Siswi 8 Tahun Bawa Ular King Koros di Tas Sekolah Cianjur

Bayu K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 89 dibaca
Bisik.id
Siswi 8 Tahun Bawa Ular King Koros di Tas Sekolah Cianjur

Gambar atau konten salah?

Aksi seorang siswi SD di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, membuat banyak orang terkejut di media sosial. Siswi itu, yang masih mengenakan seragam sekolah, membawa seekor ular King Koros di dalam tasnya.

Video yang menjadi viral menampilkan siswi tersebut bersama seorang bocah laki‑laki. Saat mereka sedang berjalan, seorang anak bertanya apa isi tas siswi. Awalnya dianggap bekal, ternyata di dalam tas tersimpan ular.

Gadis itu, bernama Meisa Arifa Kartiwa, baru berusia 8 tahun dan duduk di kelas 2 SD. Ia berasal dari Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong. Sejak kecil, Meisa sudah menunjukkan ketertarikan pada reptil dan hewan lain.

“Dari sebelum sekolah memang suka main sama ular. Yang di video itu namanya Zoro ular King Koros. Tapi masih banyak yang lain di rumah,” kata Meisa, yang akrab dipanggil Caca, pada Senin, 27 April 2026.

Meisa mengaku tidak takut dengan ular-ular peliharaannya. Meskipun berasal dari alam liar, ia mengatakan bahwa ular-ular tersebut sudah dijinakkan oleh ayahnya.

“Nggak takut, kan sudah dibuat jinak sama ayah. Makanya sampai tidur juga sama Zoro atau ular yang lain,” tambahnya.

Ayah Caca, Jepi Kartiwa, menjelaskan bahwa sejak usia tiga tahun, anaknya sudah menunjukkan minat pada ular dan reptil lain. “Saya kan memang dulu sering berkumpul dan belajar soal penanganan ular bersama konten kreator Sahabat Alam, terus Dede Inoen, dan lainnya. Makanya di rumah ada koleksi hasil rescue. Ternyata anak saya malah ikut merawat dan bermain sama ular-ular ini,” ungkap Jepi.

Jepi menambahkan, Caca sering menangkap kalajengking dengan tangan kosong ketika masih balita. “Awalnya malah yang ditangkap itu kalajengking. Kemudian baru main ular,” jelasnya.

Ayah juga mengungkapkan bahwa Caca tidak bisa jauh dari ular-ular peliharaannya. Ia pernah mengalami kejadian ketika Zoro, ular kesayangannya, dipinjam oleh teman ayahnya untuk konten. “Pernah sekali saya coba sembunyiin ularnya, bilang dipinjam teman saya untuk ngonten. Langsung nangis saat pulang sekolah. Kemudian tidak mau makan sampai besoknya,” ungkap Jepi.

Walaupun begitu, Jepi memberi izin kepada Caca untuk memelihara dan bermain dengan beberapa jenis ular tak berbisa. Ia melarang keras memelihara ular kobra. “Saya sekaligus edukasi juga, mana saja ular yang berbisa atau bisanya mematikan. Itu jangankan dipelihara, ditangkap atau dimainkan tidak boleh karena berbahaya. Untungnya anak saya ini penurut, dan cepat pahamnya. Makanya hanya koleksi King Koros, sanca, serta ular tidak berbisa ataupun yang bisanya kategori ringan,” ungkapnya.

Menurut Jepi, kecintaan Caca terhadap reptil membuatnya bercita‑cita menjadi pawang ular profesional di masa depan. “Cita‑citanya ingin jadi pawang ular, karena kan jarang perempuan jadi pawang ular. Makanya dari sekarang belajar jenis ular, bagaimana menangkap dan merawat ular, supaya tidak hanya modal berani tapi berpengetahuan juga,” pungkasnya.

Video ini menyoroti bagaimana minat anak terhadap hewan dapat berkembang menjadi hobi serius. Namun, pengawasan orang tua tetap penting, terutama ketika berurusan dengan hewan yang berpotensi berbahaya. Keberadaan Caca di media sosial menambah perhatian publik terhadap perlindungan dan penanganan hewan eksotik di Indonesia.

siswi SDular King Korosmedia sosialpwangan ularpenanganan ularhewan eksotikanak 8 tahun

Komentar

Memuat komentar...