Siswa Jakarta Menang Swift Challenge 2026 dengan Aplikasi Isyarat

Ratna D. · 3 min baca · 1 jam lalu · 32 dibaca
Bisik.id
Siswa Jakarta Menang Swift Challenge 2026 dengan Aplikasi Isyarat

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, seorang siswi menorehkan prestasi baru di dunia teknologi. Nicole Lim dari Bina Bangsa School Jakarta berhasil menjadi pemenang Apple Swift Student Challenge 2026 berkat aplikasi bernama HandHearted, sebuah platform pembelajaran bahasa isyarat berbasis Machine Learning.

Ide di balik HandHearted muncul dari pengalaman pribadi Nicole. “Saya ingat berada di tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa berbicara menggunakan bahasa saya. Saat itu saya benar-benar bingung dan tidak memahami apa yang mereka katakan,” ujarnya. Pengalaman itu membuatnya memikirkan bagaimana rasanya bagi penyandang tuli atau mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran ketika harus berkomunikasi sehari‑hari. “Itu membuat saya sadar betapa sulitnya bagi orang dengan gangguan pendengaran, terutama karena mereka punya cara komunikasi yang sangat unik dan spesial. Walaupun kita mungkin tidak berbicara bahasa yang sama, semua orang pantas untuk didengar,” lanjutnya.

Nicole memulai perjalanan codingnya sejak kelas 5 SD. Awalnya ia tidak terlalu menikmati dunia pemrograman karena merasa itu hanya sesuatu yang “harus dipelajari”. Namun seiring waktu, ketertarikannya tumbuh setelah mulai memahami cara kerja coding dan mengikuti berbagai kompetisi teknologi. “Saat pertama belajar coding saya sebenarnya tidak terlalu suka. Tapi semakin dipelajari, saya mulai menikmatinya. Dari situ saya mulai ikut kompetisi dan perlahan tumbuh passion terhadap sesuatu yang awalnya hanya dianggap hobi,” katanya.

Selama proses belajar, Nicole menguasai berbagai bahasa pemrograman, mulai dari HTML, C++, hingga akhirnya jatuh hati pada Swift, bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Apple. Menurutnya, Swift terasa lebih mudah dipahami sekaligus menyenangkan untuk digunakan dalam pengembangan aplikasi.

HandHearted dirancang sebagai aplikasi pembelajaran American Sign Language (ASL) dengan pendekatan interaktif. Pengguna dapat mempelajari alfabet bahasa isyarat dan langsung berlatih menggunakan kamera. “Pengguna cukup menekan tombol ‘Capture & Predict’ untuk melihat apakah gerakan tangan mereka sudah sesuai atau belum,” jelas Nicole. Yang menarik, Nicole menggambar sendiri ilustrasi alfabet bahasa isyarat di aplikasinya agar terasa lebih personal dan bermakna.

Fitur utama HandHearted memanfaatkan Machine Learning untuk mengenali gerakan tangan pengguna secara real‑time. Nicole mengakui proses pengembangan fitur AI tersebut menjadi tantangan terbesar selama mengikuti Swift Student Challenge 2026. “Ini pertama kalinya saya bekerja dengan machine learning. Berkali‑kali gagal dan hampir menyerah, tapi saya terus mencoba sampai akhirnya aplikasi ini berhasil berjalan menjelang batas pengumpulan,” ungkapnya.

Selama proses pengembangan, Nicole juga memanfaatkan ChatGPT untuk membantu memahami error di kode dan memberi panduan bagaimana memperbaikinya, terutama saat ia kesulitan mengintegrasikan machine learning ke dalam aplikasi. “AI sangat membantu saya memahami error di kode dan memberi panduan bagaimana memperbaikinya, terutama saat saya kesulitan mengintegrasikan machine learning ke dalam aplikasi,” katanya.

Bagi Nicole, kemenangan di Swift Student Challenge 2026 terasa sangat tidak nyata. “Awalnya saya benar-benar tidak percaya sampai saya cek ulang berkali‑kalinya. Baru setelah itu saya sadar kalau saya benar-benar menang,” ujarnya. Meski berhasil meraih penghargaan dari Apple, Nicole mengatakan pengalaman dan proses belajar jauh lebih penting dibanding sekadar kemenangan. Ia juga belajar untuk tidak terlalu menekan diri sendiri dalam kompetisi. “Saya selalu bilang ke diri sendiri bahwa saya hanya bersaing dengan diri saya sendiri. Ini bukan soal selalu menang, tapi tentang pengalaman dan pertemanan yang didapat selama prosesnya,” tuturnya.

Ke depan, Nicole berencana mengembangkan HandHearted agar mendukung lebih banyak bahasa isyarat, termasuk Bahasa Isyarat Indonesia. “Ada kemungkinan untuk mendukung bahasa isyarat lain seperti Bahasa Isyarat Indonesia. Saya juga ingin membuat lebih banyak chart alfabet untuk bahasa lain dan semuanya tetap digambar sendiri,” katanya.

Nicole berharap kisahnya bisa memotivasi generasi muda Indonesia untuk mulai belajar coding dan berani mengikuti Swift Student Challenge. “Buat sesuatu yang benar-benar bermakna untuk diri sendiri, bukan hanya untuk mengesankan orang lain. Walaupun prosesnya naik turun dan penuh tantangan, jangan pernah menyerah karena kerja keras pada akhirnya akan terbayar,” pungkasnya.

Keberhasilan Nicole Lim menegaskan bahwa inovasi teknologi tidak selalu harus berskala besar. Dengan tekad, kreativitas, dan bantuan AI, seorang siswi dapat menciptakan solusi yang mempermudah komunikasi bagi penyandang tuli. Prestasi ini juga menyoroti pentingnya pendidikan coding sejak dini, serta potensi aplikasi berbasis machine learning untuk memperluas akses pendidikan bagi semua kalangan.

Komentar

Memuat komentar...