Siswa St. Louis Maaf atas Ucapan Rasis di Street Basketball

Bayu K. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 51 dibaca
Bisik.id
Siswa St. Louis Maaf atas Ucapan Rasis di Street Basketball

Gambar atau konten salah?

Pada hari Rabu, 29 April 2026, di Taman Kunang-Kunang, Surabaya, seorang siswa berusia 15 tahun dari SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya bernama R menjadi sorotan publik setelah melakukan aksi yang dianggap rasis selama acara street basketball bersama Kevon Watt, seorang YouTuber dan pemain streetball asal Kanada.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Kevon Watt dan diikuti oleh R atas inisiatif pribadi. Pada pukul 18.00 WIB, R berpartisipasi dalam pertandingan yang diadakan di lapangan terbuka di taman tersebut.

Saat diminta menjelaskan, R mengatakan, \"Saya mengikuti atas nama pribadi saya sendiri dan saya tidak mengatasnamakan sekolah, serta saya bukanlah anggota tim basket SMA Katolik St. Louis 1,\" pada Senin, 4 Mei 2026.

Ia kemudian mengungkapkan penyesalan mendalam atas ucapan yang dilontarkannya kepada Kevon Watt. \"Saya dengan kerendahan hati yang paling dalam dan rasa penyesalan yang besar, ingin menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas tindakan dan ucapan rasis yang telah saya lakukan terhadap saudara Kevon,\" ungkapnya.

Ia mengakui bahwa perbuatannya tidak dapat dibenarkan dan telah melukai perasaan korban. \"Saya menyadari sepenuhnya bahwa tindakan saya tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang mana pun. Ucapan saya telah melukai perasaan saudara Kevon, mencoreng nilai-nilai kemanusiaan, serta mengkhianati semangat sportivitas,\" tambahnya.

Ia menegaskan bahwa tidak ada alasan yang membenarkan tindakan diskriminatif dalam bentuk apapun. \"Saya secara pribadi memohon maaf atas luka dan ketidaknyamanan yang saya timbulkan, terutama terhadap saudara Kevon. Tidak ada seorang pun yang pantas menerima perlakuan diskriminatif,\" tegasnya.

R juga meminta maaf karena nama sekolah terseret ke dalam polemik tersebut. \"Saya juga memohon maaf karena telah membawa nama baik SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya ke dalam situasi negative ini. Perilaku saya sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan oleh bapak dan ibu di SMA Katolik St. Louis 1,\" ujarnya.

Dia menyatakan bahwa kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi dirinya untuk memperbaiki diri dan menghargai keberagaman. \"Saya menyadari bahwa rasisme adalah isu serius yang merusak tatanan sosial. Saya berkomitmen untuk belajar lebih baik lagi agar kejadian serupa tidak pernah terulang kembali,\" katanya.

Pihak SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya juga memberikan klarifikasi terkait keterlibatan siswanya. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Dra. Maria Viciati mengonfirmasi bahwa R memang siswa di sekolah tersebut, namun menegaskan bahwa acara yang diikuti bukan agenda resmi sekolah.

Menurut Dra. Maria Viciati, \"Adapun event yang diikuti oleh R di Taman Kunang-Kunang, Surabaya bukanlah event basket yang diadakan oleh sekolah kami dan juga bukan event yang diikuti oleh SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya, melainkan niatan pribadi atau kapasitas pribadi dari R untuk mengikuti event street basketball di dekat rumahnya, di luar jam sekolah,\" ujar Viciati.

Meskipun demikian, pihak sekolah menegaskan akan tetap melakukan pembinaan terhadap siswanya. \"Meskipun kejadian tersebut, adalah event pribadi yang diikuti oleh R di luar sekolah, kami selaku pihak sekolah, juga turut bertanggung jawab secara moral untuk melakukan pendidikan dan pembinaan lebih lanjut terhadap R, sehingga di kemudian hari perbuatannya tidak terjadi lagi, agar R dapat menjadi lebih baik dan berguna bagi bangsa dan negara,\" pungkas Viciati.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya pendidikan tentang keberagaman dan sportivitas di kalangan pelajar.

RasismeSMA Katolik St. Louis 1Kevon Wattstreet basketballmaafkeberagamansportivitasTaman Kunang-Kunang

Komentar

Memuat komentar...