BMKG Bantah Kabar Gempa Magnitudo 7 di Sesar Kendeng
Gambar atau konten salah?
Sebuah unggahan di media sosial Threads dari akun @hsuliz2021 baru-baru ini membuat gempar. Isinya menyebutkan bahwa Sesar Kendeng di wilayah Bojonegoro bisa memicu gempa darat dahsyat dengan kekuatan mencapai Magnitudo 7. Kabar ini langsung mendapat tanggapan serius dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk meredakan kekhawatiran yang meluas di masyarakat.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr, dengan tegas menyatakan bahwa lembaganya tidak pernah merilis prediksi kapan pasti sebuah gempa akan terjadi. Yang dilakukan BMKG hanyalah memetakan potensi bahaya berdasarkan penelitian ilmiah yang sudah ada. "BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi. Yang kami lakukan adalah mensosialisasikan potensi berdasarkan kajian para ahli Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN 2024) dan monitoring aktivitas kegempaan dengan jaringan seismograph kami yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," ujar Ricko saat dikonfirmasi pada Jumat, 19 Juni 2025.
Ricko menekankan satu fakta penting: sampai sekarang, belum ada satu pun teknologi di dunia yang mampu menebak kapan tepatnya gempa akan terjadi. Ia mengimbau para pengguna internet untuk tidak mudah terombang-ambing oleh spekulasi liar yang beredar di media sosial. "Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terkait info prediksi gempa. Karena hingga saat ini gempa masih belum bisa diprediksi oleh para ahli maupun negara manapun secara tepat kalau gempa buminya belum terjadi," jelasnya.
Pemantauan Sesar Kendeng Saat Ini
BMKG memastikan bahwa pemantauan secara langsung terhadap patahan sepanjang 300 kilometer yang membentang dari Salatiga hingga Surabaya ini tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya yang ekstrem. "Kami terus memonitor, hingga saat ini masih dalam kondisi normal dan tidak ada lonjakan aktivitas seismik di Java Back-arc Thrust (JBT)," ungkap Ricko.
Meskipun pemantauan mingguan menunjukkan hasil yang aman, Ricko mengakui bahwa Sesar Kendeng memang merupakan sesar aktif. Sesar ini pernah memicu gempa yang merusak di masa kolonial, seperti di Mojokerto pada tahun 1836 dan Surabaya pada tahun 1867. Dalam beberapa tahun terakhir, sesar ini juga terdeteksi aktif melepaskan energi dalam bentuk gempa-gempa kecil. "Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," terang Ricko.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini," tandasnya.
Alih-alih panik dengan angka potensi yang disebut-sebut, warga yang tinggal di zona perlintasan sesar—termasuk Madiun, Nganjuk, Jombang, Lamongan, Sidoarjo, dan Surabaya—diminta untuk fokus melatih kesiapsiagaan diri sendiri. "Yang penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan individu dengan melatih diri, apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan setelah kejadian gempa bumi dan tsunami bila dikeluarkan peringatan dini tsunami oleh BMKG," papar Ricko. "Kemudian memberi info kurang dari tiga menit setelah kejadian gempa untuk meminimalisir dampak ikutan dari gempa bumi baik itu tsunami, longsor, dan lainnya," sambungnya.
Tanggapan BPBD Bojonegoro
Sejalan dengan BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro meminta masyarakat di wilayahnya untuk tetap tenang. Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, membenarkan bahwa Bojonegoro memiliki potensi tektonik karena berada di zona RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala). Namun, laju pergeseran di zona ini sangat kecil. "Berdasarkan kajian Pusgen, wilayah Bojonegoro memang memiliki potensi kegempaan akibat keberadaan Sesar Bojonegoro yang merupakan bagian dari zona RMKS (Rembang-Madura-Kangean-Sakala)," tutur Heru.
Heru menjelaskan bahwa pergerakan patahan tersebut di lapangan berjalan sangat lambat, yakni hanya sekitar 1 milimeter per tahun. Catatan sejarah juga menunjukkan bahwa peristiwa gempa bumi di tanah Bojonegoro tergolong sebagai fenomena yang langka. Atas dasar itulah, BPBD menilai bahwa ketakutan massal yang diembuskan di media sosial mengenai ancaman tanah amblas tiba-tiba akibat aktivitas sesar adalah tidak berdasar dan terlalu dilebih-lebihkan. "Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengacu pada informasi dari sumber resmi, serta tidak menyebarkan informasi yang dapat menimbulkan keresahan," pungkas Heru.
Kabar tentang potensi gempa besar ini menyebar cepat di jagat maya, memicu reaksi beragam dari warganet. Namun, respons cepat dan komprehensif dari BMKG dan BPBD menunjukkan pentingnya mengandalkan informasi dari sumber resmi. Kedua lembaga ini sepakat bahwa meskipun Sesar Kendeng adalah patahan aktif yang perlu diwaspadai, tidak ada dasar ilmiah untuk memprediksi gempa dahsyat dalam waktu dekat. Fokus utama yang disarankan adalah pada kesiapsiagaan individu dan pemahaman akan risiko, bukan pada kepanikan yang tidak perlu.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
BMKG Bantah Kabar Gempa Magnitudo 7 di Sesar Kendeng
Amerika Serikat Pastikan Tiket ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026
Pemerintah Siapkan Paket Stimulus Baru Jaga Ekonomi
Sabtu 20 Juni 2026, Umat Katolik Diajak Renungkan Peristiwa Gembira Rosario
Tetangga Siram Air Keras ke Bocah karena Utang Rp850 Ribu
Kecepatan Internet Indonesia Merosot, Peringkat Jatuh di Asia Tenggara
Jokowi Tak Halangi Hukum Roy Suryo dan dr Tifa, Siap Jadi Saksi
