Salad Umma Raih Omzet Rp6 Juta per Hari Berkat KUR BRI
Gambar atau konten salah?
Hikma Nurul Audhliya berusia 38 tahun, dulunya seorang makeup artist (MUA), mengatasi dampak pandemi COVID‑19 dengan memulai usaha kuliner sehat bernama Salad Umma. Usahanya berkembang berkat Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).
Selama pandemi, semua acara pernikahan dibatalkan. 31 Desember 2020 menjadi titik balik ketika semua pesanan wedding di‑cancel. “Akhir 2020 itu semua pesanan wedding di‑cancel karena pandemi. Padahal uang DP sudah masuk ke vendor dekor, tenda, bunga. Akhirnya semua dijual, baju dijual, alat make‑up dijual. Intinya closing, sudah pasrah,” ujarnya.
Dengan pendapatan yang menurun drastis, Hikma menjual mobilnya untuk menutupi ganti rugi di bawah Rp 100 juta. Setelah itu, ia mencari peluang baru. Ia mengikuti program Kartu Prakerja dan gagal di gelombang pertama. Pada kesempatan berikutnya, ia lolos dan menerima voucher pelatihan usaha sebesar Rp 1 juta.
Awalnya ia memilih kelas makeup, berharap industri hiburan dan pernikahan akan pulih. Namun, situasi tidak membaik, sehingga ia beralih ke kelas usaha yang lebih praktis. “(Waktu itu) pikir apa ya usaha yang nggak pake kompor, ringkas, mudah, nggak perlu minyak, nggak perlu gas, tapi mengakomodir kebutuhan masyarakat saat ini yang ingin hidup sehat, jadi pilih salad sayur,” ungkapnya.
Usahanya dimulai dari dapur rumah. Ia menggunakan modal Rp 2,4 juta, di mana Rp 600 ribu diterima setiap bulan selama empat bulan. Dana tersebut dipakai untuk membeli bahan baku dan peralatan sederhana: chopper, blender, kemasan, hingga showcase.
Usaha mulai menemukan pasar ketika lokasinya dekat dengan kawasan indekost karyawan. Dari sekadar menjual salad sayur, ia menambah salad buah setelah menerima pesanan ulang tahun pada 2022. Namun, omzet tetap berfluktuasi. Kadang pendapatan hanya Rp 15 ribu, kadang naik menjadi Rp 100 ribu per hari, bahkan ada saat tidak ada pesanan sama sekali.
Perubahan signifikan terjadi ketika produk mendapat sertifikasi halal dan ikut bazar dari Jakpreneur. Dari situ, ia mendapatkan jejaring dan pesanan rutin untuk rapat kementerian serta pemerintah daerah. Omzet harian naik hingga Rp 1 juta.
Keputusan untuk mengembangkan usaha lebih lanjut muncul ketika pesanan mulai kembali banyak. Hikma menyebut bisnisnya sebagai “invisible retail”: aktif di media sosial, tetapi fisiknya tidak terlihat. Ia memutuskan untuk mengajukan KUR sebesar Rp 100 juta pada Unit Tebet Barat BRI pada 2025. Dana tersebut digunakan untuk mengubah area carport rumah menjadi outlet Salad Umma.
Dengan outlet, kepercayaan konsumen meningkat. “Itu kemudahannya. Terus trust orang juga beda ya. Pas sudah punya outlet ini. Orderan itu meningkat,” jelasnya.
Perkembangan ini menghasilkan omzet yang lebih tinggi. Sebelum outlet, rata-rata omzet tertinggi hanya Rp 1 juta. Setelah dukungan BRI, omzet tembus Rp 2‑3 juta per hari. Pada 01 Ramadan 2025, penjualan melonjak karena banyak pesanan hampers. Omzet mencapai Rp 6 juta per hari.
Hikma mengungkapkan pengalaman selama soft opening di 01 September 2025: “Ternyata ya soft opening di September 2025 itu sepertinya tuh momen yang tepat karena tuh kayak gini (hasilnya), berarti emang persiapan buat Ramadan matang jadi pas begitu datang Ramadan kita udah lihat ritme customer‑nya tuh udah kelihatan. Tapi ternyata walaupun bisa memprediksi kayak gitu, terjadi aja lonjakan, orang makin trust, terus bisnis kita juga berkembang ya secara omzet, secara relasi,” tambahnya.
