Ritual Makan Tradisional Jepang: Syukur, Hara, dan Slurping

Iwan D. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 65 dibaca
Bisik.id
Ritual Makan Tradisional Jepang: Syukur, Hara, dan Slurping

Gambar atau konten salah?

Di Jepang, makan tidak sekadar memenuhi kebutuhan tubuh. Banyak orang menganggapnya sebagai ritual yang sarat makna. Setiap suapan diwarnai rasa syukur, kesadaran, dan penghormatan terhadap proses yang membawa makanan ke meja.

Ritual‑ritual ini bukan sekadar kebiasaan. Mereka menegaskan hubungan manusia dengan alam, petani, koki, dan bahkan makhluk hidup lain yang menjadi bahan makanan. Sehingga, ketika seseorang menyiapkan atau menyantap makanan, ia sedang melangkah menuju keseimbangan fisik dan spiritual.

Berikut lima ritual makan yang sering dipraktikkan di Jepang, yang dapat membantu orang lain mengubah kebiasaan makan mereka. Informasi ini diambil dari Times Of India pada 16 April 2023.

1. Itadakimasu

Praktik ini dimulai sebelum piring disajikan. Orang Jepang biasanya menempatkan kedua tangan di depan dada, lalu mengucapkan “itadakimasu.” Secara harfiah, kata ini berarti “saya dengan rendah hati menerima.”

Itadakimasu lebih dari sekadar ucapan “selamat makan.” Ia mencerminkan rasa syukur, hormat, dan kerendahan hati. Asal usulnya berasal dari tradisi Shinto dan Buddhisme, di mana orang mengucap terima kasih kepada kehidupan tumbuhan, hewan, petani, dan koki yang telah membantu menyiapkan hidangan.

2. Hara Hachi Bu

Hara Hachi Bu, atau “tujuh delapan bagian,” mengajarkan orang untuk berhenti makan sebelum perut benar-benar penuh. Kata “hara” berarti perut, “hachi” berarti delapan, dan “bu” berarti bagian. Praktik ini berasal dari Okinawa, salah satu wilayah Zona Biru yang dikenal dengan harapan hidup tinggi.

Konsepnya sederhana: makan hingga merasa kenyang 80%. Otak membutuhkan sekitar 20 menit untuk menerima sinyal kenyang dari perut. Dengan berhenti pada 80%, risiko makan berlebihan dan kantuk setelah makan berkurang. Dari sisi kesehatan, ritual ini membantu mengurangi kalori, mencegah obesitas, dan mengurangi tekanan pada sistem pencernaan.

3. Menyeruput Mie (Slurping)

Di Jepang, suara menyeruput mie dianggap sopan dan menunjukkan bahwa makanan tersebut enak. Meskipun di banyak budaya suara di meja dianggap tidak sopan, di Jepang slurping diakui sebagai pujian kepada koki.

Suara ini juga dipercaya meningkatkan rasa. Udara yang masuk bersamaan dengan mie membantu melepaskan aroma kuah dan bumbu, sehingga rasa menjadi lebih terasa. Kebiasaan ini telah berlangsung sejak zaman Edo, dan masih dipraktikkan saat menikmati ramen, soba, atau mie lainnya.

4. Sankaku Tabe (Triangle Eating)

Sankaku Tabe, atau “triangle eating,” mengajak orang untuk mencampur rasa secara bergantian. Makanan Jepang biasanya disajikan dalam mangkuk kecil. Cara makanannya adalah mengambil sedikit nasi, menyesap sup, lalu mengambil sedikit lauk. Proses ini diulang sampai semua makanan habis.

Metode ini menjaga keharmonisan rasa dan memastikan asupan gizi seimbang. Selain itu, Sankaku Tabe juga dianggap bagian dari etiket makan, menandakan penghargaan terhadap setiap hidangan yang disajikan.

5. Hashi-Watashi

Hashi-Watashi merujuk pada tindakan memindahkan makanan langsung dari sumpit satu orang ke sumpit orang lain. Praktik ini dianggap sangat tidak sopan dan tabu dalam budaya makan Jepang, karena menyerupai ritual pemindahan tulang jenazah setelah kremasi.

Etiket yang benar adalah memindahkan makanan ke piring kecil terlebih dahulu, lalu menyajikannya kepada orang lain. Dengan cara ini, makanan tetap dihormati dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan.

Ritual‑ritual ini menunjukkan bahwa budaya Jepang menghargai setiap langkah dalam proses makan. Dari ucapan syukur hingga cara menyantap, semua mengandung makna mendalam. Menerapkan kebiasaan ini dapat membantu orang lain memperlambat proses makan, meningkatkan kesadaran, dan menghargai makanan sebagai hasil kerja keras manusia dan alam.

ItadakimasuHara Hachi Bumenyeruput mieSankaku TabeHashi-Watashiritual makan Jepangkeseimbangan fisik dan spiritual

Komentar

Memuat komentar...