Tujuh Mitos Matcha yang Perlu Kamu Ketahui dan Hindari
Gambar atau konten salah?
Matcha kini menjadi minuman yang banyak dicari, baik di kafe maupun di rumah. Banyak orang menikmati rasa segar dan manfaat kesehatan yang diklaim dari bubuk teh hijau ini. Namun, di balik ketenarannya, masih banyak kebingungan tentang kualitas, rasa, dan cara penyajian matcha. Artikel ini menguraikan tujuh mitos yang sering muncul dan memberikan penjelasan yang lebih akurat.
1. Klasifikasi “ceremonial grade”
Istilah “ceremonial grade” sering dipakai dalam iklan, tetapi sebenarnya tidak ada standar resmi yang mengaturnya. Produsen bebas memberi label ini untuk memasarkan produk. Di Jepang, kualitas matcha biasanya dibagi menjadi kategori tradisional seperti keiko, usucha, dan koicha, yang masing-masing memiliki fungsi berbeda dalam upacara minum teh. Jadi, ketika melihat label “ceremonial grade”, jangan langsung menganggapnya sebagai jaminan kualitas.
2. Semakin hijau, semakin berkualitas
Warna hijau yang cerah memang sering dianggap menandakan matcha berkualitas tinggi. Namun, warna hanyalah salah satu indikator. Faktor lain seperti jenis daun, metode penanaman, dan proses pemanggangan juga memengaruhi warna akhir. Bahkan, beberapa matcha berkualitas tinggi dapat memiliki warna yang tidak terlalu gelap karena perbedaan teknik produksi. Jadi, jangan menilai matcha hanya dari tampilan hijau.
3. Matcha organik selalu lebih baik
Organik memang lebih ramah lingkungan, tetapi proses sertifikasi organik memerlukan biaya tinggi dan tidak semua petani kecil dapat memenuhinya. Banyak produsen kecil menghasilkan matcha berkualitas tinggi dengan metode alami tanpa sertifikasi resmi. Dari segi rasa, matcha organik kadang memiliki karakter yang berbeda dan bahkan bisa terasa kurang kuat dibandingkan matcha konvensional. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pupuk yang memengaruhi cita rasa umami, ciri khas matcha berkualitas tinggi.
4. Matcha selalu pahit
Rasa pahit biasanya muncul pada matcha berkualitas rendah. Kandungan kafein dan katekin memang dapat menimbulkan rasa pahit, tetapi matcha berkualitas tinggi yang diproses dengan baik biasanya memiliki rasa lebih lembut dan seimbang. Kandungan asam amino tinggi membantu menyeimbangkan rasa, sehingga matcha tidak terasa terlalu pahit.
5. Matcha hanyalah bubuk teh hijau biasa
Proses produksi matcha jauh lebih kompleks daripada bubuk teh hijau biasa. Matcha dibuat dari daun teh khusus bernama tencha, yang ditanam dan diolah dengan metode tertentu. Setelah itu, daun digiling menggunakan batu granit hingga menjadi bubuk halus berukuran mikro. Proses ini berbeda dengan produksi bubuk teh hijau biasa seperti funmatsu-sencha, sehingga menghasilkan rasa, tekstur, dan kualitas yang berbeda secara signifikan.
6. Membuat matcha memerlukan alat mahal
Alat dasar yang diperlukan untuk menyeduh matcha cukup sederhana: mangkuk, saringan, dan pengocok bambu atau chasen. Meskipun sekarang tersedia alat modern, hasilnya belum tentu lebih baik dibandingkan metode tradisional. Bahkan, alternatif sederhana seperti milk frother atau botol dapat digunakan. Intinya, membuat matcha tidak harus menggunakan peralatan mahal.
7. Matcha harus berbusa
Beberapa orang mengira matcha harus selalu berbusa agar dianggap sempurna. Namun, busa bukan syarat utama kualitas matcha. Dalam tradisi Jepang, ada dua jenis penyajian: usucha yang cenderung berbusa dan koicha yang kental tanpa busa. Bahkan, beberapa upacara teh di Jepang lebih menyukai matcha tanpa busa. Jadi, preferensi penyajian matcha sangat bergantung pada selera masing-masing orang; busa hanyalah salah satu karakteristik, bukan penentu utama kualitas.
Dengan memahami fakta-fakta di atas, konsumen dapat memilih dan menikmati matcha dengan lebih bijaksana. Matcha memang menarik, tetapi penting untuk tidak terjebak pada mitos yang beredar. Memahami proses produksi, jenis daun, dan cara penyajian akan membantu menikmati minuman ini secara optimal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Warung Nasi Goreng Salatiga Viral karena Timun Utuh
Jagakarsa: 7 Tempat Kuliner Tradisional yang Harus Dicoba
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Jennifer Coppen nikah Justin Hubner di Bali, tradisi Jawa
Rahasia Tempura Jepang: Adonan Ringan dan Minyak Tepat
Tujuh Tempat Makan Legendaris di Cilandak Menjelajah Rasa
Berita Terbaru
Malam 1 Suro: Tradisi, Amalan, dan Larangan di Jawa
Mantan Gubernur Zaini Abdullah Meninggal di Banda Aceh
STPN Buka Penerimaan Taruna 2026/2027: 350 Kursi Disediakan
Warung Nasi Goreng Salatiga Viral karena Timun Utuh
Paket 'Stay & Play' Trans Hotel Bandung Liburan Sekolah
Kepala BGN Tolak Klaim MBG ke Presiden, Sebut Hoax
Brasil Siap Piala Dunia 2026, Ancelotti Meningkatkan Harapan
Transmart Full Day Sale 14 Juni, Diskon 50+20% Kartu Kredit
