Tanggul Tuntang Jebol, 60m Putus, 94 Hektar Sawah Terdampak

Rizki W. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 66 dibaca
Bisik.id
Tanggul Tuntang Jebol, 60m Putus, 94 Hektar Sawah Terdampak

Gambar atau konten salah?

Tanggul Sungai Tuntang yang jebol di Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak pada Jumat (03 April 2026) menimbulkan kerusakan tak terduga. Tidak hanya menimbulkan banjir, tanggul tersebut juga memecah jalan utama yang menghubungkan Demak dengan Grobogan, sehingga bagian jalan tersebut putus lebih dari 50 meter.

Menurut Kepala Desa Sidoharjo, Sudowiryo, “Yang rusak ini kurang lebih di sekitar 50 sampai 60 meter,” kata Kepala Desa Sidoharjo, Sudowiryo kepada awak media di lokasi, Minggu (5/4/2026). Jalan yang terputus berada tepat di samping tanggul yang jebol. Jalan itu terbuat dari beton dan terdiri dari tiga lapis bertumpuk, sebuah struktur yang biasanya menjadi jalur utama bagi warga.

Sudowiryo menjelaskan bahwa jalan ini bukan sekadar jalan biasa. “Jalan akses utama dari warga Sidoharjo, Trimulyo, Telogorejo, Bumiharjo menuju kota. Wilayah Grobogan sebelah barat, khususnya Kecamatan Gubug kalau mau ke Demak lewatnya sini, alternatif,” jelasnya. Jalan ini menjadi jalur alternatif bagi warga Grobogan yang hendak menuju Demak, sehingga kerusakan di sini berdampak luas.

Tim dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sudah datang meninjau lokasi. Saat ini, dua ekskavator dan satu bulldozer telah ditempatkan di area tersebut. “Kemarin dari BBWS langsung meninjau ke sini dan dari pak sekjen dari pusat, alhamdulillah sudah ke sini. Alat berat untuk saat ini ada dua ekskavator sama satu bulldozer. untuk jalan ini kami berharap dari pemerintah semoga secepatnya dinormalisasi,” ujar Sudowiryo.

Sudowiryo juga menceritakan detik-detik terjadinya kerusakan. Sebelum jebol, air sungai sempat melimpas karena tingginya debit air. “Jebolnya tanggul di Sungai Tuntang ini, karena kemarin kan derasnya limpas, jadi tanggul itu ndak bisa nahan air, debit air akhirnya terkikis. Kemudian sekitar pukul 11.30 WIB itu mulai parah, terus kemudian jebol setelah persis pulang Jumatan itu,” tutur Sudowiryo.

Lokasi tanggul yang jebol cukup jauh dari permukiman, sehingga tidak ada korban jiwa maupun rumah yang rusak. Namun, puluhan hektare persawahan di desa tersebut terdampak. “Jadi tidak ada korban atau tidak ada yang dirugikan fisiknya. Untuk dampak dari jebolnya tanggul ini, sawah dari petani desa Sidoharjo yang luasnya sudah didata kemarin itu kurang lebih 94 hektar,” beber Sudowiryo.

Petani di desa Sidoharjo sudah mulai menanam saat banjir terjadi. “Kerugiannya itu ada sebagian yang sudah tanam, ada sebagian yang baru mau tanam, tapi sudah dipersiapkan bibitnya jadi hilang semua, terus ada juga yang sudah pemupukan pertama,” kata Sudowiryo.

Di sisi lain, Kepala BPBD Demak, Agus Sukiyono, menyatakan bahwa tiga titik tanggul Sungai Tuntang yang jebol pada Jumat (03 April 2026) berada di Desa Trimulyo dan Desa Sidoharjo, Kecamatan Guntur. “Kondisi tanggul jebol di Desa Trimulyo Dukuh Solondoko sekitar 30 meter, Desa Trimulyo Dukuh Solowire 10 meter, di Desa Sidoharjo 15 meter,” kata Agus.

Hari ini, dampak banjir akibat tanggul Sungai Tuntang jebol sudah mencapai 10 desa di empat kecamatan. Agus menyebut tren ketinggian banjir semakin menurun. “10 desa di empat kecamatan terdampak banjir. Ini surut dan mulai normal, karena debit air dari atas sudah menyusut,” ujar Agus.

Wilayah yang terdampak secara rinci meliputi: Desa Trimulyo, Sidoharjo, Turitempel, Tlogorejo, Bumiharjo di Kecamatan Guntur; Desa Sarimulyo dan Solowire di Kecamatan Kebonagung; Desa Ploso dan Grogol di Karangtengah; serta Desa Lempuyang di Kecamatan Wonosalam. “Wilayah Desa Trimulyo kondisi ketinggian air 50-70 cm, kondisi tren turun. Desa Ploso kondisi ketinggian air 30-40 cm, kondisi tren turun. Desa Tlogorejo kondisi ketinggian air 20-40 cm, kondisi tren turun,” jelas Agus.

Agus menambahkan bahwa Desa Grogol memiliki ketinggian air 25-30 cm, dan terdapat limpasan di Desa Turitempel, namun kondisi masih aman. “Wilayah Desa Grogol kondisi ketinggian air 25-30 cm, dan terdapat limpasan di Desa Turitempel, kondisi masih aman,” tambahnya.

Secara keseluruhan, situasi di Desa Sidoharjo menunjukkan bahwa meski tidak ada korban jiwa, kerusakan pada infrastruktur dan lahan pertanian cukup signifikan. Pemerintah daerah telah menugaskan alat berat untuk memperbaiki tanggul dan jalan, sementara petani masih menunggu hasil panen yang terpengaruh. Kenaikan debit air yang tinggi pada hari itu memicu kerusakan, namun tren penurunan air menunjukkan bahwa banjir mulai mereda. Pekerjaan restorasi jalan dan tanggul diharapkan selesai dalam waktu dekat, sehingga akses utama warga dapat kembali normal.

tanggul Sungai Tuntangjebolbanjirjalan utamaDesa Sidoharjoalat beratpuluhan hektare sawah

Komentar

Memuat komentar...