Reog Ponorogo Buka Peluang Pendidikan Tinggi bagi Pelajar

Yanto K. · 3 min baca · 1 jam lalu · 22 dibaca
Bisik.id
Reog Ponorogo Buka Peluang Pendidikan Tinggi bagi Pelajar

Gambar atau konten salah?

Reog Ponorogo, sebuah tarian tradisional yang telah lama menjadi bagian dari kebudayaan daerah, kini mendapat sorotan lebih luas. Bukan hanya sekadar pertunjukan seni, prestasi di bidang Reog dapat membuka pintu pendidikan tinggi bagi pelajar. Kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan Universitas Brawijaya (UB) menjadi landasan bagi peluang ini.

Kesempatan tersebut pertama kali disampaikan ketika Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengunjungi karantina Grup Reog Manggolo Wiyata dari SMA Negeri 3 Ponorogo. Grup tersebut sedang mempersiapkan diri menghadapi Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI. Pada kunjungan itu, Lisdyarita menegaskan bahwa kemampuan dan dedikasi di bidang seni budaya tidak hanya penting untuk melestarikan warisan daerah, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurut Lisdyarita, prestasi di bidang kesenian dapat menjadi nilai tambah bagi pelajar yang ingin mendaftar ke perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Ia menambahkan, “Masuk ke perguruan tinggi negeri itu tidak gampang, apalagi ke Universitas Brawijaya. Kalau kalian punya prestasi, Bunda nanti akan tanda tangan untuk rekomendasinya.”

Nilai Reog Ponorogo terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu faktor pendorongnya adalah pengakuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Selain itu, Festival Nasional Reog Ponorogo secara konsisten masuk dalam daftar Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) selama lima tahun terakhir. Perkembangan ini membuat aktivitas pelestarian Reog tidak lagi dipandang hanya sebagai seni semata, melainkan bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya Indonesia.

Karena itu, pengalaman, prestasi, dan kontribusi pelajar dalam dunia Reog kini dinilai memiliki nilai lebih yang dapat mendukung rekam jejak akademik maupun non-akademik mereka. Peluang bagi pelajar berprestasi di bidang Reog untuk mendapatkan rekomendasi ke Universitas Brawijaya tidak muncul secara mendadak. Hubungan antara UB dan Pemkab Ponorogo telah terjalin selama bertahun-tahun.

Kesepakatan terbaru kedua pihak diperbarui melalui nota kesepahaman (MoU) pada 09 Mei 2022 dan berlaku hingga 2027. MoU tersebut mencakup pengembangan pendidikan, potensi daerah, pertanian, pariwisata, hingga pelestarian budaya lokal. Salah satu poin yang mendapat perhatian adalah pengembangan talenta muda Reog Ponorogo, termasuk jalur prestasi bagi siswa yang aktif dan berprestasi dalam bidang tersebut.

Menurut Denny Widhiyanuriyawan, Pembina Unit Aktivitas Karawitan dan Tari Universitas Brawijaya, kesempatan tersebut terbuka bagi pelajar yang menunjukkan konsistensi dan prestasi dalam Reog Ponorogo. Ia menjelaskan, “Siapapun yang memiliki konsistensi dan prestasi bisa diberi rekomendasi untuk mendaftar di Universitas Brawijaya.” Namun, ia juga menegaskan bahwa rekomendasi tidak berarti jaminan diterima secara otomatis. Pelajar tetap harus mengikuti mekanisme dan ketentuan seleksi yang berlaku di perguruan tinggi.

Komitmen Universitas Brawijaya terhadap Reog Ponorogo sudah terlihat jauh sebelum wacana rekomendasi bagi pelajar muncul. Melalui kelompok seni Reyog Brawijaya yang berdiri sejak 2011, universitas ini aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian dan pengembangan Reog Ponorogo. Reyog Brawijaya pertama kali mengikuti kompetisi pada 2013, kemudian meraih posisi runner‑up pada 2015 dan 2016. Puncaknya, Reyog Brawijaya menjadi juara umum Festival Nasional Reog Ponorogo pada 2017 dan mempertahankan gelar tersebut hingga 2019, sehingga berhak membawa pulang Piala Presiden Republik Indonesia. Kelompok ini kembali merebut gelar juara umum pada Festival Nasional Reog Ponorogo 2024.

Reyog Brawijaya juga pernah tampil sebagai duta budaya Indonesia di Antananarivo, Madagaskar pada 2019. Selain itu, mereka mendapat undangan tampil di Thailand pada 2023. Tidak hanya membawakan pertunjukan, Reyog Brawijaya juga menggelar workshop tari dan musik Reog sebagai bagian dari promosi budaya Indonesia di luar negeri.

Dengan kerja sama ini, pelajar yang berprestasi di bidang Reog dapat memanfaatkan jalur rekomendasi untuk masuk ke Universitas Brawijaya. Rekomendasi ini tidak menjamin penerimaan otomatis, namun memberikan kesempatan tambahan bagi pelajar yang menunjukkan dedikasi dan konsistensi dalam seni budaya. Keberhasilan Reyog Brawijaya di tingkat nasional dan internasional menegaskan bahwa Reog Ponorogo bukan sekadar tarian, melainkan aset budaya yang dapat membuka peluang pendidikan dan promosi budaya Indonesia ke dunia.

Secara keseluruhan, kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan Universitas Brawijaya menyoroti pentingnya seni budaya sebagai alat pengembangan talenta muda. Peluang rekomendasi ini menambah nilai tambah bagi pelajar yang berprestasi di bidang Reog, sekaligus memperkuat posisi Reog Ponorogo sebagai warisan budaya yang hidup dan relevan di era global.

Reog PonorogoUniversitas BrawijayaPemerintah Kabupaten PonorogoPrestasi seni budayaFestival Nasional Reog PonorogoMoUReyog BrawijayaWarisan Budaya Takbenda UNESCO

Komentar

Memuat komentar...