Waisak 2570 BE: Dharmayana Kuta Pradaksina & Pelepasan
Gambar atau konten salah?
Hari Raya Waisak 2570 BE diperingati di Vihara Dharmayana Kuta pada 31 Mei 2026. Umat Buddha menggelar ritual pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi vihara tiga kali searah jarum jam.
Perayaan dimulai dengan pelepasan 50 ekor burung perkutut dan 500 ekor burung gereja. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk kebajikan dan pemberian kemerdekaan kepada makhluk hidup. “Melakukan kebajikan, memberikan kemerdekaan atau melepaskan makhluk‑makhluk dari ketakutan. Jadi kami simbolnya pakai burung. Kami cari burung yang sudah dijual, kemudian kami lepas,” ujar Pandita Buddha Vihara Dharmayana Kuta, Hendri Prasetya, Minggu (31/5/2026).
Setelah pelepasan, umat melaksanakan pradaksina. Mereka membawa lilin lima warna, dupa, permen, dan buah‑buah yang kemudian dipersembahkan di altar pemujaan. Selama prosesi, umat melantunkan Buddhanussati, Dhammanussati, dan Sanghanussati, perenungan terhadap Buddha, Dharma, dan Sangha. Ketiganya dikenal sebagai Tiratana atau Tri Ratna, yang berarti Tiga Mustika.
Jumlah umat yang mengikuti perayaan tahun ini disebut meningkat dibandingkan tahun lalu. Hal itu terlihat dari area vihara yang lebih penuh, termasuk gedung baru yang kini menjadi bagian dari jalur pradaksina. “Ya, banyak. Dibanding tahun lalu, ya. Karena kami punya gedung baru, jadi biasanya nggak lewat ke sana, sekarang lewat ke sana lagi, sudah penuh lagi nyambung,” jelasnya.
Puncak perayaan Waisak berlangsung pada pukul 16.44.45 Wita. Momen detik‑detik Waisak disambut dengan meditasi bersama yang berlangsung mulai pukul 16.30 hingga 18.00 Wita. Acara dipimpin oleh Pandita Hendri Prasetya, sementara Dhammadesana atau khotbah agama disampaikan oleh Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kementerian Agama Bali, Sihar. “Detik‑detik Waisaknya sekarang jatuh pada 16.44.45 Wita. Tadi udah langsung kita nyambutnya dengan meditasi, dan kemudian ada khotbah dari Pembimas Buddha dari Kemenag Bali,” imbuhnya.
Dalam ajaran Buddha, Hari Raya Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang diyakini terjadi pada bulan purnama Waisak: kelahiran Pangeran Siddhartha Gautama, pencapaian pencerahan sempurna menjadi Buddha, dan Parinibbana atau wafatnya Buddha. “Di hari Waisak ini kami kan menyambut kelahiran Bodhisatwa, jadi anak kecil lahir dia sudah calon Buddha. Kemudian dia berjuang menjadi Buddha, mencapai pencerahan, dan terakhir hari wafatnya juga Parinibbana namanya, dirayakan di purnama yang bulan Waisak sama,” jelasnya.
Perayaan Waisak diakhiri oleh penampilan anak‑anak Sekolah Minggu Buddha. Mereka menampilkan berbagai kemampuan yang dipelajari selama kegiatan keagamaan, seperti pembacaan paritta, pembacaan Dhammapada, hingga pertunjukan musik band.
Acara ini menegaskan kembali pentingnya tradisi dan kebersamaan umat Buddha di Bali. Peningkatan partisipasi dan penambahan fasilitas baru menunjukkan bahwa perayaan Waisak tetap menjadi momen penting bagi komunitas, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah