PVMBG Bantah Hoaks Erupsi Besar Gunung Lawu, Ini Fakta Ilmiahnya

Surya B. · 4 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
PVMBG Bantah Hoaks Erupsi Besar Gunung Lawu, Ini Fakta Ilmiahnya

Gambar atau konten salah?

Sebuah unggahan di media sosial baru-baru ini membuat banyak orang resah. Akun yang dikenal sering menyebarkan berita palsu tentang bencana mengklaim bahwa Gunung Lawu berada di urutan nomor 7 sebagai gunung yang akan segera mengalami erupsi besar. Dalam narasi yang tidak bertanggung jawab itu, disebutkan bahwa ada kenaikan lava yang disebabkan oleh tekanan tektonik dari jalur Bojonegoro.

Klaim ini langsung membuat publik bertanya-tanya dan cemas. Namun, pihak berwenang bergerak cepat. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, yang biasa disingkat PVMBG, langsung turun tangan. Mereka memastikan bahwa informasi yang sudah menyebar luas itu adalah hoaks. Tujuannya jelas: meredam keresahan yang sudah mulai tumbuh di tengah masyarakat.

Heruningtyas Desi Purnamasari, yang menjabat sebagai Ketua Tim Gunung Api PVMBG, memberikan penjelasan secara ilmiah. Menurutnya, Gunung Lawu termasuk dalam kategori gunung api tipe B. Apa artinya? Gunung yang berdiri di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini tidak memiliki catatan erupsi magmatik dalam sejarah modern setelah tahun 1600. Dengan kata lain, sejak tahun 1600, Gunung Lawu belum pernah meletus lagi.

"Memang Gunung Lawu saat ini tipenya B ya, atau gunung api tipe B itu disebut juga gunung api yang ketika erupsi magmatik ya itu minimal satu kali dari tahun 1600 sampai sebelumnya. Jadi sejak 1600 itu Gunung Lawu belum pernah erupsi lagi," jelas Heruningtyas saat dihubungi pada Jumat, 19 Juni 2026.

Heruningtyas menambahkan bahwa tim dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, yang dikenal dengan singkatan BPPTKG, sudah diterjunkan ke lapangan. Mereka melakukan survei geokimia untuk mengecek laporan dari masyarakat. Hasilnya? Tidak ditemukan indikasi adanya aktivitas magma yang naik ke permukaan.

"Nah, dari hasil itu didapatkan lah bahwa untuk yang Gunung Lawu pada waktu itu aktivitasnya itu masih normal seperti itu ya. Jadi tidak ada anomali seperti yang diinformasikan oleh masyarakat," tegasnya.

Karena statusnya sebagai tipe B, Gunung Lawu tidak memiliki tingkat status aktivitas seperti yang biasa diterapkan pada gunung api tipe A. Tidak ada Level Normal, Waspada, Siaga, atau Awas. PVMBG mengidentifikasi bahwa isu ini sengaja digulirkan oleh akun media sosial fiktif. Akun tersebut memang khusus dibuat untuk menyebarkan berita-berita hoaks.

"Setelah ditelusuri oleh tim kami, ini memang ada akun yang dia itu khusus untuk menyebarkan berita-berita hoaks seperti itu ya. Jadi, dia tuh tidak hanya terkait tentang gunung api, tapi juga terkait tentang adanya gempa besar, tsunami, segala macam," ujarnya.

Heruningtyas mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Jangan langsung panik. Ia menyarankan agar semua orang mengkonfirmasi berita-berita hoaks itu dari kanal-kanal resmi milik Badan Geologi. "Jadi Badan Geologi itu ada Magma Indonesia, di dalamnya itu juga dapat melihat aktivitas Gunung Api Tertinggi. Juga untuk berita-berita yang menimbulkan kepanikan itu untuk masyarakat diimbau tidak langsung panik atau percaya. Jadi harus di-crosscheck kebenarannya," imbaunya.

Klarifikasi ilmiah dari PVMBG ini diperkuat oleh catatan sejarah dari pihak Kesatuan Pemangkuan Hutan, atau KPH Lawu. Mulyadi, yang menjabat sebagai Asisten Perhutani BKPH Lawu Selatan, membeberkan fakta. Aktivitas vulkanik terakhir Gunung Lawu terjadi ratusan tahun lalu. Dan itu pun bukan letusan yang dahsyat atau destruktif.

