Serang Virus: Varian Hantavirus Baru Tanpa Kasus Manusia

Ratna D. · 3 min baca · 22 hari lalu · 85 dibaca
Bisik.id
Serang Virus: Varian Hantavirus Baru Tanpa Kasus Manusia

Gambar atau konten salah?

Hantavirus adalah sekelompok virus yang masuk ke dalam keluarga Hantaviridae dan genus Orthohantavirus. Di Indonesia, salah satu jenisnya, seoul virus, sudah lama terdeteksi pada tikus dan dapat menular ke manusia. Selain itu, peneliti di Indonesia menemukan varian lokal yang dinamai Serang virus karena pertama kali diidentifikasi di kota Serang, Banten.

Meski Serang virus memiliki hubungan genetik yang dekat dengan seoul virus, analisis genetik menunjukkan perbedaan signifikan. Karena itu, para ilmuwan mengklasifikasikan Serang virus sebagai varian tersendiri dalam kelompok orthohantavirus.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada bukti penularan Serang virus dari hewan ke manusia di Indonesia. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran publik setelah wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius mengakibatkan kematian beberapa penumpang.

Wabah di MV Hondius disebabkan oleh tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berjenis andes virus, virus yang umumnya ditemukan di Amerika Selatan. Sementara itu, kasus hantavirus yang pernah dilaporkan di Indonesia terkait tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan jenis seoul virus.

Perbedaan ini penting karena tidak semua hantavirus memiliki karakteristik yang sama. Andes virus dikenal sebagai satu-satunya hantavirus yang dapat menular antar manusia. Hingga kini, belum ada bukti bahwa Serang virus dapat menginfeksi manusia di Indonesia.

Walaupun belum ada kasus, Kemenkes tetap melakukan pemantauan melalui 21 rumah sakit sentinel penyakit infeksi emerging yang tersebar di 20 provinsi. Rumah sakit tersebut secara aktif melakukan surveilans untuk mendeteksi kemungkinan kasus hantavirus, terutama pada pasien dengan gejala yang mengarah ke tipe HFRS, seperti demam disertai gangguan ginjal atau jaundice.

Menurut dr Andi Saguni, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, pengawasan tidak hanya dilakukan Kemenkes, tetapi juga melibatkan berbagai sektor lain melalui pendekatan One Health. Kementerian Pertanian, BRIN, dan Kemenko PMK turut terlibat untuk memastikan potensi penularan hantavirus dari hewan ke manusia dapat terpantau sejak dini.

“Untuk Serang itu belum ada, itu hanya menginfeksi tikus saja. Jadi tidak terjadi penularan dari tikus ke manusia di Indonesia,” kata dr Andi Saguni, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dalam konferensi pers, Senin (11/5/2026).

Meski belum ada kasus, masyarakat tetap diminta waspada dengan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya. dr Andi Saguni menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri, terutama di area dengan populasi tikus tinggi.

“Apabila kontak tidak dapat dihindari, dapat menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sepatu boot,” ujar dr Andi Saguni.

Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menjaga kebersihan area penyimpanan hasil panen, serta meminimalkan keberadaan tikus di sekitar rumah maupun tempat kerja.

Selain itu, dr Andi Saguni mengimbau masyarakat tidak membuang bangkai tikus sembarangan setelah pembasmian hama. Menurutnya, bangkai tikus sebaiknya dikubur dan ditutup rapat agar lebih aman serta tidak berpotensi mencemari lingkungan sekitar.

Hantavirus di Indonesia sudah dikenal jauh sebelum wabah di kapal pesiar mewah MV Hondius. Namun, jenis maupun tipe virus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang ada di MV Hondius. Penelitian terus berlanjut untuk memantau keberadaan hantavirus lokal dan memastikan tidak ada penularan baru ke manusia.

Dengan pemantauan yang konsisten dan pendekatan lintas sektor, Kemenkes berharap dapat menahan potensi penyebaran hantavirus di Indonesia. Masyarakat diharapkan tetap waspada, menjaga kebersihan, dan melaporkan gejala yang mencurigakan kepada tenaga kesehatan.

Keberadaan Serang virus menambah keragaman hantavirus di Indonesia, menandakan perlunya pengawasan berkelanjutan. Meskipun belum ada kasus pada manusia, langkah pencegahan dan edukasi tetap menjadi prioritas untuk mencegah kemungkinan penularan di masa depan.

HantavirusSerang virusMV HondiusKemenkesOne HealthTikusHFRS

Komentar

Memuat komentar...