Piala Dunia 2026: 8 Tim MENA Tingkatkan Pariwisata Global
Gambar atau konten salah?
Piala Dunia FIFA 2026, yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menandai puncak prestasi sepak bola bagi negara-negara di kawasan Jazirah Arab. Dengan delapan tim MENA—Arab Saudi, Qatar, Yordania, Maroko, Tunisia, Mesir, Aljazair, dan Irak—kawasan ini menembus putaran final, menggandakan rekor yang dicapai pada 2018.
Yordania mencatat sejarah, tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya, sementara Irak kembali ke panggung internasional setelah absen 40 tahun, sebuah fakta yang diambil dari Gulf News pada 14 Juni 2026.
Turnamen ini memperluas partisipasi menjadi 48 tim, sebuah format baru yang belum pernah dilihat sebelumnya. Diperkirakan akan menarik 6,5 juta penonton, dan menurut studi Oxford Economics, dapat menambah USD 40,9 miliar atau Rp 727,57 triliun ke PDB global.
Namun, penyelenggara menilai bahwa dampak akhir mungkin lebih sederhana jika menghitung pengeluaran nyata—biaya tiket, perjalanan, akomodasi, dan tekanan infrastruktur kota tuan rumah.
Josh Gilbert, Analis Utama Timur Tengah di eToro, menekankan bahwa nilai terbesar bagi ekonomi Arab terletak pada eksposur luar biasa yang diperoleh. Menurutnya, keuntungan finansial langsung bukanlah satu-satunya target utama partisipasi.
"Bagi negara-negara yang terlibat, hadiahnya bukan hanya turnamen itu sendiri, tetapi perhatian yang didapat. Perjalanan yang kuat di turnamen menempatkan suatu negara di hadapan audiens global, menghasilkan eksposur yang tidak dapat ditiru oleh anggaran pariwisata mana pun," kata Gilbert.
Kasus Maroko pada 2022 menjadi contoh jelas efek domino sepak bola. Keberhasilan Maroko mencapai babak semifinal di Qatar secara langsung mendorong industri pariwisata, di mana Maroko menyambut 14,5 juta pengunjung pada 2023, meningkat 34% dibanding tahun sebelumnya.
Gilbert menambahkan, “Sepak bola memang bukan satu-satunya alasan di balik lonjakan tersebut, tetapi turnamen tersebut sangat membantu menjaga Maroko tetap menjadi bagian dari percakapan global dan mendukung permintaan pariwisata jauh setelah peluit akhir dibunyikan.”
Efek positif yang sama dapat bekerja di jajaran negara Arab yang lebih luas, terutama jika satu atau lebih tim melaju jauh di Piala Dunia 2026. Sektor pariwisata, maskapai penerbangan, perhotelan, restoran, pengecer, hingga merek konsumen akan mendapatkan keuntungan besar dari visibilitas tinggi yang datang bersama momentum turnamen.
"Demam Piala Dunia sulit diabaikan, dan meluas jauh melampaui kota-kota tuan rumah," ujarnya.
Hal ini sangat relevan bagi Uni Emirat Arab (UEA) dan wilayah Teluk, di mana sektor pariwisata dan perhotelan telah berkembang pesat. Sebagai gambaran tren positif, Gulf Cooperation Council (GCC) berhasil menarik 72,2 juta wisatawan mancanegara pada 2024, meningkat 51,5% dari 2019, sementara hotel-hotel di UEA menyambut rekor baru dengan 32,34 juta tamu pada 2025.
Meskipun UEA tidak menjadi tuan rumah pertandingan, dampak ekonomi Piala Dunia diperkirakan akan tetap mengalir kuat melalui saluran pengeluaran lokal. Penggemar sepak bola kemungkinan besar akan mengeluarkan uang untuk penerbangan, penginapan, pesta menonton, bar olahraga, restoran, layanan pengiriman makanan, pembelian merchandise, iklan, sistem pembayaran, hingga langganan platform streaming.
Dengan demikian, penyiar, platform digital, penyedia pembayaran, dan merek konsumen juga diperkirakan akan mendapat manfaat besar dari peningkatan keterlibatan masyarakat selama turnamen berlangsung.
Arab Saudi telah memimpin investasi sepak bola regional, sementara Qatar, UEA, dan Maroko juga telah menggunakan olahraga sebagai bagian dari rencana diversifikasi ekonomi yang lebih luas. Strategi jangka panjang ini sengaja dibangun di sekitar pariwisata, peningkatan visibilitas global, dan pertumbuhan sektor konsumen untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.
Gilbert menutup dengan menilai bahwa turnamen ini menjadi momentum pelengkap yang sangat tepat untuk target jangka panjang kawasan tersebut. "Piala Dunia tidak akan mengubah perekonomian regional dengan sendirinya, tetapi ini merupakan dorongan bagi sektor-sektor yang sudah bergerak ke arah yang benar dan dengan lebih banyak tim Arab yang terlibat daripada sebelumnya, MENA memiliki panggung yang lebih besar," katanya.
Perlu dicatat bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga platform eksposur global bagi negara-negara MENA. Dengan delapan tim berpartisipasi, peningkatan visibilitas ini dapat memperkuat posisi ekonomi dan pariwisata kawasan, memberi peluang bagi sektor-sektor terkait untuk tumbuh dalam jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Piala Dunia 2026: 8 Tim MENA Tingkatkan Pariwisata Global
FC Mobile Kode Redeem Baru, Dapatkan Star Shard Sekarang
Kepala Bapanas: Stok Beras 5,3 Juta Ton, Tidak Ada Kelangkaan
Palembang Siapkan Zona UMKM Kuliner, BRI Bantu Tenda Seragam
Bangunan Gudang Trotoar Bandung Jadi Parkir Mobil Diperbongkar
Polres Gianyar Patroli 12 Jalan, Hindari Balap Liar
Lingga Prasasti Abad ke-9 di Klaten: Palyangan Menjadi Fokus
