Titik Nol Singaraja: Penataan Harmonis Purusa‑Pradana

Dedi S. · 2 min baca · 5 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id
Titik Nol Singaraja: Penataan Harmonis Purusa‑Pradana

Gambar atau konten salah?

Di kota Singaraja, pemerintah Kabupaten Buleleng sedang menata ulang kawasan yang dikenal sebagai Titik Nol. Proyek ini tidak sekadar mempercantik tampak, melainkan juga menanamkan makna filosofis yang khas Bali.

Konsep utama yang digunakan adalah Purusa‑Pradana, sebuah ajaran Hindu Bali yang menekankan keseimbangan antara kekuatan dan kasih sayang. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUTR Perkim) Buleleng, I Putu Adiptha Eka Putra, menjelaskan:

“Dalam konsep ini, Kantor Bupati dimaknai sebagai Purusa atau simbol kekuatan, sedangkan Gedung Laksmi Graha sebagai Pradana yang melambangkan kasih sayang. Keduanya menjadi satu kesatuan yang mencerminkan harmoni,” ujar Adiptha, 19 Juni 2026.

Untuk mewujudkan filosofi tersebut, arsitek menggabungkan kaidah tradisional Bali, seperti Tri Angga dan Asta Kosala Kosali. Setiap elemen ruang, bentuk bangunan, hingga ornamen kecil dipilih dengan cermat agar mencerminkan nilai‑nilai tersebut.

Proyek ini juga memberi ruang bagi identitas lokal Buleleng. Salah satu cara yang diambil adalah penggunaan Paras Abasan, batu merah khas Desa Sangsit, yang diolah menjadi ukiran dekoratif. Menurut Adiptha, seluruh pengerjaan ukiran melibatkan seniman lokal sehingga hasil pembangunan tidak hanya mempercantik kawasan kota, tetapi juga menjadi etalase karya masyarakat Buleleng.

“Kami ingin identitas lokal tetap kuat. Karena itu material dan pengerjaan ukiran memanfaatkan potensi yang ada di Buleleng,” terang Adiptha.

Selain filosofi dan identitas, proyek ini juga menonjolkan keterbukaan kepada masyarakat. Pagar di area ini dirancang rendah, sehingga tidak menciptakan batasan antara pemerintah dan warga. Adiptha menambahkan:

“Pagar yang rendah ini menjadi simbol bahwa pemerintah terbuka dan menyambut masyarakat. Kawasan ini memang dirancang sebagai ruang publik yang bisa dinikmati bersama,” imbuh Adiptha.

Untuk menjaga tampak bersih, semua kabel utilitas milik PLN, Telkom, dan provider lain ditanam di bawah tanah. Langkah ini bertujuan menghilangkan kesan semrawut sekaligus memperkuat estetika kawasan heritage di jantung Kota Singaraja.

Selanjutnya, pemerintah Kabupaten Buleleng menyiapkan tiga kantong parkir di sekitar Titik Nol Singaraja. Kantong parkir pertama terletak di depan Kantor BPKAD Buleleng dan dapat menampung bus serta kendaraan roda empat. Di sana juga tersedia toilet dan tempat ibadah bagi wisatawan.

Kantong parkir kedua berada di area parkir Makam Pahlawan Curastana, dengan kapasitas sekitar 30 kendaraan roda empat maupun roda dua. Sedangkan kantong parkir ketiga memanfaatkan area Kantor Bupati Buleleng.

Menurut Adiptha, penyediaan kantong parkir merupakan bagian dari upaya mengantisipasi kepadatan lalu lintas seiring meningkatnya kunjungan masyarakat ke kawasan yang diproyeksikan menjadi ikon baru Kota Singaraja.

Progres penataan kawasan Titik Nol Singaraja telah mencapai 85%, melampaui target yang ditetapkan dalam kontrak kerja sebesar 83%. Pekerjaan yang tersisa hanya beberapa penyelesaian detail, termasuk pemasangan bangku di area pedestrian. Pemerintah Kabupaten Buleleng optimistis seluruh pekerjaan dapat dituntaskan sesuai target pada pertengahan Juli 2026.

Proyek ini menampilkan bagaimana perencanaan kota dapat memadukan nilai filosofis, identitas lokal, dan kebutuhan praktis. Dengan menanamkan konsep Purusa‑Pradana, menggunakan material lokal, serta menyediakan fasilitas publik yang ramah, Titik Nol Singaraja berpotensi menjadi contoh penataan ruang publik yang harmonis dan inklusif.

Kota SingarajaTitik NolPurusa‑PradanaBulelengParas Abasanarsitek tradisional Baliruang publikidentitas lokal

Komentar

Memuat komentar...