Tari Maraton 10 Jam Buka Hari Tari Sedunia 2026 di Palembang
Gambar atau konten salah?
Palembang, Dinas Kebudayaan Kota Palembang bersama Komunitas Sanggar Tari Palembang (SATAPA) menyiapkan aksi tari 10 jam non‑stop untuk pembukaan peringatan Hari Tari Sedunia 2026 di Palembang, Rabu (29 April 2026). Kegiatan ini berlangsung dari pagi hingga malam, melibatkan puluhan sanggar dan ratusan penampilan. Dua penari terpilih menjadi sorotan utama, sementara aksi tersebut dirancang untuk mempromosikan kekayaan tari Palembang sekaligus mendorong pelestarian budaya di kalangan generasi muda.
Mirza Indah Dewi, pembina Satapa, menjelaskan bahwa 10 jam non‑stop menjadi highlight utama peringatan tahun ini. Ia menegaskan bahwa hanya dua penari terpilih yang dipercaya menjalani tantangan tersebut setelah melalui proses seleksi ketat. “Cuma dua penari, yaitu Mita dari Sanggar Musi dan Sapta dari Universitas PGRI. Mereka sudah kami seleksi sejak sebulan lalu, bukan penari sembarangan karena harus punya karya, pengalaman, dan rekam jejak yang kuat,” ujarnya.
Menurut Indah, persiapan utama bagi kedua penari adalah menjaga stamina dan kondisi fisik. Selain itu, kemampuan menguasai ragam gerak tari menjadi kunci agar penampilan selama 10 jam tidak monoton. Aksi tari maraton ini merupakan bagian dari proses panjang yang telah dirintis sejak beberapa tahun terakhir. Satapa mengadopsi konsep serupa dari daerah lain, namun menerapkannya secara bertahap di Palembang.
“Tahun 2018 kita mulai 6 jam, 2024 menjadi 8 jam, dan sekarang 10 jam. Kita berproses, mudah‑mudahan ke depan bisa lebih panjang lagi,” jelasnya.
Selain aksi utama, peringatan Hari Tari Sedunia 2026 juga dimeriahkan oleh sekitar 60 sanggar dengan total 80 penampilan yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Ribuan penari terlibat dalam rangkaian kegiatan ini, menambah warna dan semangat acara.
Puncak acara akan digelar pada malam hari dengan penampilan tari massal “Dana Belincak” yang melibatkan 1.000 penari, termasuk rencana partisipasi Ibu Wali Kota Palembang untuk ikut menari bersama. Ini menandai momen kebersamaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Indah menegaskan, “Kita ingin generasi muda tidak melupakan identitasnya. Palembang ini kaya budaya, dan kita ingin menjadikannya sebagai pusat seni tari.”
Sapta, salah satu penari 10 jam, mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman sekaligus tanggung jawab untuk menjaga tradisi. “Harapannya generasi ke depan tetap melestarikan tari tradisi dan tidak terbawa zaman hingga melupakan budaya sendiri,” ujarnya.
Mita mengungkapkan, “Ini pengalaman baru. Biasanya menari paling lama 15 menit, sekarang harus 10 jam non‑stop. Tapi saya bangga bisa ikut.” Ia menambahkan, latihan stamina dan eksplorasi berbagai jenis tari Nusantara menjadi bagian penting dari persiapannya.
Dengan konsep “Dari Tepian Musi Menuju Panggung Dunia”, kegiatan ini diharapkan mampu mengangkat eksistensi tari Palembang ke level yang lebih luas, sekaligus menjadikan Hari Tari Sedunia sebagai agenda rutin tahunan yang terbuka bagi seluruh komunitas seni.
Acara ini menegaskan komitmen Palembang untuk menjaga dan mempromosikan warisan budaya melalui seni tari, sekaligus mengajak generasi muda agar tetap terhubung dengan identitas lokal mereka.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Palembang: Gaji ke-13 ASN 2026, Rp 89 Miliar Alokasi
Evaluasi CFD Palembang: PKL Dikonfigurasikan di Zona Khusus
Berita Terbaru
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Curacao masuk Piala Dunia 2026, Chong satu pemain asli
Beasiswa AGRTPS 2026: 5 Slot Buka, Pendaftaran Hingga 18 Juni
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
