunan,” kata Ivan, ditulis Jumat, 24 April 2026.
Ivan menjelaskan bahwa banyak perusahaan saat ini menahan proses rekrut pada dua kategori pertama. Ia menambahkan, “Kalau yang satu kan replacement, mungkin menurun, walaupun itu saya debat juga,”. Dalam pengamatan Ivan, kategori replacement tidak menimbulkan perubahan signifikan, namun ekspansi menjadi perhatian utama. Banyak kliennya menurunkan jumlah lowongan karena laju pertumbuhan yang diperlambat.
Contoh konkret datang dari klien industri kaca. Ivan mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut berencana menurunkan jumlah lowongan karena kenaikan biaya operasional. “Nah, kaca itu kan perlu gas untuk peleburan ya. Dia sudah tanda tangan kontrak harga gasnya Rp 6 ribu per kilogram, sekarang naik jadi Rp 9 ribu, itu kan sudah naik 50%. Tadinya dia mau merekrut 2.000 orang, kemarin diskusi sama saya, ‘kayaknya kita mau koreksi, nggak tahu jadi berapa, tapi sepertinya nggak bakal 2.000’. Nah yang seperti ini,” jelas Ivan.
Menurutnya, satu-satunya kategori yang masih berpotensi menyerap tenaga kerja baru adalah investasi baru. Beberapa kliennya berencana membuka lowongan besar setelah fasilitas seperti pabrik selesai dibangun. “Karena lagi bangun pabrik, artinya belum merekrut. Nah, gerbong yang ini sebenarnya menjanjikan, cuma ini belum bisa didorong juga kalau belum jadi,” tuturnya.
Selain menurunkan kuantitas lowongan, perusahaan juga mulai mengurangi spesifikasi kemampuan yang dibutuhkan. Tujuannya menekan biaya operasional. Ivan mengutip contoh: “Misalnya dia perlu kaliber 20 tahun pengalaman dengan gaji Rp 200 juta. Karena satu dan lain hal, ‘saya nggak perlu 20 tahun, cukup 10 tahun saja’. Lalu budget-nya juga diturunkan dari Rp 200 juta menjadi Rp 100 juta. Itu dikoreksi,” ujarnya.
Perubahan ini memiliki dampak besar. “Jadi selain jumlahnya dikoreksi, kalibernya juga diturunkan. Nah ini implikasinya besar. Kita bicara secara negara, kalau tadinya ada seribu orang digaji Rp 200 juta, itu perputaran uangnya berbeda dengan yang gajinya hanya Rp 50 juta. Dampaknya jauh,” tambah Ivan.
Data tambahan datang dari survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Bob Azam, mengungkapkan bahwa 67% perusahaan tidak berniat melakukan rekrutmen baru. “Sebanyak 67% perusahaan tidak berniat melakukan rekrutmen baru. Ini yang menurut kami juga perlu diperhatikan,” ujarnya pada rapat Panja RUU Ketenagakerjaan dengan Komisi IX DPR RI, Selasa, 14 Juni 2026.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 50% perusahaan tidak memiliki rencana ekspansi dalam lima tahun ke depan. “Hasil survei kami di APINDO saat ini, 50% perusahaan tidak punya rencana untuk ekspansi dalam lima tahun ke depan. Ini juga menjadi perhatian,” jelas Bob.
Dengan penurunan jumlah lowongan, penurunan kaliber, dan penyesuaian gaji, perusahaan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang tidak pasti. Perubahan ini mencerminkan strategi konservatif yang diambil banyak organisasi untuk menjaga kelangsungan operasional sambil menunggu situasi ekonomi membaik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
