Prabowo: Desa Gak Pakai Dolar, Purbaya: Dampak Minim

Putri N. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Prabowo: Desa Gak Pakai Dolar, Purbaya: Dampak Minim

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan maksud pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang “orang desa nggak pakai dolar”. Pernyataan itu muncul saat Prabowo melakukan kunjungan kerja ke Jawa Timur beberapa hari lalu.

Purbaya menegaskan bahwa komentar Prabowo dimaksudkan semata‑mata untuk menghibur masyarakat desa. Ia menambahkan bahwa Presiden sadar betapa pentingnya nilai tukar dolar AS, namun saat itu pernyataan tersebut hanya bertujuan menenangkan warga.

“Untuk menghibur rakyat. Saya sih lihat konteksnya di perdesaan waktu kemarin itu, nggak apa‑apa ngomong begitu. Bukan berarti presiden nggak ngerti dolar gitu,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat pada 18 Mei 2026.

Pernyataan Prabowo menjadi viral karena banyak disebarkan di media sosial. Purbaya berpendapat bahwa dampak nilai tukar dolar AS tidak sebesar yang dipaparkan. Ia menilai bahwa efeknya terlalu jauh bagi orang desa.

“Kan yang besar‑besarkan kan Anda, media, terus disebar ke mana‑mana. Kalau buat orang desa ya emang terlalu jauh lah (dampaknya nilai tukar dolar),” tambah Purbaya.

Selanjutnya, Purbaya membahas potensi kenaikan harga barang impor, yang sering disebut imported inflation. Ia menjelaskan contoh kenaikan harga kacang kedelai akibat melemahnya rupiah, yang kemudian memengaruhi harga tempe dan tahu.

Menurutnya, imported inflation tidak akan signifikan. Ia meragukan konsep tersebut, menyatakan bahwa buku‑buku ekonomi seringkali tidak konsisten tentang hal itu.

“Imported inflation secara teoritis nggak terlalu signifikan kok. Kalau kamu baca buku‑buku ekonomi yang clear seperti itu, kadang‑kadang jelas kadang‑kadang nggak, sebagian meragukan adanya imported inflation,” ujar Purbaya.

Purbaya menambahkan bahwa kenaikan harga yang diasumsikan berasal dari imported inflation biasanya tidak langsung terjadi. Ia menekankan adanya keterlambatan dan kadang hilang sebelum memengaruhi konsumen.

“Itu pasti ada delay dan kadang‑kadang juga hilang. Jadi itu, kalau di buku‑buku, kadang‑kadang buku‑buku textbook yang betul ya, kadang‑kadang ada, kadang‑kadang nggak, kadang‑kadang ada yang meragukan gitu,” terang Purbaya.

Prabowo sebelumnya menyinggung nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah hingga Rp 17.500. Ia menilai fluktuasi tersebut masih terkendali dan tidak perlu dikhawatirkan, khususnya di desa. Menurutnya, dampak pelemahan rupiah lebih terasa bagi mereka yang sering bertransaksi atau bepergian ke luar negeri.

Dalam sambutannya di peresmian 1.062 Kopdes Merah Putih, Prabowo mengingatkan warga desa bahwa mereka tidak menggunakan dolar.

“Nggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa‑desa nggak pakai dolar,” kata Prabowo, dikutip dari siaran YouTube Sekretariat Presiden pada 16 Mei 2026.

Secara keseluruhan, pernyataan Prabowo dan penjelasan Purbaya menegaskan bahwa nilai tukar dolar AS memang penting, namun dampaknya bagi masyarakat desa tidak sebesar yang dipaparkan. Kenaikan harga barang impor masih belum signifikan, dan kebijakan pemerintah menargetkan kestabilan ekonomi di tingkat desa.

Menteri KeuanganPrabowo Subiantonilai tukar dolar ASrupiahimported inflationharga barang imporkebijakan desa

Komentar

Memuat komentar...