PUMMA: Sensor Real Time Deteksi Tsunami Pasca Gempa 7,6

Maya K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
PUMMA: Sensor Real Time Deteksi Tsunami Pasca Gempa 7,6

Gambar atau konten salah?

Gempa bumi dengan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah utara Sulawesi dan Maluku beberapa waktu lalu. Kejadian ini menegaskan bahwa kawasan timur Indonesia masih sangat aktif secara seismik.

Para peneliti di Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai bahwa gempa tersebut disebabkan oleh sesar naik. Seseorang yang bernama Semeidi Husrin mengatakan, “Sesuai dengan rilis resmi yang dikeluarkan oleh BMKG sebagai otoritas peringatan dini tsunami di Indonesia, gempa bumi yang terjadi di Maluku Utara itu adalah gempa akibat sesar naik dengan kekuatan sekitar 7,6 magnitudo dan berpotensi men-trigger tsunami.”

Meski gempa ini kuat, tsunami yang tercatat di beberapa titik di sekitar episenter hanya mencapai ketinggian kurang dari satu meter. Namun sejarah menunjukkan bahwa wilayah ini pernah mengalami tsunami besar pada abad ke-19. “Sejarah pencatatan abad ke-19 juga di titik yang sama pernah terjadi gempa yang cukup besar dan menyebabkan tsunami yang cukup besar, catatannya bahkan mencapai 15 meter,” tambah Semeidi.

Untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami nasional, BMKG mengembangkan alat bernama PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut). Sistem ini berbeda dengan metode konvensional yang biasanya mengandalkan pemodelan gempa untuk memperkirakan kemungkinan tsunami. “Jadi gempanya dicatat, kemudian tsunaminya dimodelkan. Sementara PUMMA ini langsung mencatat tsunaminya. Jadi tanpa pemodelan, dia secara real time langsung mencatat tsunaminya,” jelas Semeidi.

Perangkat PUMMA dirancang untuk memantau perubahan muka air laut secara langsung. Dengan begitu, indikasi tsunami dapat didapat lebih cepat. Menurut Semeidi, teknologi ini sangat cocok untuk Indonesia yang memiliki banyak pulau kecil di wilayah timur. Contohnya, pada kasus gempa di Maluku Utara, sensor PUMMA dapat dipasang di dua pulau kecil yang dekat dengan sumber gempa, yakni Pulau Maju dan Pulau Batang Dua. “Alat ini bisa dipasang di dua pulau kecil ini sehingga dia bisa membantu lebih cepat untuk deteksi dini tsunaminya,” tambahnya.

Semeidi menjelaskan bahwa PUMMA sudah digunakan selama sekitar enam tahun di wilayah Selat Sunda. Perangkat ini dipasang di Pulau Rakata, kawasan kompleks Gunung Api Anak Krakatau, dan menjadi satu-satunya sistem pemantauan tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik di Indonesia saat ini. “PUMMA saat ini di Selat Sunda terpasang dengan baik di Pulau Rakata, kompleks Gunung api Anak Krakatau yang merupakan satu-satunya sistem atau alat yang melakukan informasi monitoring dan sistem peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda saat ini,” kata Semeidi.

Pengembangan teknologi ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi, Telkomsel, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta sejumlah lembaga nasional dan internasional.

Salah satu hal penting yang diingatkan para peneliti adalah bahwa tsunami tidak selalu dipicu oleh gempa bumi. Peristiwa tsunami di Palu pada 2018 dan Selat Sunda pada tahun yang sama menjadi bukti bahwa tsunami juga dapat dipicu oleh aktivitas gunung api maupun longsor bawah laut. “Tsunami tidak hanya diakibatkan oleh gempa bumi tetapi juga akibat aktivitas gunung api atau longsor bawah air. Aktivitas gunung api, longsor bawah air tidak bisa dideteksi oleh sensor gempa bumi, hanya sensor tertentu seperti sensor muka air yang dipasang dengan tepat yang bisa mendeteksi tsunami lebih dini,” tegasnya.

Oleh karena itu, BRIN mendorong penggunaan sistem multisensor yang dapat melengkapi sistem peringatan dini tsunami yang sudah ada. Selain teknologi deteksi, tantangan lain yang masih dihadapi Indonesia adalah penyampaian informasi peringatan dini di wilayah pesisir yang terdampak. Saat ini, BMKG dapat mengirimkan peringatan dini tsunami dalam waktu sekitar lima menit setelah gempa. Namun, tidak semua wilayah memiliki sistem sirine atau jalur evakuasi yang siap digunakan.

“Ini menjadi tantangan terbesar kita ke depan karena karakteristik tsunami di Indonesia adalah tsunami jarak dekat. Jika kejadian gempa bumi, maka tsunami bisa sampai di pesisir dalam 30 menit atau kurang dari satu jam,”

Dengan sistem PUMMA yang memantau muka air secara real time, serta dukungan multisensor, Indonesia dapat meningkatkan kemampuan deteksi tsunami yang tidak hanya bergantung pada gempa. Namun, masih perlu memperkuat jaringan sirine dan jalur evakuasi di pesisir agar peringatan dapat sampai tepat waktu. Sistem peringatan dini yang lebih komprehensif akan membantu masyarakat mengantisipasi tsunami yang dapat terjadi dari berbagai sumber, baik gempa, aktivitas vulkanik, maupun longsor bawah laut.

Gempa bumiTsunamiPUMMABRINBMKGSesar naikMaluku Utara

Komentar

Memuat komentar...