Pindapata Waisak 2570 BE: Umat Tulungagung Berderma Sehari

Sari D. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 72 dibaca
Bisik.id
Pindapata Waisak 2570 BE: Umat Tulungagung Berderma Sehari

Gambar atau konten salah?

Menjelang puncak perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddish Era (BE), umat Buddha di Tulungagung menggelar tradisi Pindapata. Pada pagi hari, biku berkeliling untuk menerima derma dari masyarakat.

Pembina Rohaniawan Vihara Buddha Loka Tulungagung, Sugianto Gandhika, menjelaskan bahwa dalam tradisi ini salah satu buku yang ditunjuk berjalan kaki berkeliling kampung mulai vihara melewati jalan Mayjen Sungkono dan Teuku Umar sambil membawa mangkuk atau patta untuk menerima derma berupa bahan pangan.

Umat Vihara Buddha Loka Tulungagung melakukan kegiatan pemberian derma kepada biku atau pertapa, ujar Sugianto pada Minggu (31 Mei 2026).

Pindapata merupakan salah satu bentuk dukungan umat terhadap para biku dalam bentuk materi atau bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari‑hari. Harapannya para biku terus dapat menjaga ajaran Budha dan dalam kondisi sehat.

Semoga bisa terus membimbing umat Buddha untuk berada di jalan kebenaran, imbuhnya.

Dalam tradisi ini, Vihara Budha Loka Tulungagung mendapatkan satu biku utusan dari pembina wilayah Jawa Timur.

Betul, kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh umat Buddha. Tadi banyak warga yang ikut memberikan derma, ujarnya.

Sugianto berharap, momen Waisak ini dapat mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mendapatkan kebahagiaan pada kehidupan yang akan datang.

Sesuai kalender puncak Tri Suci Waisak tahun 2470 BE jatuh pada pukul 15.44 WIB. Nantinya, umat Budha akan melalukan ritual dengan membaca Tipitaka serta meditasi.

Tradisi Pindapata ini menegaskan betapa pentingnya peran masyarakat dalam mendukung kehidupan spiritual para biku. Dengan memberikan bahan pangan, warga Tulungagung membantu para biku tetap sehat dan fokus pada ajaran Buddha. Kegiatan ini juga mempererat hubungan antara umat Buddha dan masyarakat non‑Buddha, menunjukkan bahwa nilai kebaikan dapat dilestarikan di berbagai lapisan sosial.

Kegiatan ini menandai momen penting bagi komunitas Buddha Tulungagung, sekaligus mengajak semua pihak untuk terus menjaga kebersamaan dan kepercayaan dalam kehidupan sehari‑hari.

Perayaan Waisak di Tulungagung menjadi contoh sederhana bagaimana tradisi spiritual dapat dipadukan dengan solidaritas sosial, memperkuat ikatan antarwarga dan memupuk rasa saling menghargai.

Tri Suci WaisakPindapataVihara Buddha Loka Tulungagungbikudermabahan panganmeditasisolidaritas sosial

Komentar

Memuat komentar...