Rupiah Terus Melemah, Risiko Harga Impor Meningkat Mekanisme
Gambar atau konten salah?
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan terus melemah karena banyak bank sentral dunia menahan suku bunga tinggi dan ketegangan geopolitik menekan harga minyak.
“Saat pembukaan pasar di hari Rabu kemungkinan besar rupiah akan melemah. Nah target saya minggu depan di Rp 17.050,” kata pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi.
Rupiah yang melemah memberi risiko besar bagi perekonomian Indonesia. Bukan hanya menambah beban APBN, tetapi juga akan membuat barang impor menjadi lebih mahal.
“Kalau rupiah terus melemah pasti akan berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia karena barang‑barang impor seperti pupuk, barang‑barang retail, elektronik, impor bahan baku untuk pabrikan ini pasti akan mengalami kenaikan harganya,” ujar Ibrahim.
“Tak hanya dari sisi produk impor yang akan semakin mahal, biaya logistik atau transportasi pengiriman barang ini juga ikut menjadi beban tambahan. Padahal produk atau komoditas impor ini bisa jadi bahan baku produksi dalam negeri.”
Dengan biaya produksi meningkat, harga barang di tingkat konsumen akan naik secara signifikan.
“Ini berdampak juga terhadap transportasi karena BBM naik. Kemudian makanan siap saji yang biasa kita makan di mal‑mal kemungkinan besar juga akan kembali mengalami kenaikan. Sehingga masyarakat bawah, akar rumput itu pasti akan terasa,”
Pelemahan rupiah menambah beban anggaran pemerintah untuk belanja subsidi bahan bakar di tengah lonjakan harga minyak mentah yang sudah sangat tinggi.
“Sehingga pada akhirnya pemerintah akan kekurangan anggaran untuk intervensi pelemahan nilai tukar ini. Di mana nilai rupiah yang terus melemah akan menarik pertumbuhan ekonomi domestik, dan siklus itu akan terus berlanjut jika tidak segera diputus.”
“Ini akan membuat defisit anggaran lumayan besar, dan ini yang tidak akan bisa menahan laju pelemahan mata uang rupiah,” jelasnya.
Rupiah yang terus melemah menimbulkan tekanan pada harga impor, biaya produksi, dan subsidi pemerintah, sehingga menekan daya beli masyarakat dan menambah defisit fiskal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Andi Gani: Dukungan Penuh, Menolak Kabinet Prabowo, Mengawasi
Purbaya: Data Warteg Tak Cukup, Butuh Penelitian Lanjutan
Rupiah Mati 18.000, OJK Tegaskan Bank Indonesia Tetap Kokoh
Pemerintah: IHSG Turun, Defisit 0,9% Menimbulkan Kecemasan
Investor Asing Menjual Besar Rp4,1 Triliun, IHSG 6.127,38
32 Perusahaan CPO Diselidiki Pajak, 3 Bayar Rp200 Miliar
Berita Terbaru
Liburan Sekolah Denpasar: 6 Film Keluarga di Bioskop Juni 2026
Polda Jawa Barat Luncurkan Operasi Patuh Lodaya 2026
Cuaca Berawan di Jambi 5 Juni, Kerinci dan Tebo Kabur
Lima Waktu Salat: 2-4 Rakaat, Asal Usul Nabi & Makna
6 Juni 2026: 20 Dzulhijjah 1447 H, Jadwal Ibadah Umat Islam
Rhabdo Berbahaya: Kegagalan Ginjal Akibat Olahraga Intense
Konsumsi Daging: 4 Cara Sehat di Rumah untuk Pola Makan Seimbang
Dewsbury-Hall Tolak Klaim Keturunan Malaysia, Konfirmasi Resmi
