Puasa Arafah Bisa Gabung Qadha Ramadan? Pendapat Ulama

Ningsih R. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 131 dibaca
Bisik.id
Puasa Arafah Bisa Gabung Qadha Ramadan? Pendapat Ulama

Gambar atau konten salah?

Puasa Arafah merupakan salah satu puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Pada tahun ini, puasa Arafah 1447 H jatuh pada 26 Mei 2026 dan menjadi amalan yang dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Puasa sunnah ini memiliki banyak keutamaan besar. Salah satu keutamaannya adalah menjadi sebab dihapuskannya dosa selama dua tahun, yakni setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Dikutip dari buku *Ternyata Shalat dan Puasa Sunah Dapat Mempercepat Kesuksesan* oleh Ceceng Salamudin, keutamaan tersebut dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW yang artinya: “Puasa hari Arafah diperhitungkan oleh Allah untuk menghapus dosa dan kesalahan orang yang berpuasa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR Muslim).

Dalam pelaksanaannya, tidak sedikit umat Islam yang ingin menggabungkan puasa Arafah dengan puasa Qadha Ramadan. Hal ini biasanya dilakukan oleh muslim yang masih memiliki utang puasa Ramadan.

Namun, apakah puasa Arafah boleh digabung dengan puasa Qadha Ramadan? Bagaimana hukumnya menurut ulama dan seperti apa bacaan niat puasa Arafah sekaligus Qadha Ramadan dalam tulisan Arab, Latin, dan artinya? Simak uraian lengkapnya berikut ini.

Beberapa ulama memiliki pendapat berbeda terkait hukum menggabungkan puasa Qadha dengan puasa sunnah, termasuk puasa Arafah. Sebagian ulama membolehkan penggabungan niat, sementara sebagian lainnya menganjurkan agar kedua puasa dilakukan secara terpisah.

Menurut mazhab Syafi'iyah, seseorang diperbolehkan menggabungkan niat puasa Qadha Ramadan dengan puasa sunnah Arafah. Dengan demikian, seseorang tetap dapat menjalankan kewajiban mengganti puasa Ramadan sambil berharap memperoleh keutamaan puasa sunnah. Ustadz Alhafiz Kurniawan, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menjelaskan bahwa hukum menggabungkan kedua puasa tersebut adalah boleh dan sah. Ia mengutip: “Qadha puasa Ramadannya tetap sah. Sedangkan ia sendiri tetap mendapatkan keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunnah Arafah.

Di sisi lain, beberapa ulama seperti Abdul Aziz bin Baz, Abdurrahman Ali Al-Askar, serta Muhammad bin Hassan berpendapat bahwa puasa Qadha Ramadan sebaiknya tidak digabungkan dengan puasa sunnah, termasuk puasa Arafah. Menurut pendapat ini, apabila seseorang menggabungkan kedua niat tersebut, maka yang dianggap sah adalah puasa Qadha Ramadan saja. Pahala puasa sunnah Arafah dinilai tidak diperoleh secara sempurna karena ibadah sunnah dilakukan bersamaan dengan ibadah wajib. Wallahu a'lam bish-shawab.

Jika mengacu pada pendapat ulama yang tidak menganjurkan penggabungan niat, maka umat Islam dianjurkan untuk mendahulukan puasa Qadha Ramadan. Sebab, Qadha Ramadan merupakan kewajiban yang harus ditunaikan, sedangkan puasa Arafah bersifat sunnah. Namun, tidak mengapa pula untuk mengerjakan puasa Arafah terlebih dahulu. Mengingat, puasa sunnah ini hanya datang satu kali saja dalam setahun dan keutamaannya begitu agung. Waktu mengganti puasa Qadha Ramadan cukup panjang, terhitung sampai sebelum Ramadan tahun berikut datang.

Menurut buku *Rangkuman Tentang Qadha Puasa* karya Abu Ghozie As-Sundawie, batas akhir melaksanakan puasa Qadha Ramadan adalah hingga bulan Sya'ban atau sebelum memasuki Ramadan berikutnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Aisyah: “Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar hutang puasa tersebut kecuali pada bulan Sya'ban karena kesibukan dengan Rasulullah SAW.” (HR Bukhari no 1950 dan Muslim no 1146).

Berikut bacaan niat bagi yang memilih untuk menggabungkan puasa Arafah dan Qadha Ramadan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَسُنَّةَ يَوْمِ عَرَفَةَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: *Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna wa sunnati yaumi 'Arafata lillāhi ta'ālā.*

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk meng-qadha puasa wajib bulan Ramadan dan puasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala.

Jika memilih memisahnya dan akan mengerjakan puasa Qadha Ramadan esok hari, 26 Mei 2026, begini niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: *Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta'ālā.*

Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk mengganti puasa wajib bulan Ramadan karena Allah Ta'ala.

Adapun untuk yang ingin berpuasa Arafah saja, ini lafal niatnya:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: *Nawaitu shauma 'Arafata sunnatan lillāhi ta'ālā.*

Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta'ala.

Keutamaan puasa Arafah, sebagaimana dijelaskan dalam buku *Ternyata Shalat dan Puasa Sunah Dapat Mempercepat Kesuksesan* dan *Fiqih Puasa* karya Thoat Stiawan, dkk., meliputi:

  • Menghapus Dosa Selama Dua Tahun – Puasa hari Arafah dihapuskan dosa selama dua tahun, yakni setahun yang telah lalu dan setahun yang akan datang. Hadis: “Puasa hari Arafah diperhitungkan oleh Allah untuk menghapus dosa dan kesalahan orang yang berpuasa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR Muslim).
  • Mendapatkan Keutamaan seperti Orang yang Beribadah Haji – Puasa Arafah dilakukan bersamaan dengan wukuf di Padang Arafah oleh jamaah haji. Bagi yang tidak menunaikan haji, puasa Arafah menjadi amalan yang dianjurkan sehingga dapat merasakan kemuliaan hari Arafah dan memperoleh pahala besar.
  • Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda – Puasa Arafah dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, yang dikenal sebagai waktu yang memiliki banyak keutamaan. Pahala puasa Arafah diyakini dilipatgandakan oleh Allah. Selain puasa, dianjurkan memperbanyak dzikir, sedekah, membaca Al‑Quran, dan amal ibadah lainnya.
  • Meneladani Sunnah Nabi Muhammad SAW – Puasa Arafah merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah SAW. Dalam hadits riwayat Hafshah RA, ia berkata: “Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari awal Zulhijah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan.” (HR Abu Dawud dan An‑Nasa'i). Dengan melaksanakan puasa Arafah, umat Islam mengikuti salah satu kebiasaan Nabi.

Dengan demikian, pemahaman tentang bacaan niat puasa Arafah sekaligus Qadha Ramadan serta hukum menggabungkan kedua puasa ini dapat membantu umat dalam memilih cara yang sesuai pandangan ulama. Puasa Arafah tetap dianjurkan, baik dilakukan secara terpisah maupun digabungkan, tergantung pada keyakinan dan penafsiran masing‑masing ulama.

Puasa ArafahQadha RamadanKeutamaan Dua TahunPenggabungan PuasaHukum UlamaNiat PuasaPuasa Sunnah

Komentar

Memuat komentar...