Tatan Jual Kopi di Lampu Merah Buah Batu, Cari Finansial

Teguh A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Tatan Jual Kopi di Lampu Merah Buah Batu, Cari Finansial

Gambar atau konten salah?

Tatan, seorang pedagang kopi berusia 41 tahun, berdiri di lampu merah Buah Batu, menunggu pelanggan datang. Ia mengaku bahwa ketidakstabilan finansial memaksa dirinya mencari cara baru untuk menolong keluarga. Meskipun penuh pertimbangan dan risiko, Tatan memilih menempuh tantangan demi kebaikan diri sendiri dan orang-orang yang ia sayangi.

“Saya awalnya bekerja di kampung, sebagai petani. Kurang lebih cukup aja membiayai keluarga. Jadi petani cukup lama, sampai dua anak yang dewasa ini kerja. Di sini (berdagang kopi di lampu lalu lintas Buah Batu) ketemu juga orang yang senasib, jadi gak merasa sendiri. Lalu dulu itu penghasil tidak seperti sekarang, tapi karena ekonomi lagi anjlok waktu itu harus segera mikir lagi apakah dilanjutkan atau tidak (menjadi petani),” ujar Tatan.

Ia menjelaskan bahwa menjadi petani cukup untuk menutupi kebutuhan keluarganya yang terdiri dari tiga anak dan istri. Namun, ketika anak-anaknya tumbuh dewasa, biaya hidup pun ikut naik. Pada saat itu, ekonomi negara berada di fase krisis, sehingga Tatan harus memikirkan apakah tetap bertahan sebagai petani atau beralih ke kota Bandung.

“Saya sudah dari tahun 2008 berjualan di sini. Dulu karena ekonomi yang memburuk, makanya ganti profesi aja kata saya. Saya aslinya Tasikmalaya, penjualan beras biasanya naik-turun tiap tahun. Saya pilih tidak lanjut, saya ke kota buat nyari kerja. Ya alasannya karena ingin tahu kerja di kota di Bandung seperti apa,” ungkap Tatan.

Keingintahuannya tentang kehidupan di kota membuatnya meninggalkan pekerjaan sebagai petani di Tasikmalaya. Meskipun penghasilan dari berdagang kopi tidak sebesar pendapatan petani, ia cukup untuk menanggung dirinya sendiri. Penjualan beras pada masa itu cenderung fluktuatif, sehingga pendapatan tidak menentu setiap tahun.

“Kalau sekarang anak-anak sudah pada besar, kecuali yang satu masih sekolah di Tasikmalaya. Ketiganya bersekolah di kampung. Anak pertama dan kedua sudah kerja, satunya kerja di konveksi di Bandung, satunya lagi kerja di Bogor. Dua-duanya sudah mandiri, bisa membiayai diri sendiri, kecuali yang kecil ini masih sekolah,” ungkap Tatan sambil menyeduh kopi buat pembeli.

Dengan dua anak sudah mandiri, Tatan hanya perlu menanggung biaya sekolah anak ketiga. Ia telah berjualan selama 19 tahun di jalan, mulai di Margahayu sebelum pindah ke lampu lintas Buah Batu. Pada Lebaran mudik, seluruh keluarga kembali ke Tasikmalaya, lalu ia kembali berjualan tiga hari yang lalu setelah kembali ke Bandung Minggu kemarin. Sebelum itu, ia berada di kampung selama puasa dan Lebaran.

Selama bulan puasa, Tatan menghabiskan waktu bersama keluarga. Ia hanya kembali ke Tasikmalaya pada momen-momen tertentu, sehingga kebersamaan di hari raya Idul Fitri menjadi momen berharga. Ia berharap suatu hari nanti dapat pekerjaan yang lebih baik dan rezeki yang lebih melimpah.

“Ya semoga ke depan ada rezeki. Bisa dapat kerja yang stabil. Umur juga sudah tidak muda, ya menunggu ada rezeki yang datang aja. Kadang pemerintah ada bantuan, tapi semoga ada lagi.” Tutup Tatan.

Perjalanan Tatan mencerminkan realitas banyak warga Jawa Barat yang menghadapi ketidakpastian ekonomi. Dari petani di kampung hingga pedagang kopi di lampu merah, ia menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Meskipun belum menemukan pekerjaan tetap, ia tetap berusaha menambah penghasilan melalui penjualan kopi. Harapannya sederhana: stabilitas finansial dan kebahagiaan keluarga.

TatanPedagang KopiLampu Merah Buah BatuKrisis EkonomiPetaniKeluargaBandungTasikmalaya

Komentar

Memuat komentar...