Sapi Bali dari Banyuwangi Penuhi Permintaan Jakarta Tinggi
Gambar atau konten salah?
Menurut catatan Neraca Pangan tahun 2026, kebutuhan daging sapi nasional diperkirakan mencapai 964.166 ton. Sementara target produksi dalam negeri hanya 479.000 ton, sehingga terjadi defisit sekitar 485.166 ton.
Di tengah kondisi tersebut, pengusaha sapi di Kabupaten Banyuwangi mengaku tidak mengalami kesulitan mendapatkan pasokan. Bahkan, permintaan hingga ratusan ekor per hari masih mampu dipenuhi.
“Tidak ada penurunan permintaan sapi setiap harinya. Permintaan dari Jakarta dan luar Pulau Jawa justru terus meningkat hingga ratusan ekor,” kata Agus Supriyadi (44), pengusaha sapi di Lingkungan Tanjung, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro.
Agus mengambil sapi dari Bali untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Sapi Bali atau Bos javanicus domesticus dipilih karena memiliki daya adaptasi tinggi terhadap iklim tropis serta persentase karkas daging yang tinggi. “Kalau sekarang permintaan harian bisa sampai 500 ekor, tapi kalau pas Idul Adha bisa sampai ribuan ekor per hari,” terangnya pada 21 April 2026.
Dalam sehari, Agus mengirimkan satu truk sapi dengan nilai transaksi mencapai Rp 500 juta hingga Rp 750 juta ke Jakarta dan luar Jawa.
Meskipun permintaan tinggi, Agus menyebut kendala justru terletak pada kondisi keuangan pembeli, khususnya di Jakarta. “Sekarang itu mau barang berapa pun bisa dikirim dan ada pembelinya, tinggal berapa uang yang dimiliki untuk membeli, berapapun uang yang masuk pasti akan habis untuk membeli sapi-sapi itu,” jelasnya lebih lanjut.
Selama bulan April ini, Agus menargetkan penjualan 2.000 ekor sapi yang akan didistribusikan kepada pelanggan lama. Ia mengaku tidak ingin mengambil risiko dengan menjual ke pelanggan baru.
Di kandangnya di Kelurahan Klatak, terdapat ratusan ekor sapi yang siap dikirim ke berbagai daerah seperti Jakarta, Palembang, Lampung, Balikpapan, dan wilayah lain di luar Pulau Jawa.
Harga sapi Bali yang dijual berkisar Rp 15 juta hingga Rp 40 juta per ekor. Sementara sapi jenis Limousin dibanderol antara Rp 35 juta hingga Rp 100 juta. “Harga untuk ras Bali 15-40 juta, lemosni 35-100 juta. Untuk ras Limousin jarang hanya orang tertentu, rawatan kita masih banyak tidak sulit cari sapi,” tegasnya.
Ia menambahkan, pada tahun ini permintaan sapi meningkat hingga lebih dari 500 ekor per hari, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Data ini menunjukkan bahwa meski ada defisit nasional, daerah penghasil sapi seperti Banyuwangi mampu menyesuaikan pasokan dengan permintaan tinggi. Keberhasilan pengusaha seperti Agus menunjukkan pentingnya jaringan distribusi dan pemahaman pasar dalam menjaga ketersediaan daging sapi di Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
