Petani Tuntut Pemisahan Saluran Air di Bendungan Semantok

Ratna D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 63 dibaca
Bisik.id
Petani Tuntut Pemisahan Saluran Air di Bendungan Semantok

Gambar atau konten salah?

Ratusan petani dari tiga desa di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, menggelar aksi demonstrasi di Bendungan Semantok, Desa Sambikerep, pada hari Selasa, 31 Maret 2026. Mereka menuntut agar kebutuhan air untuk lahan pertanian dapat dipenuhi secara adil.

Petani datang mulai pukul 09.00 WIB. Mereka menggunakan motor, mobil bak terbuka, dan sound system. Di atas kendaraan, spanduk bertuliskan “Kami HIPPA tiga desa menuntut pemenuhan kebutuhan air untuk lahan pertanian, karena kami paling dekat dengan Bendungan Semantok tapi paling jauh dari layak pemenuhan air” terlihat jelas.

Aksi ini mendapat pengawalan ketat dari aparat gabungan Polri, TNI, dan Satpol PP. Sekitar pukul 09.45 WIB, para petani melakukan dialog dengan pihak BBWS Brantas. Mereka didampingi Plt Kepala Dinas PUPR Nganjuk dan sejumlah pejabat terkait. Audiensi berlangsung hampir satu jam dan berakhir pukul 11.00 WIB.

Koordinator aksi, Tri Maryono, yang juga Ketua HIPPA Desa Sambikerep, menjelaskan dua tuntutan utama. Pertama, pemisahan saluran drainase antara air dari permukiman relokasi warga dengan jaringan irigasi sawah. “Selama ini jadi satu. Saat hujan, air dari pemukiman masuk ke jaringan irigasi. Dampaknya kembali ke petani, kami dirugikan,” ujar Tri kepada petani.

Tri menegaskan bahwa langkah jangka pendek yang diminta adalah pengerahan alat berat untuk memisahkan aliran tersebut, sambil menunggu pembangunan saluran baru sebagai solusi jangka panjang.

Tuntutan kedua, lanjutnya, adalah percepatan pembangunan drainase baru serta perbaikan jaring pengaman baja (trashboom) yang saat ini masih dalam proses lelang. Selain itu, petani meminta pengoptimalan jadwal distribusi air di wilayah hilir. “Lahan petani yang terdampak sekitar 240 hektare di tiga desa,” imbuh Tri.

Perwakilan BBWS Brantas di Bendungan Semantok, Andi Surya, menanggapi tuntutan tersebut. Ia menyampaikan bahwa dalam waktu dekat pihaknya akan mendatangkan ekskavator sebagai solusi jangka pendek. “InsyaAllah dua minggu ini alat sudah datang. Bahkan satu minggu kita upayakan sudah mulai bekerja agar petani tidak kekurangan air,” ujar Andi di depan massa.

Selain itu, disepakati perubahan pola distribusi air menjadi 13 hari mengalir dan 2 hari berhenti, dari sebelumnya hanya 7 hari. Ini dinilai lebih menguntungkan petani dibanding pola sebelumnya.

Kesepakatan lain dalam audiensi meliputi perbaikan trashboom setelah ada dukungan pemerintah desa, serta koordinasi lanjutan terkait peningkatan saluran irigasi yang masih menunggu proses lelang dan persetujuan kontrak.

Massa membubarkan diri sekitar pukul 12.00 WIB. Namun mereka memberikan tenggat waktu: jika dalam waktu satu hingga dua minggu tidak ada tindak lanjut, mereka akan kembali menggelar aksi dengan jumlah lebih besar.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa petani di Nganjuk masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan air. Meskipun ada rencana perbaikan, mereka menuntut tindakan cepat agar lahan pertanian tidak terus terancam kekurangan air.

petaniBendungan Semantokair irigasiHIPPAdrainaseBBWS Brantastrashboom

Komentar

Memuat komentar...