Lingga Prasasti Abad ke-9 di Klaten: Palyangan Menjadi Fokus
Gambar atau konten salah?
Lingga prasasti yang ditemukan di gang Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, menunjukkan jejak sejarah yang menarik. Batu ini diperkirakan berasal dari abad ke-9 Masehi, berdasarkan bentuk aksara dan ciri fisiknya.
Temuan ini menimbulkan perbandingan dengan dua prasasti lain yang ditemukan pada masa kolonial Belanda, yaitu prasasti di Srago dan Mudal. Kedua prasasti tersebut memiliki kesamaan bentuk, ukuran, dan tulisan yang sama, yakni Palyangan.
Dukuh Srago kini berada di wilayah Kelurahan Mojayan, Klaten Tengah, hanya sekitar satu kilometer ke barat Dukuh Jogodayoh Lor. Sedangkan Dukuh Mudal masuk wilayah Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, dan terletak sekitar satu kilometer ke utara Dukuh Jogodayoh Lor.
Menurut buku laporan Dr. J.L.A Brandes berjudul Oud- Javaansche Oorkonden (terbitan 1913), isi prasasti Srago dan Mudal ditulis dengan jelas. Dalam catatan tersebut, satu alinea tentang prasasti Mudal berbunyi:
"Prasasti Srago ditemukan tahun 1886 dan prasasti Moedal tahun 1888. Untuk yang Mudal prasastinya hilang di Jonggrangan sebagaimana laporan Brandes itu," kata Hari.
Selanjutnya, terjemahan catatan Dr. Brandes menyebutkan:
"Pada rapat dewan Batavia Society tanggal 04 September 1888 (lihat Risalah tahun itu, halaman 154, VII, a), Dr. J. L. A. Brandes menyampaikan hal berikut secara tertulis: Bapak G. P. Rouffaer, saya diberitahu tentang keberadaan lingga (?) yang setengah rusak, yang ditemukan pada saat itu di sawah di desa Moedal, pada titik 1/2 di timur laut Klaten. Lingga (?) ini, yang beberapa waktu lalu dipindahkan ke tambang milik Bapak van der Spek, pengelola perkebunan indigo Jonggrangan, terbelah menjadi dua di sepanjang sumbu longitudinal, dan terdapat prasasti, yang sebagiannya telah hilang bersama dengan sebagian batunya. Berdasarkan salinan yang dikirim oleh Bapak Rouffaer bersama pesannya, tampaknya tulisan tersebut berbunyi: Palyangan."
Hari menjelaskan bahwa prasasti Srago ditemukan pada tahun 1886, sedangkan prasasti Mudal pada tahun 1888. Ia menambahkan bahwa prasasti Mudal hilang saat dibawa ke pabrik Jonggrangan, namun sudah dicatat oleh Brandes.
Prasasti Srago memiliki bentuk silinder pendek dengan bagian atas kerucut, alas persegi, tinggi 75 sentimeter dan diameter 36 sentimeter. Pada sisi tengah silinder tertulis aksara Jawa kuno Palyangan. Hari menyebutkan bahwa prasasti Srago dibawa ke Batavia (Jakarta) dan kini disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D.51.
Prasasti Mudal, meski hilang, memiliki ciri fisik dan aksara yang sama dengan Srago. Keduanya memiliki bentuk dwibagha, dengan kubus di bawah dan atas silinder yang menampilkan tulisan Palyangan.
Goenawan A Sambodo, seorang epigraf, mencoba membaca lingga tersebut. Ia menyatakan kalimat dalam prasasti itu berbunyi Palyangan. Ia juga menyebutkan bahwa pembacaan masih dalam proses dan belum pasti.
Pegiat sejarah Klaten, Yohanes Sudaryanto, menegaskan bahwa tulisan pada prasasti sudah terbaca sebagai kata Palyangan. Ia berpendapat kata tersebut kemungkinan merupakan nama wilayah.
Yoan menjelaskan bahwa lingga patok prasasti mungkin menunjukkan batas wilayah, namun artinya belum dapat dipastikan. Ia juga menambahkan bahwa dalam bahasa Sansekerta, kata Palyangan tidak ditemukan sebagai kosakata baku.
Prasasti Jogodayoh Lor, Srago, dan Mudal memiliki ukuran yang hampir sama. Srago dan Mudal masing-masing tinggi 75 sentimeter, sedangkan Jogodayoh Lor sekitar 80 sentimeter. Semua prasasti memiliki bentuk dwibagha, dengan kubus di bawah dan atas silinder serta tulisan Palyangan.
Temuan ini menambah pemahaman tentang sejarah daerah Klaten dan sekitarnya. Penemuan lingga prasasti di tiga lokasi yang berjarak tidak terlalu jauh menunjukkan adanya jaringan atau sistem wilayah yang terhubung pada masa lalu. Keberadaan tulisan Palyangan di ketiga prasasti menandakan kemungkinan nama wilayah atau zona administratif yang pernah ada di wilayah tersebut. Penelitian lebih lanjut, termasuk analisis material dan konteks sejarah, dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang fungsi dan makna prasasti ini dalam sejarah lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Mobil Melintasi Palang, Nyaris Menabrak Kereta di Semarang
Kalender Muharram 1448 H dan Jadwal Puasa Rinci 2026
Batu Lingga Terselubung di Klaten Terungkap Aksara Asal Usul
Batu Lingga Abad IX Ditemukan di Klaten, Tertulis Palyangan
Piton 2 Meter Masuk Warung, Damkar Evakuasi Warga Pagi
40 Desain Spanduk Pawai 1 Muharram 2026: Panduan Lengkap
Berita Terbaru
Lingga Prasasti Abad ke-9 di Klaten: Palyangan Menjadi Fokus
Polres Gianyar Gelar Lomba Suara Burung Piala Kapolres 2026
Bacaan Yasin Tiga Kali 1 Muharram: Praktik dan Manfaat
Sangkala, Maros, Wafat di Makkah; Menteri Hadiri Duka
Mobil Melintasi Palang, Nyaris Menabrak Kereta di Semarang
Bus Trans Jatim rencanakan koridor baru Pasuruan, fokus industri
Folarin Balogun Cetak Brace, AS Kalahkan Paraguay 4-1
Spanyol Pilih Tiga Kiper Kelas Dunia untuk Piala 2026
ITB Buka Pendaftaran Beasiswa Penuh S2 AI, Tutup 15 Juni
Bank Jakarta Hadir di Jakarta Fair 2026, Tawarkan Layanan Digital
