Prevalensi CKD di Singapura Naik 13,9% Tahun 2024, Resmi
Gambar atau konten salah?
Lebih dari 200 ribu warga di Singapura baru saja didiagnosis mengidap penyakit ginjal kronis (CKD). Data ini berasal dari Survei Kesehatan Penduduk Nasional (NPHS) yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Singapura pada 01 Oktober 2025. Pada periode 01 Januari 2023 hingga 31 Desember 2024, prevalensi CKD pada usia 18 hingga 74 tahun mencapai 13,9 persen, naik secara signifikan dibandingkan periode 01 Januari 2019 hingga 31 Desember 2020, yang hanya 8,7 persen.
Survei ini mengumpulkan data melalui pemeriksaan sampel darah dan urine responden. Hasilnya menunjukkan bahwa CKD tersebar luas di kalangan populasi yang berusia menengah dan tua, namun masih banyak yang tidak menyadari kondisi mereka.
Menurut Kementerian Kesehatan Singapura, prevalensi CKD paling tinggi ditemukan pada pasien yang memiliki riwayat diabetes dan hipertensi sekaligus. 47,4 persen dari pasien dengan dua kondisi tersebut juga terdiagnosis CKD, menandakan hubungan kuat antara penyakit metabolik dan kerusakan ginjal.
Direktur medis National Kidney Foundation, Dr Jason Choo, menjelaskan bahwa CKD terdiri dari lima stadium. "Tahap 1 berarti terdapat beberapa kerusakan ginjal, seperti adanya protein dalam urine, tetapi organ tersebut masih berfungsi," terangnya. Tahapan paling parah adalah tahap 5, yang disebut gagal ginjal stadium akhir. Pada tahap ini, pasien harus menjalani dialisis atau transplantasi ginjal.
Dr Jonathan Yeo, direktur Chinatown Family Medicine Clinic, menekankan pentingnya deteksi dini. "Pada saat mereka menyadari ginjal mereka telah melemah secara signifikan, kerusakan tersebut sudah tidak dapat dipulihkan lagi," katanya. Ia juga mengoreksi anggapan umum bahwa nyeri punggung atau nyeri di area ginjal selalu menandakan gangguan ginjal. "CKD sebagian besar tidak menunjukkan gejala sampai pasien mencapai stadium akhir gagal ginjal, jadi mentalitas 'tidak ada gejala berarti saya pasti sehat' adalah keliru," pungkasnya.
Data ini menyoroti bahwa CKD seringkali tidak menampilkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak penderita tidak terdeteksi sampai kerusakan sudah parah. Kondisi ini menjadi perhatian utama bagi tenaga medis dan masyarakat, mengingat prevalensi yang terus meningkat.
Secara keseluruhan, peningkatan prevalensi CKD di Singapura menandakan perlunya upaya preventif dan edukasi yang lebih intensif, khususnya bagi individu dengan diabetes dan hipertensi. Deteksi dini dan manajemen penyakit komorbid dapat membantu menurunkan angka kematian dan komplikasi yang disebabkan oleh kerusakan ginjal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Vaksin HPV di Inggris Kurangi Kematian Serviks Anak Muda
Tiga Saudara Perempuan Temukan Donor Sperma Bersama
Jepang: 95.119 centenarian, pola hidup simpel umur panjang
Tantangan Otak: Mainkan Game Jalur Visual Menantang Konsentrasi
BGN Hentikan MBG Hari Libur, Hemat Rp3 Triliun Operasional
Wabah Kolera di Borno: 90 Kematian, 12.000 Kasus, Kewalahan
Berita Terbaru
TAMU Rilis 18 Menu Nusantara Baru dengan Sentuhan Inovasi
Real Madrid tandatangani Marc Cucurella, kontrak sampai 2032
MBG 2026 Bawa Pemutusan Kontrak dan Gaji Rendah pada Guru
BSI Green Zakat: Sampah Jadi Tabungan Emas Berkelanjutan
Medan: Tokoh Dukung MBG, Harus Awasi Pelaksanaannya
Bandung Barat Rayakan 19 Tahun dengan Upacara Sederhana
Rumor Gempa Palu Tak Picu Gempa Bojonegoro, BMKG Klarifikasi
Perodua Turunkan Biaya Servis 10% Untuk Konsumen Di Malaysia
