Risdianto: Legenda Timnas 70-an, Hadapi Bulgaria 1973
Gambar atau konten salah?
Risdianto, legenda timnas era 70-an, menceritakan susah payahnya menghadapi Bulgaria pada tahun 1973. Ia mengisahkan bagaimana Garuda kalah di hadapan ketangguhan Bulgaria.
Peran Risdianto di timnas sangat penting. Ia bergabung dengan skuad Merah Putih sejak 1971 dan tetap bertahan hingga 1981. Selama sepuluh tahun, ia mencetak 27 gol dalam 59 pertandingan, menandai kontribusinya yang signifikan.
Setelah menorehkan prestasi di level internasional, Risdianto melanjutkan kariernya di sepak bola tanah air. Ia memperkuat beberapa klub besar di kompetisi Perserikatan dan Galatama, termasuk Persekapas Pasuruan, Pardedetex Medan, UMS 80, Persija, dan Warna Agung. Setiap tim merasakan manfaat jasanya di lapangan.
Risdianto bahkan pernah bermain di Hong Kong. Di sana, ia hampir menjadi top skor, namun masih terpaut dua gol dari seorang penyerang asal Skotlandia. Meskipun begitu, ia tidak pernah gagal menunjukkan semangat juangnya.
Namun, pengalaman dan bakatnya tidak cukup untuk mengalahkan Bulgaria dalam laga persahabatan 1973. Menurutnya, Bulgaria sangat tangguh dengan permainan cepat dan keras. “Seingat saya ya, kalau lawan tim Bulgaria dari Eropa Timur itu kita susah ngelawannya. Mereka itu selalu cepat mainnya, cepat terus keras. Kita selalu kalah kalau lawan tim Eropa Timur itu,” ujar Risdianto.
Ketakutan di lapangan terasa ketika Stadion Utama Gelora Bung Karno dipadati 100 ribu penonton. Ia khawatir hasil 0-4 akan membuat pendukung murka. Namun, para penonton tetap menghargai semangat para pemain. “Jadi itu kita takut kan, keluar itu takut. Kita selalu dielu-eluin sama penonton. Penonton Indonesia ini hebat, yang penting kita ngotot aja itu penonton senang. Penonton penuh, 100 ribu. Artinya di Indonesia ini gampang ya, kalau kita semangat ngotot gitu penonton itu dukung kok,” tambahnya.
Menjelang malam ini, Indonesia akan kembali bersua dalam laga final FIFA Series 2026 di GBK. Risdianto berpesan kepada setiap penggawa untuk menyuguhkan yang terbaik di lapangan. “Yang penting ngotot dulu, baru itu baru berpikir. Jangan berpikir dulu. Setelah kita ngotot kita tahu harus bagaimana. Jangan mau kalah, siapa pun itu,” tandasnya.
Kesimpulannya, Risdianto tetap menjadi ikon bagi sepak bola Indonesia. Ia mengingatkan pentingnya keteguhan, semangat, dan dukungan penonton dalam setiap pertandingan. Dengan pengalaman luas di level nasional, klub domestik, dan internasional, ia tetap memberikan inspirasi bagi generasi pemain berikutnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Mourinho Senang Prancis dan Inggris Gagal ke Final Piala Dunia
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Strategi Bertahan Tuchel Hancurkan Inggris
Argentina ke Final usai Kalahkan Inggris di Semifinal