"Memang Gunung Lawu pernah erupsi tapi tidak besar. Ratusan tahun lalu," ujar Mulyadi.

"Erupsi kecil saat itu dalam sejarah tahun 1885 dan hanya kecil terdengar suara dentuman," paparnya menambahkan.

Mulyadi menerangkan bahwa meskipun statusnya aktif, Gunung Lawu bisa dibilang sedang tidur. Gunung ini memiliki karakteristik kawah belerang yang berada di jalur pendakian Cemoro Kandang, wilayah Karanganyar, Jawa Tengah. "Status gunung berapi aktif tapi tidur ratusan tahun terakhir erupsi 1885. Ada kawah juga yang berbau belerang," ungkap Mulyadi.

"Untuk kawah di wilayah Karanganyar jalur pendakian lewat Cemoro Kandang. Jarak dari pos masuk Cemoro Kandang mungkin sekitar 2 km," tandasnya.

Perhutani juga membenarkan bahwa ada penurunan tren jumlah pendaki pada momen bulan Suro tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, Mulyadi memastikan bahwa penurunan angka tersebut adalah siklus kunjungan reguler. Sama sekali tidak berkaitan dengan kepanikan akibat isu erupsi di media sosial.

"Kalau jumlah pendaki bulan Suro ini dibanding tahun lalu menurun. Tapi bukan pengaruh isu Gunung Lawu erupsi," ungkap Mulyadi.

"Kita imbau pendaki tidak panik namun waspada. Karena Gunung Lawu salah satu gunung berapi aktif yang lama tidur. Ada kawah juga berada di pos dua kawasan Karanganyar," pungkasnya.

Situasi di lapangan ternyata sangat berbeda dengan apa yang ramai di media sosial. Pantauan langsung di pos pendakian Cemoro Sewu, Kabupaten Magetan, menunjukkan suasana yang tenang. Para pendaki yang baru turun dari puncak justru merespons isu tersebut dengan sangat santai. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan.

Salah satu pendaki bernama Aurel, 20 tahun, bersaksi bahwa situasi di atas gunung sangat aman dan normal. Tidak ada tanda-tanda alam yang mencurigakan. "Saya baru turun mendaki, alhamdulillah aman. Kita tidak perlu langsung percaya dan cari kebenaran dulu," ujar Aurel saat ditemui pada Jumat, 19 Juni 2026.

Aurel mengaku bahwa dirinya bahkan baru mengetahui kabar miring tersebut setelah kembali tiba di pos bawah. "Saya belum lihat media sosial dan baru dengar ini," tandasnya.

Pendaki lain, Muhammad, 20 tahun, juga mengatakan hal yang sama. Ia berasal dari Aceh dan sedang menempuh studi di Kampung Inggris, Kediri. Ia mengaku tidak menangkap adanya kegaduhan atau kepanikan dari sesama pendaki di sepanjang jalur. "Belum dengar, saya dari Aceh kebetulan sedang di Kediri di Kampung Inggris," papar Muhammad.

Ia mengingatkan kepada publik dan komunitas pencinta alam agar selalu menyandarkan informasi keselamatan pada lembaga resmi milik pemerintah. Seperti BMKG dan PVMBG. "Kita jangan panik, tunggu kabar dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)," imbaunya.

Dari semua fakta yang ada, jelas bahwa isu tentang Gunung Lawu yang akan erupsi besar tidak memiliki dasar. Klaim tersebut hanyalah hoaks yang sengaja dibuat oleh akun-akun tidak bertanggung jawab. Data ilmiah dan catatan sejarah menunjukkan bahwa Gunung Lawu adalah gunung api tipe B yang tidak aktif secara magmatik. Aktivitas terakhirnya pun hanya berupa dentuman kecil pada tahun 1885, bukan letusan besar. Masyarakat dan pendaki diimbau untuk tetap tenang, waspada, dan selalu memverifikasi informasi dari sumber resmi.

hoaksGunung LawuerupsiPVMBGtipe Bberita palsuklarifikasi

Komentar

Memuat komentar...