Ia menjelaskan bagaimana proses pesanan berubah setelah outlet terbuka: “Sebelum ada outlet. Kalau orang telepon. Kita bilang enggak ada. Karena kita bikin by order ya. Kalau sekarang mah, orang lewat mampir, orang mau mesen (banyak), kita lihat stok. Kalau bahan ada kita langsung buatin saat itu juga. Mau di pick up, mau di kirim, jadi nggak ada hambatan,” jelasnya.
Hikma juga mengakui peran BRI dalam perkembangan usahanya. Ia menyebut Mantri BRI Unit Tebet Barat, Nicko Irawan, sebagai pendamping utama. “Kenal sama Pak Nicko (Mantri BRI) di bank, arahnya jelas mau scale up. Pak Nicko yang bantu dampingi terus. Dia juga yang mendorong untuk naik kelas,” ungkapnya.
Selain mengembangkan usaha, Hikma membuka lapangan pekerjaan. Ia memberdayakan mahasiswa kewirausahaan dan istri marbot masjid di sekitar rumahnya, Hera Chaerunisa. Mahasiswa tersebut membantu di bazar, sementara Hera mengelola operasional outlet, termasuk pemilihan bahan baku.
Hikma menekankan pentingnya bahan baku berkualitas. Ia konsisten menggunakan sayur dan buah dari supplier premium. “Kalau belanja di pasar itu kadang‑kadang bukan buah yang saat itu datang, jadi di berbagai kondisi bahannya, ngaruh juga ke produk kita,” ia bilang. “Jadi mendingan harga mahal sedikit tapi penjualannya berkesinambungan, jadi orang nggak kecewa, jadi maintain customer lamanya seperti itu,” tambahnya.
Mantri BRI, Nicko, menegaskan bahwa BRI berfokus pada UMKM. Ia mengonfirmasi bahwa Salad Umma adalah nasabah BRI. Pendampingan dimulai setelah Hikma mengunjungi kantor unit. BRI melakukan survei lapangan dan menyetujui pengajuan KUR dalam dua hingga tiga hari. Nicko berharap usaha ini terus mengembangkan produk inovatif untuk menarik minat pasar.
Menurut Nicko: “Kita berharap semakin banyak inovasi produk Salad Umma, dan semoga usaha ke depan semakin berkembang lagi,” ia katakan.
Secara keseluruhan, BRI terus memperkuat UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Pada akhir 01 Maret 2026, total aset BRI mencapai Rp 2,250 triliun, tumbuh 7,2 % YoY. Penyaluran kredit menunjukkan akselerasi solid. Hingga kuartal I 2026, total kredit BRI mencapai Rp 1,562 triliun, tumbuh 13,7 % YoY. Segmen UMKM menjadi tulang punggung bisnis, dengan total penyaluran mencapai Rp 1,211 triliun. “Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI,” pungkas Direktur Utama BRI, Hery Gunardi dalam konferensi pers kinerja keuangan triwulan I 2026 di kantor pusat BRI, Kamis 30 April 2026.
Hikma kini memiliki arah jelas ke depan. Dengan outlet yang lebih mudah diakses, dukungan BRI, dan tenaga kerja lokal, Salad Umma siap melayani pelanggan lebih banyak. Usaha ini menunjukkan bagaimana pelaku UMKM dapat beradaptasi, memanfaatkan program pemerintah, dan tumbuh di tengah tantangan ekonomi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
TASPEN Ajak Karyawan Kurangi Emisi Lewat Green Miles
DJP Libatkan TNI-Polri Awasi Wajib Pajak
Prabowo: Minyak Goreng Langka di Negara Sawit Terbesar
Prabowo: Saya Diserang Gegara Program Makan Gratis
Prabowo Bantah MBG Boros, Sebut Ribuan Triliun Menguap
Prabowo: Ukuran Negara Berhasil, Rakyat Tak Kelaparan
