Siswi Medan menyeberangi pipa air tanpa jembatan di Medan

Jaka M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
Siswi Medan menyeberangi pipa air tanpa jembatan di Medan

Gambar atau konten salah?

15 April 2026 di Medan, sejumlah siswi SMP nekat melewati pipa air di atas Sungai Deli untuk dapat sampai ke sekolah mereka. Tidak ada jembatan lagi di tempat itu, sehingga mereka harus menempuh jalan yang tidak biasa.

Para siswi ini, terdiri dari laki‑laki dan perempuan, baru saja pulang sekolah dan masih mengenakan seragam. Mereka perlahan‑perlahan menapaki pipa PDAM yang menghubungkan dua sisi sungai. Di bawah kaki mereka mengalir arus sungai besar yang tidak terlihat dari atas.

Di masa lalu, di lokasi yang sama ada sebuah jembatan. Jembatan itu dulunya bekas rel kereta api yang menghubungkan Gang Perbatasan, Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Medan Maimun dengan Kecamatan Medan Polonia. Jembatan tersebut menjadi jalur utama bagi anak sekolah dan warga. Namun, jembatan itu kini sudah tidak tersisa.

Kalau naik motor sekitar 6 menitan ke rumah, tapi kalau jalan jauh, harus mutar, dari sini lebih dekat,” kata Mita, siswi kelas 7 di SMPN 34 Medan saat diwawancarai di lokasi. Ia mengaku bisa pulang atau pergi ke sekolah dengan angkot menggunakan uang jajan yang disisihkan. Tetapi angkot tidak bisa menjangkau rumahnya, sehingga ia harus berjalan lebih jauh lagi.

Nggak takut, karena sudah terbiasa,” tambah Mita. Ia tidak merasa takut saat melintasi pipa meski di bawahnya ada sungai. Satu teman sekelasnya, Pramudya, yang juga bersekolah di SMPN 34, mengatakan bahwa ia biasanya hanya melewati pipa tersebut saat pulang sekolah. Ia menyimpan uang ongkos yang diberikan orang tuanya agar lebih hemat. “Sejak pertama sekolah lewat sini, nggak ada ketakutan,” ujarnya.

Di luar sekolah, Lestari dari Kepling 21, Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun mengatakan bahwa anak-anak memang sudah sering melintasi pipa itu saat pergi dan pulang sekolah. Ia menambahkan bahwa warga sekitar juga melakukan hal yang sama. “Cuman ada beberapa murid, nggak semuanya, beberapa murid yang nekat untuk melintasi jalan ini,” kata Lestari. Ia mengingatkan bahwa sudah ada garis kok supaya tidak dilewati, dan sudah diimbau. “Cuman ya karena kan kalau ke sana itu mutar ya, inilah jalan lintas yang cepat,” tambahnya.

Lestari menyebutkan bahwa dulunya ada jembatan bekas rel kereta api tepat di sebelah pipa itu. Selama ini, akses tersebutlah yang dimanfaatkan oleh anak sekolah dan warga. Namun, beberapa tahun terakhir, jembatan itu rusak dan kini sudah tidak ada lagi. Ia mengungkapkan bahwa jembatan itu sempat ditinjau oleh Bobby Nasution saat menjadi Wali Kota Medan. “Harapannya masyarakat sini ya jembatannya dipasang kembali, diperbaiki ya karena itu akses yang utama untuk warga Polonia dan Kampung Baru,” pungkasnya.

Keputusan untuk menempuh pipa ini menunjukkan bagaimana anak-anak menyesuaikan diri dengan kondisi infrastruktur yang terbatas. Meskipun ada peringatan dan garis kok, mereka tetap memilih jalur yang lebih dekat demi waktu. Situasi ini menyoroti perlunya perbaikan jembatan bekas rel kereta api yang dulunya menjadi akses utama bagi warga Medan Maimun dan Medan Polonia.

siswi SMPpipa airSungai Delijembatan rel kereta apiMedan MaimunMedan Poloniainfrastruktur terbatas

Komentar

Memuat komentar...