Semarang Rayakan Toleransi lewat Pawai Ogoh-Ogoh Festival Budaya

Sigit W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Semarang Rayakan Toleransi lewat Pawai Ogoh-Ogoh Festival Budaya

Gambar atau konten salah?

Festival Budaya Lintas Agama di Semarang menampilkan pawai ogoh-ogoh yang berlangsung penuh warna. Iring-iringan peserta dari berbagai latar budaya dan agama berkeliling satu jalur karnaval, menyampaikan pesan kebersamaan.

Di Jalan Pemuda, halaman Balai Kota Semarang, masyarakat mulai mengisi jalan pada pukul 13.00 WIB. Antusiasme tinggi terlihat ketika orang-orang menunggu pawai yang rutin diadakan setiap tahun. Salah satu pengunjung, Tuti berusia 40 tahun, datang pada pukul 14.00 WIB bersama keluarga untuk menyaksikan langsung acara tersebut.

“Seru banget, jadi hiburan gratis buat warga. Yang paling ditunggu itu ogoh-ogohnya, karena tiap tahun beda dan bikin penasaran,” kata Tuti kepada detikJateng, Minggu, 26 April 2026. Ia menilai pawai ini tidak hanya meriah, tetapi juga menunjukkan kebersamaan lintas budaya dan agama di Kota Semarang. Tuti menambahkan bahwa tahun ini ada variasi pertunjukan baru, termasuk penambahan rebana, yang berbeda dari tahun sebelumnya.

Kirab mulai bergerak pada pukul 16.00 WIB, berangkat dari halaman Balai Kota menuju Simpang Lima. Acara diawali oleh Kelompok Pagar Ayu WHDI Kota Semarang, diikuti oleh para pemimpin agama.

Di halaman Balai Kota, ogoh-ogoh pertama dari PHDI Kota Semarang mulai bergerak, diiringi dentuman gong beleganjur dari Jogja. Ada juga ogoh-ogoh cilik, kelompok Warak Ngendog, dan penghayat kepercayaan yang ikut melintas.

Ogoh-ogoh kedua datang dari PHDI Kendal, ketiga dari PHDI Kota Semarang, dan keempat dari PHDI Jepara. Penampilan barongsai oleh umat Konghucu, kesenian Unika, kelompok umat Katolik, Kristen, serta sanggar Perwira Budaya turut menambah keceriaan.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, membuka kirab kebudayaan ini. Ia menegaskan bahwa pawai ogoh-ogoh menjadi simbol kuat toleransi di ibu kota Jawa Tengah. Acara ini juga menjadi rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Agustina menyebutkan peserta datang dari berbagai unsur: umat Hindu, Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu, dan penghayat kepercayaan. “Festival ini menjadi potret nyata keberagaman yang hidup berdampingan,” ujarnya.

Menurutnya, total keterlibatan mencapai 1.500 peserta, dengan empat ogoh-ogoh utama dari PHDI Semarang, Kendal, dan Jepara, tidak hanya Kota Semarang. Ia menilai semangat Semarang sebagai kota toleran nasional merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat. Agustina menargetkan peringkat tersebut dapat terus meningkat di tahun mendatang. “Inilah wajah Kota Semarang yang menghadirkan kesetaraan dan keberagaman. Sekaligus menjadikannya sebagai kekuatan sosial,” tuturnya.

Pawai ini juga mengandung pesan refleksi tentang upaya manusia membersihkan diri dari sifat negatif dan menjaga keseimbangan hidup. “Ini kekayaan budaya kita dan tadi kita lihat tidak hanya umat Buddha dan Hindu yang ikut. Ada juga muslimat dengan Ya Lal Wathon-nya terus di belakangnya ada Banser, ada teman-teman dari Kristen, ada dari Kong Hu Chu, luar biasa. Ini merayakan penghargaan yang kita,” ucapnya.

Acara ini menegaskan bahwa Semarang tetap menjadi contoh kota yang menghargai keberagaman, dengan pawai ogoh-ogoh yang mengajak semua warga merayakan kebersamaan dan toleransi.

Festival Ogoh-Ogoh SemarangPawai Lintas AgamaKeberagaman BudayaToleransi SosialWali Kota Agustina WilujengPHDI SemarangBarongsai

Komentar

Memuat komentar...