Gempa Darat Lebih Merusak, Pakar Jelaskan Penyebabnya
Gambar atau konten salah?
Gempa yang terjadi di darat sering dianggap lebih mematikan daripada gempa di laut. Hal ini disebabkan oleh dampak kerusakan dan korban jiwa yang biasanya lebih parah. Pakar Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Dr. Ir. Amien Widodo, menjelaskan bahwa pusat gempa di darat berada dekat dengan tempat tinggal masyarakat.
“Karena gempa darat itu kan terjadi di bawah kita. Nah, kalau laut kan di 100-200 KM di pantai sana baru getarannya kan jadi lebih kecil sampai ke kita,” ujarnya saat dihubungi pada 19 Juni 2026.
Ia mencontohkan gempa berkekuatan M 6,5 yang terjadi di Bawean beberapa waktu lalu. Meskipun magnitudonya cukup besar, getaran yang dirasakan di Surabaya sudah jauh berkurang.
“Jadi misalnya kemarin di Bawean itu kan M 6,5. Sampai di Surabaya ya yang sekitar M 4, 3, 2, 1 memang ada yang 6,5 tadi. Itu karena tanahnya tadi jadi seperti itu. Jadi getarannya terasa di Surabaya bagian timur, itu terasa,” ujarnya.
Di sisi lain, gempa darat dengan magnitudo lebih kecil tetap dapat menimbulkan kerusakan besar. Amien mencontohkan gempa di Cianjur dan Yogyakarta.
“Contoh sesar yang di darat itu di Cianjur. Cianjur kan gempanya M 5,6, tapi karena di bawah kita gitu, terus rumahnya juga tidak sesuai standar. Jadi ya banyak yang roboh. Seperti di Jogja dulu ya, M 6 juga. Itu banyak rumah yang roboh karena rumahnya tidak standar,” jelasnya.
Menurut Amien, tingkat pengetahuan masyarakat dan kesiapan bangunan menjadi faktor penentu besar kecilnya dampak bencana. Ia menilai bahwa masyarakat perlu memahami risiko gempa dan beradaptasi dengan kondisi wilayah tempat tinggalnya.
“Jadi memang harus belajar. Perlu diketahui jadi di Jepang itu kenapa mereka banyak yang selamat itu karena setiap orang itu mempunyai pengetahuan terkait dengan gempa itu sendiri. Berarti rumahku harus menyesuaikan, saya sendiri harus beradaptasi dengan itu begitu,” tandasnya.
Penjelasan Dr. Amien menyoroti pentingnya pengetahuan dan standar bangunan dalam mengurangi kerusakan akibat gempa. Masyarakat disarankan untuk mempelajari risiko gempa, memperkuat struktur bangunan, dan menyesuaikan diri dengan kondisi geologis setempat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
BMKG Monitor 24 Jam, Sosialisasi Gempa di Bojonegoro
Gunung Semeru Erupsi, APG 4,5 km: Peringatan BPBD Warga
Malang Pakai Jersey Jumat Piala Dunia, Dukung UMKM Ekonomi
Gempa Kecil 4-5 M di Sesar Kendeng, BMKG: Tenang Ya Warga Siap
Semeru Letus: Awan Panas 4,5 km Tanpa Dampak Warga
Klaim Erupsi Gunung Lawu Ditolak, PVMBG Konfirmasi Normal
Berita Terbaru
Guide dan Porter Gunung Rinjani Perlu Kartu Akses Tahunan
Barantum Raih Rating 4,9/5 Google, Jadi CRM Lokal Populer
Timnas PUBG Mobile Indonesia Raih Tiket Asian Games 2026
BEI Tanggapi Penurunan Arus Informasi MSCI Indonesia
Motor WNA Georgia Mendarat Tol Purbaleunyi, Teguran Saja
Buka Pendaftaran SPMB Kabupaten Bogor Juni 2026 12 Juni
Buleleng Gelar Nobar Gratis Piala Dunia 2026 di RTH
