Prank Ulang Tahun Medan Berujung Radang Otak Remaja
Gambar atau konten salah?
Di kota Medan, sebuah prank ulang tahun yang viral di media sosial menimbulkan kontroversi ketika korban mengalami radang otak. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang hubungan antara tekanan mental dan kondisi otak.
Psikolog klinis Sairah menjelaskan bahwa tekanan psikologis berat memang dapat memengaruhi tubuh secara signifikan. Menurutnya, stres, rasa takut, trauma, dan tekanan sosial yang ekstrem dapat menurunkan fungsi tubuh dan otak.
“Iya, tentu. Secara ilmiah, memang tekanan psikologis berat itu memiliki dampak ya, dampak serius pada tubuh dan fungsi otak. Stres akademik ataupun stres kerja yang ekstrim, kemudian rasa malu, ketakutan, ada traumatik, tekanan sosial yang ekstrim,” ujarnya.
Sairah menambahkan bahwa kondisi mental seperti depresi hingga kecemasan berat dapat melumpuhkan bagian sistem otak. Ia menekankan bahwa otak memiliki area yang sangat terkait dengan kesehatan mental.
“Nah seperti depresi, kecemasan berat bisa sangat melumpuhkan bagian sistem di otak kita karena ada di sistem otak kita ini yang terkait dengan masalah mental kita,” lanjutnya.
Walaupun secara medis radang otak biasanya disebabkan oleh infeksi atau gangguan fisik tertentu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, stres berat dapat memperburuk kondisi tubuh. Hal ini terjadi melalui penurunan sistem imun, yang pada gilirannya menurunkan fungsi saraf dan kesehatan secara drastis.
“Nah, namun perlu dipahami ya, radang otak yang secara medis yang disebabkan oleh infeksi atau gangguan tertentu itu juga perlu pemeriksaan, pemeriksaan dari dunia medis, kedokteran. Jadi kalau stres berat dapat memperburuk kondisi tubuh dan mempengaruhi sistem imun, sehingga fungsi saraf menjadi turun dan kesehatan juga akan menurun secara drastis,” ujarnya.
Di kalangan remaja, tekanan yang berasal dari media sosial—seperti perundungan atau prank berlebihan—dapat menjadi sangat berbahaya. Kondisi fisik dan emosional remaja masih dalam tahap perkembangan, sehingga mereka lebih rentan terhadap dampak negatif.
“Nah, pada anak-anak remaja, tekanan-tekanan sosial seperti bullying ya, perundungan, atau prank yang berlebihan, itu sangat berbahaya secara kondisi emosional maupun secara fisik karena memang masih di tahap perkembangan, masih berkembang masalah kognitifnya, masalah emosionalnya, masalah sosialnya, itu masih pada tahapan perkembangan pada remaja,” tutupnya.
Prank di media sosial dapat menimbulkan stres berat yang berdampak pada kesehatan mental dan fisik, termasuk risiko radang otak, terutama pada remaja yang masih dalam proses perkembangan tubuh dan pikiran.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Thailand Malaysia Seri 6 Poin, Persaingan Ketat Grup B AFF
PHR Tegaskan Komitmen Lestari di Hari Lingkungan 2026
Angkat Betis Sederhana, Turunkan Gula Pasca-Makan 52%
Fenomena Orang Tidak Ingat Masa Kecil: Penjelasan Psikolog
Tanda Awal Rayap Menyerang Kayu Rumah Anda: Deteksi Cepat
Dara The Virgin Rencanakan Pertunangan dengan Awan Reyhan Tahun Ini
Berita Terbaru
EMMO Buka 12 Dealer Listrik di Papua, Pengadaan Dipertanyakan
Timnas 3-0 Oman: Hubner, Romeny, Oratmangoen Pemenang
Knicks Menutup Babak Kedua Final 2026 105-104 melawan Spurs
Koordinasi Fiskal‑Moneter BI dan Kemenkeu Fokus Stabil Rupiah
Thailand Malaysia Seri 6 Poin, Persaingan Ketat Grup B AFF
Influencer Minum 11 Suplemen Sekali, Media Sosial Geger
Pizza Teflon Ringan: Resep Praktis dan Lezat, Cocok Anak
