Petani Tuntut Pemisahan Saluran Air di Bendungan Semantok
Gambar atau konten salah?
Ratusan petani dari tiga desa di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, menggelar aksi demonstrasi di Bendungan Semantok, Desa Sambikerep, pada hari Selasa, 31 Maret 2026. Mereka menuntut agar kebutuhan air untuk lahan pertanian dapat dipenuhi secara adil.
Petani datang mulai pukul 09.00 WIB. Mereka menggunakan motor, mobil bak terbuka, dan sound system. Di atas kendaraan, spanduk bertuliskan “Kami HIPPA tiga desa menuntut pemenuhan kebutuhan air untuk lahan pertanian, karena kami paling dekat dengan Bendungan Semantok tapi paling jauh dari layak pemenuhan air” terlihat jelas.
Aksi ini mendapat pengawalan ketat dari aparat gabungan Polri, TNI, dan Satpol PP. Sekitar pukul 09.45 WIB, para petani melakukan dialog dengan pihak BBWS Brantas. Mereka didampingi Plt Kepala Dinas PUPR Nganjuk dan sejumlah pejabat terkait. Audiensi berlangsung hampir satu jam dan berakhir pukul 11.00 WIB.
Koordinator aksi, Tri Maryono, yang juga Ketua HIPPA Desa Sambikerep, menjelaskan dua tuntutan utama. Pertama, pemisahan saluran drainase antara air dari permukiman relokasi warga dengan jaringan irigasi sawah. “Selama ini jadi satu. Saat hujan, air dari pemukiman masuk ke jaringan irigasi. Dampaknya kembali ke petani, kami dirugikan,” ujar Tri kepada petani.
Tri menegaskan bahwa langkah jangka pendek yang diminta adalah pengerahan alat berat untuk memisahkan aliran tersebut, sambil menunggu pembangunan saluran baru sebagai solusi jangka panjang.
Tuntutan kedua, lanjutnya, adalah percepatan pembangunan drainase baru serta perbaikan jaring pengaman baja (trashboom) yang saat ini masih dalam proses lelang. Selain itu, petani meminta pengoptimalan jadwal distribusi air di wilayah hilir. “Lahan petani yang terdampak sekitar 240 hektare di tiga desa,” imbuh Tri.
Perwakilan BBWS Brantas di Bendungan Semantok, Andi Surya, menanggapi tuntutan tersebut. Ia menyampaikan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan mendatangkan ekskavator sebagai solusi jangka pendek. “InsyaAllah dua minggu ini alat sudah datang. Bahkan satu minggu kita upayakan sudah mulai bekerja agar petani tidak kekurangan air,” ujar Andi di depan massa.
Selain itu, disepakati perubahan pola distribusi air menjadi 13 hari mengalir dan 2 hari berhenti, dari sebelumnya hanya 7 hari. Ini dinilai lebih menguntungkan petani dibanding pola sebelumnya.
Kesepakatan lain dalam audiensi meliputi perbaikan trashboom setelah ada dukungan pemerintah desa, serta koordinasi lanjutan terkait peningkatan saluran irigasi yang masih menunggu proses lelang dan persetujuan kontrak.
Massa membubarkan diri sekitar pukul 12.00 WIB. Namun mereka memberikan tenggat waktu: jika dalam waktu satu hingga dua minggu tidak ada tindak lanjut, mereka akan kembali menggelar aksi dengan jumlah lebih besar.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa petani di Nganjuk masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan air. Meskipun ada rencana perbaikan, mereka menuntut tindakan cepat agar lahan pertanian tidak terus terancam kekurangan air.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Surabaya Target 250 Medali Emas Porprov Jatim 2027
Persebaya Penasaran Ramadhan Sananta, Bebas Transfer
Cuaca Berawan Surabaya Hari Ini, Suhu 24-34°C Kelembapan
Surabaya Tampilkan Jadwal Sholat Lengkap 4 Juni 2026
Kebijakan Baru Pemerintah Mengurangi Plastik Sekali
Gudang Semen Terbakar di Nganjuk, Tidak Ada Korban Jiwa
Berita Terbaru
Scammer Solo Baru Target Warga AS, Polda Jawa Tengah
Beasiswa Garuda Gelombang II Terbuka Hingga 25 Juni 2026
Moody's Atur Peringkat Baa2 Negatif untuk Danantara Investasi
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Perpres No.27 2026: Potongan Ojek Online 8% Belum Berlaku
Brasil Bayar 203 Miliar Rupiah ke Ancelotti, Piala 2026
